Erabaru.net. Sebelumnya aku tidak percaya adanya hantu. Ketika berjalan di malam hari atau hal-hal lain yang membuat perasaan takut, aku selalu menghibur diri untuk menguatkan nyali : Mana ada hantu sih, hanya mereka yang percaya takhayul, menakut-nakuti diri sendiri saja dan sebagainya.

Sampai saat, ibuku meninggal karena kanker, usiaku saat itu 28 tahun. Malam itu tepat 7 hari meninggalnya ibu, aku tidur di sofa di ruang tamu. Sementara ayah, karena kurang sehat sejak merawat ibu semasa sakit, jadi aku memintanya untuk membiarkan pintu kamarnya dalam keadaan terbuka saat dia tidur.

Karena akan lebih memudahkan aku jika terjadi sesuatu pada ayah. Di samping tempat tidurnya aku siapkan obat untuk penyakit jantung. Karena musim dingin, ruangan dalam rumah agak dingin. Aku memakai dua lapis selimut dan tertidur.

Dan malam itu aku bermimpi melihat ibu dan seorang wanita masuk ke rumah. Sebelumnya aku belum pernah mimpi tentang ibu. Dalam mimpiku, aku melihat dengan jelas pintu dalam keadaan tertutup. Mereka langsung duduk di sofa tempat aku tidur. Bayangkan aku yang tingginya 1,7 meter, sementara sofa yang kecil itu sudah tidak ada ruang yang kosong. aku melihat mereka berdua duduk di bagian lututku.

Setelah mereka duduk, perasaanku seketika bergidik takut dan berkata seakan berbisik,: “Bu, kenapa ibu ada di sini.” Wanita di sebelah ibu tersenyum dan berkata kepadaku, : “Ibumu, pulang ke rumah ingin melihatmu.”

Aku ikut tersenyum, dan tidak merasa takut lagi. Lalu, aku melihat ibuku menyingkap selimutku dan tersenyum sambil berkata, : ”Dingin ya, kok pakai dua lapis selimut” Ekspresi dan nada bicara itu sama persis dengan ibu seperti biasanya. Tiba-tiba aku teringat ayah yang masih tidur di kamarnya, lalu saya berkata pada ibu,: “Bu, jangan menemui ayah ya.”

“Ibu kan tahu sendiri ayah penakut, jangan membuatnya terkejut. Demi menyembuhkan ibu, ayah telah berusaha yang terbaik. Tapi penyakit ibu terlalu berat, sehingga ayah juga tak berdaya, harap ibu memakluminya.”

“Ibu tahu, ibu tahu semuanya,” kata ibuku sambil melirik sekilas kamar tempat tidur ayah.

Lalu, aku melihat ibu memegang mangkuk dan sumpit yang dia gunakan selama sakit, ibu masih duduk di sana dan saya melihatnya minum sup. Meskipun, dalam posisi berbaring, tetapi aku tahu persis ibu sedang minum sup mie.

Sambil minum, dia berkata kepadaku : “Kamu harus lebih memperhatikan segala sesuatu di rumah, jangan seperti dulu, apa pun tidak peduli.”

“Ya bu, aku tahu,” sahutku.

Ibu berkata lagi : “Ada satu kantong berwarna hijau di rumah. coba kamu cari sampai ketemu.”

“Kantong yang mana, untuk apa kantong itu, bu?” Sahutku balik bertanya.

Ibu hanya diam tidak menjawab, lalu berkata,: “Sebaiknya kamu cari sampai ketemu.”

Aku hanya mengiyakan.

Kemudian, ketika aku melihat jendela, langit tampak cerah, dan aku berkata pada ibu, : “Bu, sudah pagi, ibu belum pergi juga?”

“Ya ibu pergi sekarang,” katanya.

Lalu, saya terbangun dan melihat ponselku, baru jam setengah tiga pagi.

Lalu saya melihat ke jendela, suasananya tampak hening dan gelap.

Selanjutnya, aku duduk dan merenung apa yang barusan dikatakan ibu, dan karena takut lupa, jadi aku tidak tidur lagi sampai pagi.

Pagi itu, aku menceritakan kepada ayah tentang kejadian yang aku alami semalam, dan ayah sama sekali tidak tahu apa-apa.

Sekitar jam 6 pagi, kakakku memanaskan sup mie sisa kemarin sebelum berangkat kerja. Saat minum sup, dia berkata,: “Aneh, sup ini kok rasanya hambar ?”

Adapun mengenai kantong hijau seperti yang ibu ceritakan dalam mimpi itu juga sudah kami temukan.

Di dalam kantong itu ada kartu gaji pensiun ayah. Setelah pemakaman ibu, kami memang terus mencari kartu ini dan tidak pernah ditemukan. Saat itu, ayah bilang akan membuat kartu yang baru, tapi sekarang sudah ditemukan.

Sejak itu aku tidak pernah bermimpi tentang ibu lagi. Sampai tiga bulan kemudian, saat itu aku sudah tidak berada di rumah, karena sudah bekerja di luar daerah.

Tapi setiap saat teringat ibu, aku selalu tak kuasa menahan tangis.

Suatu malam ketika sedang tidur, lagi-lagi aku teringat ibu, lalu aku menangis sebentar. Akibatnya aku bermimpi, ibu duduk di ujung tempat tidurku, di menoleh dan berkata padaku,: “Sudahlah jangan menangis lagi, kalau kamu menangis, air mata ibu juga ikut berlinang di sana.”

Selanjutnya sampai sekarang, aku tidak pernah bermimpi tentang ibu lagi.

Maksud diceritakannya peristiwa ini, agar teman-teman percaya bahwa hal-hal yang tidak terlihat itu memang benar-benar ada. Karena itu jugalah saya percaya pada sebab-akibat dan reinkarnasi.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular