Washington – Seorang pejabat militer Venezuela mengkonfirmasi bahwa seorang jenderal Rusia dan 100 tentara dikirim ke negara itu. Personil militer Rusia didatangkan sebagai bagian dari latihan strategi militer.

Laporan pada 24 Maret 2019 mengatakan bahwa jet penumpang Ilyushin IL-62 dan pesawat militer Antonov AN-124 tiba di bandara di Caracas. Seorang jurnalis lokal mengirim tweet foto-foto pesawat. Baik pejabat Rusia dan Venezuela belum mengeluarkan pernyataan tentang dua pesawat Rusia, ketika itu.

Menurut The Guardian, para pejabat Rusia ada di sana untuk membahas teknik pemeliharaan peralatan, pelatihan, dan strategi militer.

Seorang pejabat Rusia yang tidak disebutkan namanya dikutip mengatakan bahwa tidak ada hal yang misterius terkait kunjungan itu. “Akan salah untuk mengira bahwa ini adalah semacam pengerahan pasukan besar-besaran,” katanya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo menelepon Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov tentang keberadaan pesawat Kremlin di Caracas.

“Menlu mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Rusia Lavrov, bahwa Amerika Serikat dan negara-negara regional tidak akan berpangku tangan ketika Rusia memperburuk ketegangan di Venezuela. Masuknya personil militer Rusia untuk mendukung rezim tidak sah Nicolas Maduro di Venezuela, berisiko memperpanjang penderitaan rakyat Venezuela yang sangat mendukung Presiden sementara Juan Guaido,” Tulis Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataan tertulis pada 25 Maret 2019.

Pompeo, menurut rilis berita, juga meminta Moskow untuk menghentikan ‘perilaku tidak wajar’ dan bergabung dengan negara-negara lain, termasuk mayoritas negara-negara demokratis. Dia mengajak Rusia untuk bersama-sama mengusahakan masa depan yang lebih baik bagi rakyat Venezuela.

Beberapa bulan yang lalu, Rusia mengerahkan pesawat bomber strategis dan berkemampuan nuklir ke negara Amerika Latin sosialis itu. The Guardian juga mencatat bahwa ada spekulasi tentara bayaran Rusia dikirim ke Venezuela untuk melindungi Maduro di tengah seruan dari puluhan negara untuk mundur dari jabatannya.

Laporan itu muncul setelah pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi pada industri minyak Venezuela dalam upaya menekan Maduro agar mundur.

Negara itu, sementara ini, telah disiksa oleh pemadaman listrik, kekurangan air, kekurangan makanan, kerusuhan, dan penjarahan.

Guaido, yang menyatakan dirinya sebagai presiden sementara pada awal 2019, menerima dukungan dari Amerika Serikat dan lebih dari 50 negara demokratis. Termasuk sebagian besar Amerika Selatan.

Sementara Rusia dan Tiongkok, yang memberikan pinjaman miliaran dolar kepada Venezuela, pada dasarnya masih menopang Maduro. Pendukung Maduro terkenal lainnya termasuk Turki, Afrika Selatan, Iran, dan Kuba.

Selama akhir pekan, Maduro mengatakan akan ada perombakan dalam pemerintahannya setelah berbulan-bulan kekacauan.

“Saya akan mengumumkan beberapa metode mendatang dalam pemerintahan baru dan perubahan besar di seluruh pemerintahan Venezuela,” kata Maduro dalam pidato yang disiarkan melalui TV pemerintah, menurut Bloomberg News. “Kita perlu memperbarui diri, menyegarkan, meningkatkan, dan mengubah.”

Maduro juga meminta para pendukungnya untuk memobilisasi dan mempersenjatai diri, guna membela rezim sosialis Venezuela. Sementara itu, sanksi AS, tambahnya, tidak akan mampu memaksanya untuk ‘menyerah’ dan menanggalkan jabatan. (JACK PHILLIPS/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular