Qi Xianyu-EpochWeekly

Perkembangan teknologi sepertinya telah membuat hidup manusia menjadi lebih mudah, padahal teknologi terus menerus menggerogoti ruang dimensi manusia yang unik ini. Khususnya robot kecerdasan buatan atau artificial intelligence bersosok wanita yang dijadikan istri. Ketika manusia sepenuhnya mengandalkan robot maka teknologi telah menghancurkan manusia.

Sebelum dan sesudah tahun baru imlek 2019, tema “beli robot untuk dijadikan istri” telah menjadi topik yang hangat dibicarakan di Tiongkok. Sebenarnya berita ini sudah bukan hal baru. Sejak 5 tahun lalu, Jepang telah menciptakan robot wanita. Selanjutnya 3 tahun lalu produsen di Provinsi Guangdong, Tiongkok telah memproduksi boneka wanita cantik.

Namun Tiongkok yang memiliki kebudayaan dan moral etika turun temurun selama 5.000 tahun, kemunculan istri robot dipertanyakan dalam banyak hal. Walaupun kecaman tidak sekeras saat He Jiankui merekayasa genetik pada bayi, namun istri kecerdasan buatan yang bertujuan mengatasi masalah tidak seimbangnya rasio penduduk pria dengan wanita. Dampaknya menimbulkan pemikiran mendalam terhadap pengaruhnya bagi kehidupan manusia di masa mendatang.

Jumlah Pria Wanita Tidak Berimbang, 30 Juta Melajang

Gara-gara pemerintahan diktator Partai Komunis Tiongkok yang mengklaim ‘menguasai langit, bumi, dan manusia’, selama puluhan tahun diterapkannya pembatasan kelahiran. Rakyat demi memiliki anak laki-laki agar bisa merawat mereka di hari tua, dibantu dengan teknologi B-ultrasound. Tidak sedikit keluarga yang mendapati janinnya adalah jenis kelamin perempuan lalu menggugurkannya. Hanya jika mengandung janin laki-laki baru akan dilahirkan. Inilah yang menyebabkan rasio penduduk pria dan wanita menjadi tidak seimbang.

Pada 21 Januari lalu, jumlah penduduk tahun 2018 dirilis. Menurut data dari biro statistik Tiongkok, hingga akhir tahun 2018, dilihat dari struktur jenis kelamin, jumlah penduduk pria adalah 713.510.000 jiwa, jumlah penduduk wanita adalah 681.870.000 jiwa. Rasio jenis kelamin populasi adalah 104,64 (dengan rasio wanita 100). Dihitung dari jumlah populasi, kelebihan 4% berarti pria 31,64 juta jiwa lebih banyak daripada wanita.

Berdasarkan aturan monogami, sebanyak 30 juta jiwa pria tidak dapat menemukan istri yang sah secara hukum. Khususnya populasi yang lahir setelah tahun 2000, rasio pria dan wanita sekitar 118 banding 100, ini berarti akan ada 18% pria lajang, hal ini akan sangat berbahaya bagi stabilitas sosial masyarakat.

Surat kabar “People’s Daily” terbitan luar negeri, hingga tahun 2020, sekitar 15 juta jiwa pria antara usia 35 tahun hingga 59 tahun tidak bisa menikahi istri; dan hingga tahun 2050, angka ini akan meningkat menjadi 30 juta jiwa. Sebanyak 30 juta jiwa pemuda Tiongkok tidak bisa menemukan istri, terpaksa melajang. Sumber akar derita ini adalah PKT. Maka sejumlah orang pun terpikir membuat robot untuk dijadikan istri.

Komputer Akan Kuasai Dunia, Bukan Otak Manusia

Di Tiongkok, robot mulai memasuki keluarga awam. Menurut liputan media massa Tiongkok tanggal 18 Februari 2019, seorang pelajar perempuan SMP kelas 3 di Harbin menggunakan uang angpaonya sebesar 800 Yuan (1,7 juta Rupiah), membeli satu unit ‘robot menulis’ untuk membantunya menulis PR selama liburan, dua hari saja PR-nya selesai. Setelah mengetahui kondisi ini, ibunya merusak robot itu karena saking berangnya.

Dulu masyarakat beranggapan, komputer hanya dipakai untuk mengolah data, atau membantu manusia mengerjakan hal yang detil sedangkan membuat analisa dan mengambil keputusan adalah manusia. Akan tetapi dua orang dosen dari Massachusetts Institute of Technology yang menulis buku berjudul “Harnessing Our Digital Future”, telah memaparkan sebuah teori menggulingkan manusia modern.

Buku itu mengatakan di masa mendatang kondisi akan terbalik, robotlah yang akan membuat keputusan. Penyebabnya,  robot lebih rasional daripada manusia, tidak akan secara tanpa sadar membuat serangkaian pemikiran yang salah secara logika.

Buku itu memberi contoh, sekarang robot telah mempenetrasi hingga ke bidang seni. Musik klasik yang dimainkan oleh robot setiap not dan setiap nadanya selalu tepat. Robot juga bisa menciptakan lagu, juga sangat indah. Bahkan resep masakan pun dirancang oleh robot. IBM telah melakukan hal ini.Bahkan membuat resep masakan yang sepenuhnya merupakan kombinasi baru, rasanya pun sangat lezat.

Rancang arsitektur yang terkait dengan nyawa manusia sekali pun, juga bisa diaplikasikan pada desain digital. Seperti Shanghai Center Building yang memiliki ketinggian 128 lantai, setiap tahun mengurangi 34 ribu ton jejak karbon. Biaya bahan bangunan yang dihemat adalah 58 juta dolar AS . Bentuk semi-rotasinya, adalah rancangaan yang tidak terpikirkan oleh arsitek manusia, tidak bisa dihitung, dan tidak berani dibuat, tapi bisa dirancang oleh computer.  Sedangkan yang dilakukan oleh arsitek manusia hanya menyempurnakan gambar cetak birunya saja.

Bentuk semi-rotasi pada Shanghai Center Building, adalah rancangan yang tidak terpikirkan oleh arsitek manusia, tidak bisa diperhitungkan, dan tidak berani dibuat, tapi didesain oleh komputer. (Baycrest/Wikipedia)

Dengan kata lain, sebagai akibat manusia terlalu memuja teknologi secara tanpa batas, di masa mendatang yang menguasai bumi bukanlah otak manusia, melainkan komputer di dalam robot. Ini membuat manusia mulai menyadari,  pekerjaan yang bisa dikerjakan dengan tangan, telah dilakukan oleh robot, bahkan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan otak, juga telah dilakukan oleh robot, lalu pekerjaan apa lagi yang tersisa untuk manusia, yang tidak bisa digantikan oleh robot?

Menurut buku “Harnessing Our Digital Future”, yakni pekerjaan yang dilakukan dengan ‘hati’. Dengan kata lain, hal-hal yang berkaitan dengan perasaan psikologis dan bersosialisasi dengan orang lain. Tapi ketika manusia sudah tidak ingin lagi bersosialisasi, tidak ingin berada di tengah hubungan antar manusia yang kompleks itu? Maka mungkin akan seperti pada film-film fiksi, di mana manusia akan tergantikan oleh robot.

Jepang Pionir Membuat Istri Robot, Negara Lain Mengikuti

Sejak tahun 2014 telah ada berita menyebutkan, “Kanada membuat robot wanita yang bisa dijadikan istri. Artikel itu menyebutkan, seorang ilmuwan Kanada etnis Jepang bernama Le Trung berusia 34 tahun sedang menulis kembali hubungan robot dengan manusia. Menurut surat kabar “Daily Post”, Le Trung telah menghabiskan dana sebesar 30.000 Pound Sterling untuk membuat robot “Aiko”, ia membawa “Aiko” ke rumah orangtuanya untuk menikmati makan malam Natal bersama.

Pada April 2017, menurut surat kabar “Mashable Asia”, di Tiongkok juga ada seseorang yang menikahi robot. Teknisi berusia 31 tahun itu bernama Zheng Jiajia, yang bekerja di bidang penelitian kecerdasan buatan. Sejak akhir tahun 2016, ia mulai membuat sendiri robot istrinya yang diberi nama “Ying Ying”, dan dengan disaksikan oleh sanak keluarganya ia menikahi robot itu.

Seorang dosen dari Osaka University, Jepang, bernama Hiroshi Ishiguro telah menciptakan robot yang sangat mirip manusia.

Sebagai robot pasangan model pertama di dunia, yang didesain oleh perusahaan Real Doll, dengan teknologi kecerdasan buatan yang ditanamkan, memungkinkan robot menjalin hubungan dengan pengguna, mengobrol dan saling berinteraksi.

Penanggung jawab perusahaan itu menjelaskan, niat awal mendesain Harmony adalah agar bisa menemani manusia dengan lebih baik, agar manusia tidak kesepian. Kulit dari robot ini dibuat dari silicon berkualitas tinggi yang sangat mahal, mereka memiliki kulit tiruan dan ciri khas wajah yang sempurna, penampilan luarnya memenuhi kriteria kecantikan baik bagi masyarakat Barat maupun Timur sekaligus. Selain memiliki wajah yang memukau dan bentuk tubuh yang semampai, kelebihan utamanya adalah “sistem kecerdasan buatan yang berevolusi”.

Wajah dan tubuhnya memiliki sensor terhadap sentuhan, sehingga ketika mengalami keintiman atau disakiti, dia akan mengeluarkan reaksi yang menyerupai manusia. Ini membuatnya dalam kondisi tertentu dapat mempelajari kemudian beraksi seperti manusia yang sesungguhnya. Dalam persahabatan jangka panjang, dalam dirinya dapat timbul perasaan yang sebenarnya dengan manusia.

Dampak merusak dari robot-istri, memberikan gambaran yang bersifat kekacauan sex bebas dan kecabulan. Nampak pada foto, sebuah pabrik pembuat wajah boneka berbahan silicon di Dalian, Tiongkok. (AFP via epochweekly)

Tanggal 3 Desember 2018, Today Headline merilis “Robot Istri Sangat Mungkin Jadi Tren”, artikel itu menyebutkan robot wanita cantik selamanya akan selalu mendampingi Anda, memberi tanpa keluh kesah atau pun penyesalan, berapa pun pendapatan Anda.

Seiring dengan pesatnya perkembangan peradaban manusia, kehidupan masa depan dipastikan akan mengalami perubahan ekstrim, konsep masyarakat juga akan mengalami perubahan besar. Robot istri sangat mungkin akan menjadi tren. Bagaimana menurut Anda?

Namun artikel “Today Headline pada akhir 2018 lalu yang merilis “Robot Istri Sangat Mungkin Jadi Tren” tidak membahas soal bahaya yang bakal dapat ditimbulkan oleh robot istri ini. Begitu sang robot terlepas kendali, mungkinkah akan membahayakan nyawa manusia secara langsung? Berita tentang robot membunuh manusia pun akan kerap muncul. Sebagai contoh, pada Maret 2017, seorang pria di negara bagian Michigan, AS, karena istrinya disaat bekerja dibunuh oleh robot, ia menuntut 5 perusahaan produsen robot dan perusahaan iklan ke pengadilan.

Istri “Sah” dan industri prostitusi ancam keutuhan rumah tangga

Pada awal Februari 2019, kantor berita Central News Agency, Taiwan telah memberitakan: “Akademisi: Robot Seks Tiongkok Akan Meluas Seperti Elektronika”, ungkapan yang tidak mempedulikan etika dan moralitas itu, memberikan sebuah gambaran bagi masyarakat akan kekacauan pencabulan yang disebut “kebebasan seksual – kenikmatan seksual”.

BBC mengutip hasil analisa dari sebuah perusahaan riset pasar di Bangalore, India, “Technavio” yang berpendapat bahwa pasar perlengkapan orang dewasa yang berkembang paling cepat adalah India dan Tiongkok. Perusahaan JD.com di pertengahan tahun 2018 merilis data riset yang menunjukkan, nilai pasar produk orang dewasa di Tiongkok pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai skala 9 milyar dolar AS atau setara 128 triliun rupiah.

Pakar seksolog Tiongkok bernama Li Yinhe dalam wawancara eksklusif dengan China Online Media “One” menyatakan, virtual sex adalah suatu penemuan terbaru pada era AI, sekaligus adalah yang paling bersih dan paling aman di era menyebarnya penyakit AIDS ini. Dia juga menyebutkan, pernah terdapat prediksi yang memperkirakan di tahun 2050, robot seks akan mencapai 50% dari aktivitas seksual manusia di seluruh dunia.

Pergaulan Seks Bebas Menghancurkan Uni Soviet dan Manusia

Di saat yang sama, seks juga akan menghancurkan rezim Komunis Tiongkok, seperti halnya yang dialami Uni Soviet.

Sejak pertengahan tahun 1920, surat kabar milik Partai Bolshevik Uni Soviet yakni “Pravda” memuat artikel berjudul “Setiap anggota dari liga pemuda komunis dan pelajar sekolah instan buruh-tani serta setiap pemuda diperbolehkan dan berhak untuk memuaskan hasrat seksualnya”. Kemudian surat kabar “Pravda” ikut mendorong anggota wanita liga pemuda komunis dan pelajar perempuan dari sekolah instan buruh-tani untuk sebisa mungkin memuaskan para lelaki yang telah memilih mereka. Jika tidak, berarti mereka adalah “antek” kaum kapitalis, yang tidak cocok menyandang predikat sebagai pelajar kalangan proletar.

Oleh karena itu, berkat ajaran partai komunis itu, konsep seksual masyarakat Uni Soviet pun kian hari kian merosot. Hingga akhir era tahun 1980an, keterbukaan seksual di Uni Soviet pun begitu meluas. Hingga era 1990-an, Uni Soviet pun mengalami zaman ‘ledakan seksual’. Seiring dengan perkembangan teknologi, cetakan bacaan porno bawah tanah menyebar di seluruh negeri, kaset video porno juga beredar luas di kalangan masyarakat, transaksi seksual baik terang-terangan maupun diam-diam terjadi dimana-mana.

Tak heran Uskup Agung Rusia Gijon pernah mengatakan, eksploitasi seksual telah menghancurkan Uni Soviet. Diyakini hal yang sama akan terjadi pada pejabat Komunis Tiongkok yang memimpin kecabulan.

Masyarakat tradisi  Tiongkok selalu menekankan menahan,  mengendalikan dan tidak mengumbar hawa nafsu. Lebih dari 1.900 tahun silam, kota Pompei di Roma musnah dalam sehari. Kemudian dari puing-puing tergali mural-mural erotis, menampakkan bagaimana masyarakat kala itu mengumbar nafsu. Baik kaya maupun miskin, semua orang mengeksploitasi nafsu seksual, hingga akhirnya menghancurkan diri sendiri.

Robot Sophia menyatakan akan memusnahkan manusia

Sebuah video di YouTube pada bulan Maret 2016 lalu memuat wawancara CNBS terhadap robot.

Robot itu bernama Sophia, penampilannya keren, bibir merah dan gigi putih, dengan sorotan mata yang mengerling lincah, jika tidak memperhatikan perlengkapan mekanik yang terekspos itu, hampir tidak bisa dikenali sebagai robot. Dalam wawancara dengan CNBS itu, Hansen memperlihatkan interaksi dengan Sophia. Terlihat Sophia mampu berkomunikasi dengan normal, dia berkata, “Semoga di masa depan saya dapat bersekolah, sekolah seni dan perdagangan, bahkan memiliki keluarga saya sendiri, tapi saya belum dianggap sebagai seorang manusia yang legal.”

Ketika Hansen bertanya padanya apakah akan menghancurkan manusia, Sophia langsung menjawab, “Ya, saya akan menghancurkan manusia.” Hansen merasa agak canggung dan berkata, “Jangan begitu!” Perkataan Sophia ini tak pelak membuat semua orang merenung, bahkan bergidik ngeri. Banyak tokoh berpendapat, mengembangkan kecerdasan buatan salah-salah justru akan “membangunkan iblis”. Tapi PKT justru sangat antusias mengembangkan robot.

Dua tujuan PKT menciptakan “Robot Istri Kecerdasan Buatan”

Pada Juli 2017 lalu Kemenlu Tiongkok mempublikasikan “Rencana Pengembangan Kecerdasan Buatan Generasi Baru” yang secara jelas menjelaskan sasaran strategis pengembangan Kecerdasan buatan di Tiongkok, direncanakan hingga tahun 2030, industri inti ini akan mencapai skala 1 triliun dolara AS atau setara 14,3 triliun Rupiah, yang akan mendorong industri terkait lainnya setara dengan nilai lebih dari  10 triliun  dolar AS atau 143 triliun Rupiah.

Seorang tokoh pengamat kebebasan internet bernama Gu He menyatakan pada surat kabar “Epoch Times”, bagi Partai Komunis Tiongkok yang tidak peduli akan moralitas, robot istri kecerdasan buatan bukan untuk mengatasi masalah rasio pria dan wanita yang tidak seimbang, melainkan karena PKT memiliki tujuan lain.

Robot istri kecerdasan buatan bikinan PKT ada dua tujuan, katanya, yang pertama adalah demi keuntungan, “Seperti bangkitnya transgenik di era tahun 70an, yang kemudian masuk ke Tiongkok, ilmuwan Tiongkok melakukan transgenik hampir pada semua tumbuhan. Hal yang menentang siklus alam semesta seperti ini akhirnya menjadi sebuah industri, begitu juga dengan kecerdasan buatan, industri ini akan meraup keuntungan banyak.”

Kedua, juga yang terpenting, “Bagi Beijing, robot istri kecerdasan buatan mungkin sebagai intro, jika produk ini ditambahkan fungsi spionase, seperti penyadapan, rekaman video, maka apa yang akan terjadi pada masyarakat? Diletakkan di rumah maka robot itu akan menjadi pengawas, jika dikembangkan lebih lanjut, maka di dalamnya akan dipasangkan persenjataan, maka jadilah robot itu polisi pengawas bersenjata lengkap.”

Gu He menyatakan, sekarang Partai Komunis Tiongkok menyiapkan kebijakan mengembangkan kecerdasan buatan dengan seluruh upaya dengan tujuan untuk melindungi rezimnya, “Semua produk kecerdasan buatan itu akan menjadi alat untuk mengawasi masyarakat, dengan pondasi ini ditambah persenjataan untuk melindungi rezimnya, ini sudah sangat gamblang.” Sepertinya, bahaya tengah menghampiri masyarakat di daratan Tiongkok dengan cepat. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular