oleh Wu Xin

Erabaru.net. Penguasa Komunis Tiongkok sedang membangun negara ala Orwellian yang mengendalikan rakyatnya melalui teknologi tinggi. Provinsi Xinjiang telah dijadikan sebagai laboratorium besar sasaran uji coba. 

Sebenarnya, banyak perusahaan Amerika Serikat yang secara tidak sadar telah dimanfaatkan oleh komunis Tiongkok. Kini perusahaan-perusahaan tersebut mulai membuat aturan untuk mencegah penyelahgunaan ini.

Jurnal Politik AS yang cukup terkenal ‘Foreign Policy’ baru-baru ini melaporkan bahwa seorang peneliti cybersecurity dari Belanda pada bulan lalu berhasil membongkar polah komunis Tiongkok. Peneliti ini mengungkapkan bahwa perusahaan cybersecurity Tiongkok SenseNets telah meninggalkan database pengenalan wajah berkapasitas besar pada jaringan yang tidak aman.

Terungkap, perusahaan cybersecurity Tiongkok ini ternyata bertujuan melacak kondisi pribadi dari lebih 2,5 juta penduduk di Propinsi Xinjiang, Tiongkok. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa pemantauan penduduk oleh pihak berwenang komunis Tiongkok telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

©Shutterstock | MONOPOLY919

Komentar ‘Foreign Policy’ menyebutkan bahwa fenomena ‘SenseNets’ hanyalah bagian kecil dari puncak gunung es. Entah disengaja atau tidak, perusahaan teknologi AS ternyata memberikan keahlian dan teknologi kepada perusahaan pemantau yang ditunjuk komunis Tiongkok.

Membangun Negara ala Orwellian untuk Memantau Rakyat

 “Big Brother is Watching You” adalah kalimat dalam novel berjudul Nineteen Eighty-Four atau 1984’ karya penulis Inggris, George Orwell.

Buku ini  menulis tentang sebuah negara rezim totalitarian yang dikendalikan oleh partai Ingsoc. Rakyat di negara tersebut selalu diingatkan dengan slogan “Big Brother sedang mengawasimu” di layar. Termaktub, rezim ini mengamati setiap tingkah laku warganegaranya sampai tidak ada satu pun tempat yang bisa lolos dari pemantauan termasuk ketika berada di kamar tidur sendiri.

Istilah ‘Big Brother’ telah masuk ke dalam kosa kata modern sebagai sinonim untuk penyalahgunaan wewenang pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kebebasan sipil dan pengintaian massal.

Sayangnya, deskripsi seperti itu sudah bukan kata-kata yang ada dalam novel Orwell. Tetapi sudah menjadi fakta bahwa komunis Tiongkok sekarang adalah negara ala Orwellian.

Bagaimana cara pengawasannya? database pengenalan wajah yang tersedia untuk umum menunjukkan bahwa ‘SenseNets’ dapat secara akurat merekam koordinat GPS selama 24 jam. Tekonologi ini menggunakan  pengenalan wajah untuk menghubungkan data ke informasi pribadi yang sensitif, termasuk nomor ID kewarganegaraan seseorang, alamat rumah, foto pribadi, dan lokasi kerja. Hampir sepertiga dari orang yang dilacak adalah warga etnis Uighur.

©Shutterstock | Zapp2Photo

Di bawah cara berpikir logis yang aneh di mana satu sisi menganggap pemantauan sebagai perhatian utama tetapi di sisi lain pengamanannya tidak dijaga. Database ‘SenseNets’ baru dilaporkan setelah selama 6 bulan dipublikasikan di internet. Peneliti yang menemukannya mengatakan bahwa anak berusia 12 tahun pun dapat merusaknya.

Temuan ini menunjukkan bahwa ‘SenseNets’ adalah salah satu dari banyak perusahaan Tiongkok yang terlibat dalam pembangunan negara polisi totaliterisme teknis. Sejak awal tahun 2017, sebanyak 2 juta orang warga etnis Uighur Xinjiang telah dijebloskan ke “kamp pendidikan ulang.”

Laporan saksi mata dari dalam kamp konsetrasi menggambarkan kondisi kehidupan yang keras, penyiksaan dan indoktrinasi politik terjadi terus-menerus di kamp. Tujuan mereka tak lain adalah untuk memaksa warga Muslim Uighur meninggalkan keyakinan mereka. Pengenalan wajah, kecerdasan buatan, dan pemantauan lewat suara memungkinkan komunis Tiongkok untuk “menyeragamkan” penduduk etnis Uighur dan meningkatkan kemampuan ini.

Orang-orang Uighur dapat dikirim ke kamp-kamp pendidikan ulang meskipun karena melakukan suatu kesalahan yang tidak berarti. Mereka sejatinya adalah Muslim yang taat. 

Lebih dari 1 juta warga Uighur dan warga minoritas lainnya dipenjara di Kamp Penataran, foto adalah para etnis Uighur yang dipenjara. (microblog administrasi yudisial Xinjiang)

Komunis Tiongkok memonitor masyarakat melalui elektronik dan aktivitas fisik di dunia nyata. Penjara modern ini membutuhkan banyak tenaga kerja, tetapi merupakan tempat uji coba bagi pengembangan teknologi pengawasan. Eksperimen semacam itu dapat membuat proses pemantauan ini lebih murah dan lebih efisien.

Komunis Tiongkok Menyalahgunakan Teknologi Baru

Untuk mencapai tujuan ini, Komunis Tiongkok menggunakan ekosistem teknologi Tiongkok. Pemerintah ini mengundang perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk berpartisipasi dalam proyek pengadaan pemerintah.

Mereka yang terlibat terdiri perusahaan konstruksi kamp pendidikan ulang, perusahaan penyedia perangkat lunak untuk pengawasan online Uighur, dan perusahaan penyedia kamera untuk memantau pergerakan manusia.

Meskipun perusahaan-perusahaan tersebut berbasis di Tiongkok, tetapi banyak perusahaan itu  memiliki basis di komunitas ilmiah internasional. Apa yang dilakukan oleh perusahaan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang penyalahgunaan teknologi baru.

Pada bulan Februari 2018, Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengumumkan kolaborasi penelitian yang luas dengan perusahaan raksasa kecerdasan buatan Tiongkok dan pemimpin pengenalan wajah global ‘SenseTime’.

‘SenseTime’ pada saat itu memegang 49% saham dari ‘SenseNets’ dan memiliki tim teknis yang kuat. ‘Netposa’ yang menjadi perusahaan induk dari ‘SenseNets’, memiliki kantor di Silicon Valley dan Boston.

Pada tahun 2010, ‘Netpower’ menerima dana investasi strategis dari perusahaan Intel dan berinvestasi dalam robot Amerika : Bito, Perusahaan ini dipimpin oleh Carnegie Mellon University dan para peneliti Exyn.

Exyn adalah perusahaan perangkat lunak drone yang bersaing dalam kompetisi kecerdasan buatan Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) atau Badan Proyek Riset Lanjut Pertahanan AS. 

Keterkaitan yang luas ini menimbulkan masalah keamanan nasional AS tentang etika dan teknologi penggunaan ganda. Teknologi penggunaan ganda mengacu pada teknologi yang dapat digunakan untuk tujuan sipil dan militer. Meski demikian, harus tunduk pada kontrol yang lebih ketat.

Tenaga nuklir dan GPS adalah contoh umum. Tetapi teknologi baru seperti pengenalan wajah, augmented reality dan realitas virtual, 5G dan komputasi kuantum mulai meningkatkan kekhawatiran tentang penerapan ganda mereka.

Selain ‘SenseNets’, ‘iFlytek’, pemimpin pengenalan melalui bahasa Mandarin, juga dapat menyediakan perangkat lunak untuk memantau komunikasi elektronik di Xinjiang.

Human Rights Watch menemukan berita yang secara khusus dipublikasikan ‘iFlytek’ pada tahun 2013 yang isinya menggembar-gemborkan kepraktisan fungsi perangkat lunak mereka dalam mengawasi opini publik.

Meskipun demikian, seperti Teknologi ‘SenseTime’, ‘iFlytek’ baru-baru ini juga menjalin kemitraan penelitian dengan MIT dalam beberapa tahun. Kemitraan ini dapat digunakan sebagai kedok untuk kegiatan merusak kebebasan di luar negeri.

Perusahaan AS Perlu Waspada Menentukan Mitra

Kekhawatiran terjadi ketika rincian kerja sama teknis dan penelitian dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok  menjadi tidak transparan bagi mitra internasional. Ketika ahli genetika Universitas Yale, Kenneth Kidd berbagi sampel DNA untuk seorang kolega ilmiah dari Institut Ilmu Forensik Kementerian Keamanan Publik Tiongkok, ia tidak tahu bahwa sampel itu di kemudian hari digunakan untuk meningkatkan teknologi pemantauan lewat genetik di Xinjiang.

Thermo Fisher, sebuah perusahaan yang berbasis di Massachusetts ternyata ikut terlibat. Hingga bulan lalu, perusahaan ini menjual instrumen pengurutan DNA untuk pemetaan genetik langsung kepada otoritas Xinjiang.

Pada 20 Februari lalu, Thermo Fisher memutuskan untuk berhenti menjual peralatan pengurutan genetiknya ke Xinjiang. Perusahaan ini mengatakan bahwa keputusan untuk berhenti menjual sejalan dengan nilai-nila etika dan kebijakan perusahaan. Perusahaan juga  menekankan pengakuan tentang pentingnya mempertimbangkan bagaimana produknya digunakan oleh pelanggan.

Laporan ‘Foreign Policy’ menyebutkan bahwa perusahaan dan institusi Barat harus lebih teliti dalam memantau bagaimana mitra Tiongkok menggunakan produk mereka, terutama yang berkaitan dengan teknologi baru.

Industri pengenalan wajah adalah titik awal yang baik bagi industri menetapkan standar global untuk aplikasi yang legal. Industri ini harus mematuhi penggunaan yang menghormati hak asasi manusia dan sesuai hukum.

Di Amerika Serikat, Microsoft telah mengumpulkan karyawan, pelanggan, pejabat pemerintah, akademisi, dan kelompok masyarakat sipil untuk mengembangkan “prinsip pengenalan wajah”. Microsoft siap meluncurkannya secara resmi.

Sejatinya ketika merumuskan peraturan, prinsip-prinsip keadilan, transparansi, akuntabilitas, non-diskriminasi, pemberitahuan dan identifikasi, dan pengawasan hukum adalah prinsip-prinsip yang baik untuk diterapkan. Anehnya, ‘SenseNet’ telah mendaftarkan Microsoft sebagai mitranya di situs webnya sendiri, bersama dengan pembuat chip AS AMD dan penyedia komputasi berperforma tinggi Amax.

Dari kasus ‘SenseNet’ sebagai contoh, beberapa perusahaan mungkin berusaha untuk membangun kredibilitas, atau berusaha untuk bekerja sama dengan perusahaan teknologi AS. Ada juga yang berharap untuk membangun hubungan bisnis yang benar. Perusahaan-perusahaan ini akan membuat pernyataan palsu tentang kemitraan.

 Juru bicara Microsoft kepada ‘Foreigh Policy’ mengatakan pihaknya belum menemukan bukti bahwa Microsoft terlibat dalam kerja sama dengan SenseNet. “Kami akan menghubungi ‘SenseNet’ untuk melacak masalah tersebut dan meminta mereka menghentikan tindakan mewakili kita secara illegal,” katanya.

Komentar di ‘Foreign Policy’ menyebutkan, jika kemitraan ini memang benar ada, maka mereka akan melanggar semua 6 prinsip Microsoft.

Amax perusahaan berbasis di California yang mengkhususkan diri dalam desain aplikasi pembelajaran dalam komputasi kinerja tinggi, telah menjalin kemitraan dengan perusahaan BUMN Tiongkok ‘Hikvision’, AMD juga terlibat dalam usaha patungan dengan Tiongkok yang menawarkan teknologi prosesor x86. (sin/asr)

BACA JUGA : Horor Kecanggihan Teknologi yang Menggiring Komunis Tiongkok Jadi Kediktatoran Distopia Digital

BACA JUGA : Semua Foto-foto, Percakapan Anda dan Segala Sesuatu — Bisa Diketahui Partai Komunis Tiongkok

BACA JUGA : Terungkap Rincian Komunis Tiongkok Memperkuat Pengawasan Terhadap Jaringan Internet

Share

Video Popular