Erabaru.net. Angka perkawinan di Tiongkok pada 2018 adalah 7,2 per 1.000 penduduk, yang mengalami penurunan terus-menerus dalam lima tahun terakhir, menurut data resmi yang baru-baru ini dipublikasikan.

Pada tanggal 19 Maret 2019, surat kabar milik pemerintah, 21st Century Business Herald melaporkan bahwa angka perkawinan di Tiongkok pada tahun 2018 mencapai angka terendah dalam dekade terakhir.

Meskipun angka perkawinan di Tiongkok baru-baru ini lebih tinggi daripada angka perkawinan di Amerika Serikat selama periode yang sama, angka perkawinan di Amerika Serikat telah meningkat secara bertahap dalam lima tahun terakhir, menurut data sensus Amerika Serikat.

Dari seluruh Tiongkok, Shanghai memiliki angka perkawinan terendah pada 2018, yaitu 4,4 per seribu.

Pada saat yang sama, menurut sebuah laporan yang dirilis oleh Departemen Urusan Sipil Tiongkok pada bulan Agustus 2018, angka perceraian di Tiongkok terus meningkat dalam tujuh tahun terakhir.

Angka perceraian di Tiongkok terus meningkat dari 2,0 per seribu pada tahun 2010 menjadi 3,2 pada tahun 2017.

Salah satu penyebab utama di balik tingginya angka perceraian adalah kecenderungan selingkuh, yang biasa terlihat di kalangan pejabat publik.

Pan Suiming, seorang profesor di Universitas Renmin, menerbitkan hasil survei pada bulan Mei 2018, yang menunjukkan bahwa Tiongkok memiliki proporsi terbesar dari orang yang selingkuh di luar nikah dibandingkan dengan negara lain.

Di Beijing dan Shanghai, ada kelas untuk melatih nyonya dan calon nyonya bagaimana menyempurnakan seni rayuan mereka.

Beijing News yang dikelola pemerintah Tiongkok sebelumnya melaporkan bahwa rata-rata lamanya sebuah perkawinan di Tiongkok adalah 9,59 tahun pada tahun 2010, yang lebih pendek 0,7 tahun dari lima tahun sebelumnya.

Mengapa lebih banyak orang Tiongkok memilih untuk tidak menikah? Corong Partai Komunis Tiongkok, People’s Daily, melakukan survei online terhadap 33.330 netizen yang masih lajang, dan menerbitkan hasilnya pada tanggal 20 Maret 2019.

Dalam survei tersebut, 29,5 persen responden mengatakan mereka “belum bertemu dengan pasangan yang cocok,” sementara 23,4 persen mengatakan mereka “tidak memiliki kemampuan untuk membangun sebuah keluarga.” Dari responden tersebut, 16,5 persen mengatakan mereka “menikmati hidup lajang,” 12,3 persen mengatakan mereka “tidak memiliki kehidupan yang stabil,” 8,8 persen mengatakan “beban pekerjaan terlalu banyak menyita pikiran untuk memikirkan suatu perkawinan,” dan 5,1 persen mengatakan “masih belajar di sekolah dan tidak berencana menikah sebelum lulus.”

Dalam budaya Tiongkok masa kini, pasangan muda merasakan tekanan untuk memiliki apartemen sebelum menikah. Namun, harga properti di  Tiongkok yang melonjak membuat pasangan muda semakin sulit untuk menyewa apartemen, apalagi memiliki apartemen.

Sementara itu, lowongan kerja masih sedikit, mendorong banyak pemuda untuk mengejar gelar pendidikan tinggi dengan harapan meningkatkan prospek pekerjaan mereka.

“Saya lulus dari Universitas Peking, universitas terbaik kedua di Tiongkok, tetapi saya masih menganggur,” keluh seorang sarjana muda media sosial baru-baru ini.

Para ahli seperti ekonom independen He Qinglian telah menjelaskan bahwa kemungkinan angka pengangguran Tiongkok akan jauh lebih tinggi daripada perkiraan pemerintah dan akan segera mencapai krisis. (Nicole Hai/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular