Teknologi baru memonitor siswa di dalam dan di luar sekolah

Erabaru.net. Sebuah sekolah menengah umum bergengsi di Guangzhou, ibu kota Provinsi Guangdong, Tiongkok, telah menimbulkan kontroversi dengan melacak siswa dengan gelang pintar.

Sekolah Menengah Umum Guangya, dianggap oleh penduduk setempat sebagai salah satu dari empat sekolah menengah umum negeri terkemuka di Guangzhou, pada awal Maret  2019 mengumumkan bahwa pihak sekolah  telah membeli 3.500 gelang pintar untuk dikenakan para siswa, untuk melacak informasi seperti lokasi mereka, kegiatan kelas, detak jantung, seperti serta data berjalan dan tidur.

Dokumen pengadaan yang beredar secara online menunjukkan bahwa sekolah tersebut telah menghabiskan 4,85 juta yuan (722.000 dolar Amerika Serikat) untuk proyek “kampus pintar”, di mana sebagian besar dialokasikan untuk gelang.

Menurut pengumuman dari pihak sekolah, gelang pintar mencatat kehadiran dengan memantau masuk dan keluarnya siswa di gedung sekolah. Di kelas, gelang pintar mencatat seberapa sering seorang siswa mengangkat tangannya.

Bahkan mengumpulkan data saat siswa berada di luar kelas, merekam keadaan tidur dan bangun para siswa. Mengenakan gelang adalah wajib, dan fungsinya terintegrasi dengan aplikasi telepon pintar yang dapat digunakan oleh guru dan orang tua untuk memantau siswa dan mengirimi mereka pesan.

Ratusan ‘Kampus Pintar’

Sebanyak 351 sekolah di Tiongkok berpartisipasi dalam proyek “kampus pintar” sebagai sekolah percontohan, menurut “Standar Kampus Digital untuk Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, Tahap Studi Kelayakan” yang dikeluarkan tahun lalu oleh Pusat Nasional Teknologi Pendidikan (NCET), sebuah divisi dari Kementerian Pendidikan Tiongkok, seperti dilansir Radio Free Asia.

Salah satu pemasok gelang pintar, Ruijie Networks, sebuah perusahaan teknologi tinggi di Fuzhou, Provinsi Fujian, mencatatkan kisah sukses di situs web perusahaan mengenai penerapan gelang pintar, di mana disebutkan sejumlah sekolah, termasuk SMA Zhenguang di Guangzhou dan Sekolah Dasar Pertama Kota Nangong di Provinsi Hebei.

Pada Desember 2018, siswa di lebih dari sepuluh sekolah di provinsi Guizhou dan Guangxi diharuskan mengenakan seragam yang ditingkatkan untuk melacak pergerakan dan kehadiran mereka di sekolah, juga sebagai bagian dari proyek “kampus pintar.”

Radio Free Asia menghubungi SMA Zhenguang melalui telepon. Staf sekolah menolak untuk diwawancarai dengan mengatakan bahwa mereka membutuhkan persetujuan dari Departemen Pendidikan setempat sebelum berbicara dengan wartawan.

Pengenalan gelang pintar dan kampus pintar adalah bagian dari upaya peningkatan Partai Komunis Tiongkok untuk mengawasi populasi dengan menggunakan metode teknologi tinggi. Rezim Partai Komunis Tiongkok sedang membangun file yang rumit pada warga Tiongkok dengan melacak dan merekam data pribadi mereka, dari pandangan politik hingga rincian medis seperti golongan darah dan urutan DNA.

“Ketika mereka memantau orang-orang dengan cara ini, maka hal ini sangat  erat hubungannya dengan pelanggaran terhadap prinsip dasar hak asasi manusia. Siswa harus menikmati hak privasi [untuk data seperti] detak jantung dan kondisi kesehatan mereka, tetapi saat ini Tiongkok tidak memiliki undang-undang privasi seperti itu,” Wang Songlian, seorang peneliti senior di Divisi Asia Human Rights Watch, mengatakan kepada Radio Free Asia.

Menurut Guangzhou Daily, survei online dilakukan mengenai penggunaan gelang pintar di sekolah. Opini terbagi, dengan sekitar setengah dari responden merasa bahwa sudah keterlaluan.

“Setiap langkah dipantau. Bahkan tahanan tidak diperlakukan seperti ini,” tulis seorang responden.

Responden yang lain bertanya-tanya apakah biaya besar yang terkait dengan program ini terkait dengan kepentingan korup. “Ini mungkin tentang menghasilkan uang. Ketika itu melibatkan pembelian dari vendor luar, keuntungan [terlarang] dapat dibuat.”

Netizen berkomentar mengenai pengenalan gelang pintar dan sistem pemantauan lainnya dan menyatakan keprihatinan bahwa siswa akan menderita stres dan kecemasan karena terus-menerus diawasi setiap saat.

“Ini seperti pemain yang menghadapi sekelompok audiens. Dalam hal ini, hadirin adalah hadir setiap saat. Pelaku akan kelelahan, ” kata satu komentar. “[Privasi] siswa perlu dihormati.” (Olivia Li, Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular