Pada malam 5 Februari 2019 lalu Presiden AS Donald Trump dalam pidato kenegaraan di hadapan DPR AS (Kongres AS) kembali menyebutkan kegagalan kebijakan sosialisme yang diterapkan di Venezuela. Trump bersumpah bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah menjadi negara sosialisme.

Amerika Serikat ibarat sebuah benteng kapitalisme yang disebut “pengecualian” oleh dunia Barat selama lebih dari setahun ini.  Mengapa dalam 2 tahun terakhir sang Presiden berulang kali memberikan pernyataam menolak sosialisme? Itu dikarenakan kekuatan sosialisme di Amerika Serikat telah berevolusi dari ketukan lembut menjadi gedoran palu.

Pidato kenegaraan Trump disambut hangat

Pidato kenegaraan Trump tahun 2019 sangat kaya akan konten. Topik utamanya adalah untuk menyatakan kinerja diplomatik dan dalam negeri di tahun lalu.  Salah satu paragraf tentang sosialisme adalah sebagai berikut:

”Kami berdiri bersama rakyat Venezuela dan mendukung pengejaran mulia mereka atas kebebasan, kami mengutuk kebrutalan rezim Maduro, mereka telah menerapkan kebijakan sosialisme di bekas negara terkaya Amerika Selatan itu yang telah berubah menjadi negara yang total miskin dan putus asa,” kata Trump.

“Di pihak Amerika Serikat sini yang membuat kita harus waspada adalah seruan untuk menerapkan sosialisme di negara kita,” ujar Trump.

“Landasan berdirinya Amerika Serikat adalah kebebasan dan kemerdekaan, bukan paksaan pemerintah yang mendominasi dan mengendalikan. Kita dilahirkan bebas dan kita akan tetap bebas. Malam ini, kami sekali lagi meneguhkan tekad kami dan selamanya tidak akan membiarkan Amerika Serikat menjadi sebuah negara sosialis,” tegasnya.

Berpidato sampai disini, semua anggota Republik dan sebagian anggota Demokrat di Kongres berdiri dan bertepuk tangan. Terdapat sangat banyak klik pujian yang berkaitan dengan video tersebut di internet.

Pidato belum usai, stiker untuk mobil yang berbunyi: “Kami dilahirkan bebas dan kami akan tetap bebas” laris manis di toko online.

Pidato kenegaraan yang sengaja ditunda oleh DPR AS  ini telah memicu respons positif yang sangat antusias dari warga Amerika karena membahas hal-hal konkrit.

Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh CNN, sekitar 76% responden menilai pidato itu positif. Survei CBS menunjukkan tingkat pengakuan yang lebih tinggi: 97% dari Partai Republik, 82% dari pemilih independen dan 30% dari Partai Demokrat.

Pidato kenegaraan menentang sosialisme hanya menegaskan kembali pendirian presiden. Pada awal Oktober tahun 2018, Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih (CEA) mengeluarkan laporan berjudul “Biaya Peluang Sosialisme (The Opportunity Costs of Socialism)”. Laporan ini menguraikan peluang kerugian biaya yang disebabkan oleh sosialisme terhadap ekonomi makro. Laporan  memperingatkan bahwa “sosialisme” dapat menimbulkan dampak negatif serius pada standar hidup dan anggaran federal, tetapi tanggapan masyarakat pada waktu itu tidak antusias.

Kinerja beberapa bulan terakhir dari para anggota parlemen pro-sosialisme partai Demokrat yang terpilih setelah pemilihan jangka menengah pada bulan November lalu telah membuat waspada masyarakat Amerika.

Bangkitnya kekuatan sosialisme Amerika

Ketika ”Revolusi Warna internal Partai Demokrat Amerika” dalam pemilihan presiden AS pada 2016, sosialis Bernie Sanders mendadak muncul. Dia meraup banyak suara pemilih kaum muda, sama dengan pemuda Eropa yang pada umumnya condong ke kiri. Pemikiran kaum muda Amerika juga cenderung ke kiri.

Pada November 2018, “Yayasan Korban Komunisme” dan perusahaan survei YouGov yang bermarkas di Washington merilis sebuah laporan survei dari 2.100 orang Amerika dari generasi berbeda, meminta mereka menjawab tanggapan tentang sosialisme dan komunisme. Hasilnya, 52% generasi milenial Amerika Serikat berharap tinggal di negara sosialis (46 %). Lebih banyak diantara mereka yang ingin tinggal di negara kapitalis (40%). Sejumlah kecil anak muda ingin hidup dalam masyarakat fasisme dan 6% anak muda menganggap komunisme adalah pilihan terbaik. Anak-anak generasi muda yang berkeyakinan pada sosialisme ini pada dasarnya terkonsentrasi di Partai Demokrat.

Pada 3 Juli 2018 “New York Times” menerbitkan sebuah artikel berjudul “Apakah Partai Demokrat sedang menjadi sosialis?” Menurut survei yang dikutip artikel,  diantara orang Demokrat yang berusia 18 – 34, sebanyak 61% yang bersikap positif tentang sosialisme, orang-orang ini berhaluan progresif ekstrim dalam Partai Demokrat.

 “Brand New Congress” yang dibentuk oleh para pendukung Sanders pada saat itu, para anggotanya memenangkan banyak suara di pertengahan pemilihan tahun 2018. Ada lebih dari 20 orang sosialis yang masuk ke dalam Kongres AS. Melalui publisitas berkelanjutan di media CNN, CBS dan New York Times, mereka tidak hanya tidak membiarkan sebagian besar orang Amerika merindukan sosialisme, tetapi sebaliknya malah menimbulkan kewaspadaan.

Bintang Baru Partai Demokrat Alexandria Ocasio-Cortez, disingkat AOC berada di 14 distrik pemilih di New York. Distrik ini berada suatu daerah yang terdiri dari kaum berpenghasilan rendah, pengungsi dan imigran illegal dan angka krimilitas tinggi.

AOC terpilih berkat usaha kerasnya mempromosikan agenda kebijakan sosialismenya, yakni: “Sebuah tatanan sosial yang manusiawi berdasarkan kontrol publik atas sumber daya dan produksi, perencanaan ekonomi, distribusi yang adil, feminisme, persamaan ras dan non-penindasan.”

Setelah AOC terpilih dia berusaha keras mempromosikan platform sosialisnya. Pertama dia mengusulkan anggaran sebesar 40 triliun dolar AS  sebagai rencana kehidupan gratis untuk seluruh rakyat (tahun fiskal AS 2017 pendapatan fiskal mencapai USD 3,25 triliun). Programnya ini memungkinkan Amerika Serikat segera mewujudkan sosialisme.  Selanjutnya rentang tempo 12 tahun polusi Emisi gas di AS akan diturunkan menjadi 0% dan Amerika Serikat akan menjadi satu-satunya negara di dunia yang tidak menggunakan bahan bakar minyak.

Pada 6 Januari lalu, saat menjadi narasumber pada acara “60 menit urusan saat ini” di Stasiun TV CBS, AOC mengatakan kepada pembawa acara bahwa akan mengenakan pajak tinggi pada orang-orang kaya Amerika.  Misalnya mengenakan pajak sebesar “60% – 70%” kepada mereka yang berpenghasilan tahunan lebih dari $ 10 juta. Pernyataan ini segera memicu diskusi di media AS. Para pendukung berpendapat bahwa ini memang dapat membawakan triliunan pendapatan fiskal untuk Amerika Serikat dan dapat digunakan untuk mendorong kemajuan sosial. Sebaliknya para penentangnya mengeluarkan suara cemoohan.

Perpecahan Internal Partai Demokrat

Beberapa tahun terakhir, Partai Demokrat AS menjadi semakin kurang peduli tentang membuat kue tart dan kepentingan kelas menengah kulit putih lokal dan kerah biru.  Mereka hanya peduli tentang membagi kue tart dan berkomitmen untuk globalisasi serta penerimaan tak terbatas imigran ilegal.

Tahun ini, partai ini memiliki lebih dari 10 kandidat untuk pemilihan umum 2020. Mereka menunjukkan identitas mereka dalam kampanye seperti keturunan campuran India dan Latin, keturunan Afrika. Lainnya “keunggulan gender” LGBT dan keunggulan idealis politik (Seperti Menyambut imigran gelap dan asuransi kesehatan universal). Setelah itu membiarkan lebih dari setengah pemilih partai ini tidak melihat harapan untuk memenangkan pemilihan 2020.

Menurut berita NBC yang dirilis pada 4 Februari lalu, dalam jajak pendapat terbaru dari pemilih Demokrat, ada 56%  pemilih Demokrat ingin memilih penantang yang dapat mengalahkan Trump sebagai kandidat presiden.

Pemilih Demokrat ingin meletakkan pandangan nilai-nilainya diurutan kedua. Hasil jajak pendapat juga menunjukkan ada 33% pemilih Demokrat percaya bahwa nilai pandangan harus menjadi prioritas bagi kandidat.  Sementara 10% lainnya berpendapat bahwa perlu memilih kandidat presiden yang memiliki nilai pandangan yang tepat dan dapat mengalahkan Trump.

Pada 4 Februari lalu, Pusat Penelitian Pew mensurvei masalah-masalah nasional yang paling diperhatikan oleh orang Amerika saat ini. Hasil survei menunjukkan, masalah ekonomi menduduki urutan pertama, 70% responden menyatakan bahwa masalah ekonomi seharusnya menjadi prioritas utama untuk diselesaikan oleh Presiden dan Kongres pada tahun ini.

Survei Penelitan Pew selanjutnya menunjukkan 40% responden berpendapat bahwa situasi ekonomi AS telah membaik setelah Presiden Trump berkuasa. Permasalahan publik berikutnya adalah pengeluaran asuransi kesehatan, pendidikan, anti-terorisme, jaminan sosial dan perawatan medis, lebih dari 67% masyarakat menyatakan bahwa beberapa masalah ini seharusnya diprioritaskan. Termasuk, hak-hak dan kepentingan imigran ilegal yang dipertahankan oleh Partai Demokrat dengan sekuat tenaga. Akan tetapi pada dasarnya tidak masuk menjadi urutan masalah yang diprioritaskan oleh sebagian besar masyarakat Amerika.

Banyak diantara donatur Partai Demokrat adalah perusahaan multinasional. Para CEO dari perusahaan-perusahaan ini sangat muak dengan usulan AOC yang hendak mengenakan pajak 70% kepada orang kaya untuk mencapai sosialisme.

CEO Dell Michael Dell secara terbuka menyatakan di Forum Davos tahun 2019 bahwa proposal untuk mengenakan pajak 70% kepada penghasil pendapatan tertinggi negara itu tidak akan membantu pertumbuhan ekonomi AS. Dia mengatakan bahwa dia bersedia untuk mendirikan sebuah yayasan dengan uang yang sama, “Saya merasa lebih efektif untuk mendistribusikan sendiri sumbangan ini daripada saya memberikan sejumlah uang yang sama kepada pemerintah.”

Konflik Konsep Antara Kepentingan AS Sendiri dan Globalisasi

Perbedaan filosofi antara Republikan dan orang demokrat Amerika Serikat sebenarnya adalah perbedaan antara nilai-nilai konservatif Amerika dan konsep globalisasi dari orang yang memproklamirkan diri sebagai “progresif”.

Partai Republik berharap bahwa kepentingan Amerika sendiri yang diprioritaskan dan ketika memiliki kekuatan lebih baru akan memenuhi kewajiban internasional.  Pemilih akar rumput Partai Demokrat sendiri kebanyakan adalah imigran dan imigran illegal. Oleh karena itu mereka bersikeras bahwa kepentingan orang miskin di negara lain harus diprioritaskan. Imbasnya, mengabaikan kepentingan nasional serta keamanan teritorial negara sendiri.

Saat ini, konflik antara kedua partai besar itu terutama tercermin dalam sikap terhadap imigran ilegal. Partai Republik menyambut imigran yang memasuki Amerika Serikat melalui jalur hukum karena mereka telah terdidik dan memiliki kemampuan untuk mandiri  serta memiliki dampak positif terhadap perkembangan Amerika Serikat.

Sementara Partai Demokrat berharap membuka lebar pintu negara untuk menyambut semua orang yang ingin datang ke Amerika Serikat, termasuk ratusan ribu anak di bawah umur yang dibawa masuk oleh kelompok penyelundupan manusia setiap tahunnya.

Menurut data tahun 2017 dari Asosiasi Reformasi Imigrasi Amerika (FAIR), beban keuangan untuk imigran ilegal di tahun itu mendekati 135 miliar dolar AS. Pada bulan Mei tahun 2016, think tank konservatif Washington “Pusat Penelitian Imigran” (CIS) menerbitkan laporan tentang biaya imigran.  Rata-rata setiap keluarga imigran menikmati lebih dari 6.000 dolar AS setiap tahunnya dari tunjangan federal, lebih tinggi 33% daripada tunjangan tunai yang dinikmati oleh keluarga miskin di Amerika Serikat sendiri, tunjangan Medicaid lebih tinggi 44%, subsidi pangan lebih tinggi 57% dan kesejahteraan perumahan kira-kira sama.

Sudah sejak awal tahun 2016, sebuah hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh A.T. Kearney dan NPD Group menunjukkan bahwa 61% responden berpendapat bahwa imigran yang terus mengalir akan membahayakan Amerika Serikat sendiri.

Tahun ini, konflik antara Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat AS yang dikendalikan oleh Partai Demokrat dalam biaya pembangunan tembok perbatasan dengan Meksiko, dan sebagian besar pemilih Amerika Serikat mendukung presiden.

Pada 6 Februari survei CBS menunjukkan bahwa ada 72% orang setuju bahwa pernyataan Trump dalam pidato kenegaraan yang menyebutkan bahwa pembangunan dinding perbatasan untuk mencegah imigrasi ilegal adalah “tanggung jawab moral”, hanya 28% orang yang menyatakan tidak setuju.

Komentator Jaringan berita Fox baru-baru ini mengkritisi: kepedulian Partai Demokrat terhadap imigran ilegal lebih tinggi daripada kepedulian mereka terhadap warga Amerika sendiri. Bahkan, lebih banyak orang yang mengkritik dengan sinis bahwa Partai Demokrat sudah menjadi Partai imigran illegal.

Saat ini, papan catur kepentingan AS nampak cukup kacau. Trump memperjuangkan kepentingan AS, sedangkan para eksekutif perusahaan multinasional hanya mempertimbangkan keuntungan pribadi mereka. Para pendukung Trump sebagian besar adalah nativist Amerika, perusahaan-perusahaan multinasional AS yang mendukung Partai Demokrat dan Media arus utama, semuanya adalah internasionalis yang teguh.

Sosok Trump mendukung pemotongan pajak untuk perusahaan, sedangkan faksi sosialis dalam Partai Demokrat yang didukung oleh perusahaan multinasional malahan akan mengenakan pajak besar pada mereka. Kini para politisi, cendekiawan dan media dari Partai Demokrat sudah tidak dapat memahami Amerika Serikat yang mereka bangun selama bertahun-tahun.Mereka menganggap bahwa ini adalah manifestasi dari orang Amerika yang tidak cukup “progresif”.

Faktor-faktor di atas adalah latar belakang sosial dari penegasan kembali Presiden Trump untuk menolak sosialisme dan mempertahankan prioritas Amerika Serikat.  (Lin/Whs/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular