Erabaru.net. Wang seorang warga desa adalah seorang petani. Dia yang berpendidikan rendah ini hanya bisa mencari nafkah dengan menggarap beberapa petak sawah di rumah. Dia bisa mendapat sedikit keuntungan saat panen melimpah, namun, begitu menghadapi bencana alam, sebutir padi pun tidak bisa dipetiknya alias gagal total.

Agar keluarganya bisa hidup lebih baik, Wang memutuskan untuk bekerja di kota, tetapi bukan di kota besar yang jauh seperti kebanyakan penduduk desa, ia mencari pekerjaan di sekitar daerahnya yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, karena ia tidak ingin meninggalkan keluarganya di rumah, khawatir nanti anaknya sendiri tidak mengenalnya lagi.

Wang kemudian pergi ke kota kabupaten mencari pekerjaan bersama dengan beberapa tetangga yang memiliki tujuan yang sama.

Sebenarnya di kota kabupaten juga tidak terlalu banyak kesempatan kerja. Mereka hanya bisa mencari kerja di pabrik skala kecil. Akhirnya, Wang dan beberapa tetangganya bekerja di sebuah pabrik batu bata.

Meski pabrik batu bata itu kecil, tapi usaha ini sangat menguntungkan ketika itu. Wang bekerja dari pagi sampai malam. Pada saat itu, bos pemilik pabrik untung banyak. Setiap saat gajian, bos membangikan upah mereka secara tunai di tempat.

Bos mereka ternyata sangat royal, sangat baik terhadap semua karyawannya. Lagi pula, sesama tetangga penduduk desa, jadi upah yang diberikan juga tidak lebih rendah daripada gaji di kota.

Pada paruh pertama tahun lalu bos menginvestasikan lebih dari Rp 200 juta dan meraup keuntungan ratusan juta jadi bos memutuskan untuk memperluas pabrik.

Bos tidak hanya menginvestasikan semua kentungannya, tetapi juga meminjam Rp 200 juta tambahan. Namun, tidak ada industri apa pun yang selalu lancar sepanjang tahun.

Pesanan pada paruh kedua tahun ini tiba-tiba menurun drastis. Setelah bos melunasi sejumlah besar pinjaman, Pabrik pun mengalami krisis keuangan, tidak ada uang pemasukan lagi dari pabrik.

Kemudian bos berdiskusi dengan karyawannya, menunda dulu upah karyawan, nanti baru dibayar sekaligus setelah kondisi membaik. Rata-rata karyawan bisa memaklumi kondisi pabrik, akhirnya Wang dan para pekerja setuju.

Tetapi sampai akhir tahun, kinerja pabrik tidak membaik juga, bos juga kehilangan semua uang yang diinvestasikan, dan akhirnya tidak dapat membayar gaji karyawan lagi.

Wang dan para pekerja kemudian menemui bos untuk membahas solusinya, tetapi bos benar-benar tidak ada uang lagi. Hingga akhirnya bos yang cemas kemudian berkata terus terang kepada Wang dan pekerja lainnya, “Saya benar-benar tidak punya uang tunai lagi sekarang, jika kalian mau, ambil saja 1 juta buah batu bata di pabrik. Mendengar kata bosnya, Wang pun tercengang seketika, meski batu bata itu bisa dijual, tapi itu bukanlah uang.

Wang dan rekan-rekan sekerjanya juga tahu bos mereka memang benar-benar tidak punya uang lagi. Akhirnya mereka mencari solusinya bersama-sama, sementara perayaan Tahun Baru Imlek semakin dekat.

Wang kemudian menghubungi pemerintah daerah setempat dan menceritakan tentang kondisi yang mereka hadapi kepala pimpinan pemda setempat. Dan tak disangka, berkat bantuan pemda setempat, 1 juta batu bata di pabrik pun terjual.

Walaupun harganya sedikit lebih rendah dari harga pasar, tapi masih ada sisa setelah dipotong gaji para pekerja, Dan sebagai ucapan terima kasih kepada pemda setempat, Wang dan para pekerja secara khusus memberikan sebuah panji kepada pemda setempat.

Sementara itu, bos pabrik tercengang ketika Wang mengembalikan sisa uang hasil penjualan batu bata itu kepadanya. Dia tidak menyangka Wang dapat menyelesaikan masalah yang menghimpitnya, bahkan mengembalikan sisa uang kepadanya.

Sampai di sini, bos pabrik itu pun tak bisa membendung linangan air mata harunya atas perhatian dan kepedulian Wang dan pekerja lainnya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular