Erabaru.net. Pada 21 Maret 2019, Tiongkok mendesak Amerika Serikat untuk tidak mengizinkan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen singgah di Hawaii minggu depan saat ia melakukan kunjungan tur diplomatik sekutu di Pasifik.

Tsai Ing-wen mengatakan ia akan transit di Hawaii dalam perjalanan pulang dari kunjungan delapan hari ke Palau, Nauru dan Kepulauan Marshall, yang dimulai pada hari Kamis.

Tur Tsai Ing-wen dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara Taipei dan Beijing, yang telah meningkatkan tekanan diplomatik dan militer untuk menegaskan kedaulatannya atas Taiwan yang memiliki pemerintahan yang mandiri.

Taipei sedang berjuang untuk mencegah 17 sekutunya yang tersisa  mengalihkan kesetiaannya kepada Tiongkok, di mana hampir semuanya adalah negara kecil dan kurang berkembang di Amerika Tengah dan Pasifik, seperti Belize dan Nauru.

Tsai Ing-wen mengatakan dalam sebuah pernyataan sebelum memulai tur bahwa adalah tugasnya untuk mempromosikan Taiwan secara internasional.

“Membiarkan negara maju di jalan yang benar, dan membiarkan Taiwan terus bersinar di panggung dunia, adalah semua hal yang harus dilakukan sebagai presiden, dan saya akan berjuang untuk semuanya ini,” kata Tsai Ing-wen.

Taipei menuduh Beijing menawarkan paket bantuan dan pinjaman yang murah hati untuk memikat sekutunya beralih ke Tiongkok.

Tahun lalu, Tiongkok membujuk Republik Dominika, Burkina Faso dan El Salvador untuk menjalin hubungan dengan Beijing, yang disebut Tsai Ing-wen sebagai perilaku “semakin tak terkendali”.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang mengatakan Tiongkok telah mengajukan “perwakilan tegas” atas persinggahan yang direncanakan Tsai Ing-wen di Amerika Serikat.

“Kami secara konsisten dan tegas menentang Amerika Serikat atau negara lain yang memiliki hubungan diplomatik dengan Tiongkok yang mengatur transit semacam ini,” kata Geng Shuang kepada wartawan di Beijing.

Tiongkok memandang Taiwan hanya sebagai provinsi yang tidak patuh, tanpa hak untuk hubungan negara-ke-negara.

Amerika Serikat, seperti kebanyakan negara lain, tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taiwan tetapi merupakan pemasok senjata terbesar di pulau itu dan pendukung internasional paling kuat.

Tiongkok dan Amerika Serikat yang berusaha untuk mengakhiri perang dagang yang pahit, memiliki pandangan yang beda atas aktivitas Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan yang disengketakan, serta mengenai hak asasi manusia.

Pada bulan Januari 2019 di Beijing, pemimpin Tiongkok Xi Jinping mengatakan berhak untuk menggunakan kekuatan untuk membuat Taiwan di bawah kendalinya tetapi akan berusaha untuk mencapai “penyatuan kembali” yang damai, meskipun Taiwan yang demokratis tidak menunjukkan minat untuk dijalankan oleh Beijing.

Permusuhan Tiongkok terhadap Taiwan telah berkembang sejak pemilihan Tsai Ing-wen pada tahun 2016 karena Beijing khawatir Ing-wen berkeinginan mendesak kemerdekaan Taiwan secara resmi.

Tsai Ing-wen mengatakan ia ingin mempertahankan status quo, tetapi akan mempertahankan demokrasi Taiwan.

Pada tanggal 11 Maret 2019, Tsai Ing-wen mengadakan pertemuan keamanan nasional, di mana ia mendesak pemerintah Taiwan untuk melawan proposal “satu negara, dua sistem” yang digunakan Beijing untuk mendesak  “penyatuan kembali” dengan Taiwan.

Tsai Ing-wen meminta pejabat pemerintah untuk membuat langkah-langkah untuk “melawan” upaya baru Tiongkok untuk “mengganggu” dan untuk “menyerap” modal dan bakat Taiwan.

“Pihak berwenang Beijing terus memanfaatkan sistem demokrasi terbuka dan bebas Taiwan untuk mengganggu perkembangan politik, ekonomi dan sosial Taiwan, yang telah menjadi risiko terbesar di Taiwan,” kata Tsai Ing-wen dalam sebuah pernyataan. (Yimou Lee & Twinnie Siu/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular