Erabaru.net. Hubungan antar personal, bisa dilihat dari wataknya untuk jalinan persahabatan singkat, karena itu harus bersabar untuk mengetahui watak aslinya. Untuk jalinan persahabatan jangka panjang bisa dilihat dari karakternya, jika cocok bisa dijadikan teman. Untuk menjalin persahabatan abadi harus dilihat dari kualitas kepribadiannya (sikap, tingkah laku), jika kualitas kepribadiannya baik baru bisa dijadikan sahabat sejati.

1. Perubahan wajah (ekspresi)

Suatu hari, saya bertamu ke rumah seorang teman (wanita). Di rumahnya ada seorang pembantu yang sudah cukup tua, dan sedikit cacat secara fisik.

Saya duduk di ruang tamu sambil minum teh, saya melihat bayangannya yang tampak sibuk berjalan keluar masuk dapur dan ruang tamu. Ini adalah pertama kalinya saya bertamu di rumahnya, dan untuk pertama kalinya juga saya meninggalkan acara sosial saya untuk menemuinya.

Saat mengobrol dengan saya, dia terus memberi perintah ini itu pada pembantunya, pembantunya tampak sibuk sana sini dengan patuh dan ketakutan.

Saat pamit, tiba-tiba terdengar suara piring pecah – saya melihat pemandangan lain dan suara keras lainnya – saya melihat teman saya duduk di depan meja makan sambil marah pada pembantu itu. Hanya karena permukaan di rak susun peralatan makan basah oleh buah-buahan, pembantu itu tidak mencuci dengan pasta gigi seperti yang dia katakan.

Akhirnya saya melihat ekspresinya yang lain, ekspresinya itu tampak asing dan mengerikan. Dia menatap pembantunya yang tampak ketakutan sambil berkata dengan lantang : “Apa perlu saya ulangi? Mejanya masih kotor, bersihkan dan lap lagi dengan pasta gigi tiga kali! Lap sampai bayangan kamu terlihat, ngerti !”

Dengan takut pembantu itu mengambil pasta gigi dari kamar mandi, namun, secara tidak sengaja menyenggol baskom air hingga tumpah di lantai, dan karena licin, pembantu itu jatuh tergelincir. Sementara temanku tampak tidak peduli. Dan begitu berbalik, wajahnya seketika tersenyum lembut padaku.

Hati saya seketika menjadi dingin, ekstrim dingin melihat sikapnya – Ya Tuhan, tak disangka wajahnya bisa berubah dalam sekejab mata!

Sejak itu, saya tidak pernah menemuinya lagi, dan tak pernah lagi menerima telepon darinya. Dalam hati saya, saya sudah tidak menganggapnya sebagai teman. Mungkin sampai sekarang dia tidak tahu mengapa saya tiba-tiba menjauh darinya.

Saya tidak mau merendahkan kepribadian orang lain dan caranya menangani sesuatu, tetapi saya tahu kerendahan dan keluhuran sifat manusia itu dapat dilihat dari hal-hal seperti itu.

Saya tidak suka dengan seseorang yang bisa berubah dalam sekejab, saya juga tidak suka sama orang yang terbiasa berbohong. Kecacatan secara struktur manusia semacam ini membuat saya tak bisa menerimanya.

2. Wanita yang berjongkok di depan pengemis

Dari satu hal yang sama ini, kita juga bisa melihat sifat seseorang.

Ketika saya melewati pusat kawasan bisnis di Guomao, Beijng, itu adalah jalan paling makmur di Chongqing Road. Seorang pengemis tampak sedang duduk mengemis. Seorang pengemis tua tanpa anggota tubuh bagian bawah. Merangkak seinci demi seinci, sementara orang-orang yang lewat hanya melirik sekilas tanpa ekspresi apa pun. Saya yang terbiasa memberi uang setiap menjumpai pengemis memberinya satu yuan.

Tak lama kemudian, saya melihat seorang wanita di sebrang berjalan ke arah si pengemis. Busana wanita itu tampak mewah dengan riasan yang sempurna. Saya sempat melihatnya membeli sesuatu kemudian berjalan menghampiri pengemis itu. Kedua tangannya menenteng barang belanjaan, dia berhenti di depan si pengemis sambil merogoh sesuatu, tetapi tangannya sulit untuk membuka tas pinggangnya.

Si pengemis yang sepertinya paham dengan maksud wanita itu kemudian melambaikan tangan menyuruhnya pergi. Namun, wanita itu tiba-tiba berjongkok, saya pikir dia ingin memarahi pengemis itu, tetapi dia mengisyaratkan dengan tangannya yang tak bisa mengambl uang dan tatapan matanya menyuruh pengemis itu mengambil sendiri di tas pinggangnya!

Tangan pengemis itu bukan main kotornya, hitamnya seperti habis mengeruk arang. Tapi wanita itu jongkok begitu saja di depannya tanpa pikir panjang lagi, dan membiarkan tangan kotor pengemis itu merogoh tas pinggangnya!

Pengemis itu berhasil mengambil selembar uang kartas nominal 10 yuan. Kemduian wanita itu berdiri dan langsung pergi.

Saya terpana! Saat itu, aksi melempar uang pada pengemis yang biasa saya lakukan membuat saya terlihat mulia, tetapi pemandangan nyata di depan mata saya itu membuat saya tercengang.

Ini bukan masalah memberi lebih banyak uang atau sedikit, tetapi saya telah melihat semacam kesombongan dalam jiwa saya, semacam prasangka, dan semacam kerendahan martabat.

Saya berpikir bahwa lemparan uang koin saya yang indah itu adalah amal, karunia, belas kasihan saya terhadap kaum yang lemah. Betapa dangkal dan kerdilnya jiwa saya!

Jongkokan spontan wanita itu menunjukkan keluhurannya. Wanita seperti itu, selain mengesankan juga terhormat.

3. Pekerja lepas

Satu lagi kejadian yang membuat saya tidak bisa melupakannya.

Setelah pembantu keluarga saya berhenti kerja karena akan menikah, saya mencari pekerja lepas untuk membersihkan kamar saya setiap minggu. Upahpasaran untuk pekerja lepas sepertim itu adalah 7 yuan per jam, tapi saya memberi 10 yuan.

Jika membersihkan kaca atau pekerjaan berat lainnya, saya akan memberi tambahan. Selain itu, saya juga sering memberi mereka pakaian, sepatu, topi dan syal bekas saya. Saya membungkusnya dan memberikan langsung tanpa saya periksa lagi.

Agar tidak melukai harga diri orang lain, saya selalu berhati-hati memberinya, karena takut orang lain salah paham.

Suatu hari, saat turun salju lebat, pintu kamarku terbuka, saya melihat pekerja lepas yang biasa saya pekerjakan untuk bersih-bersih di rumah berdiri di luar pintu. Wajahnya memerah karena tiupan angin salju, dan badannya tampak menggigil kedinginan. Dia mengembalikan beberapa lembar uang kertas.

Ternyata dia menemukan beberapa lembar uang kertas di dalam pakaian lama yang saya berikan padanya. Karena takut salah paham, dia bergegas ke rumahku dengan mengayuh sepeda selama tiga jam hanya untuk mengembalikan uang itu pada saya.

Saya menariknya masuk ke rumah untuk menghangatkan badannya sejenak, tetapi dia menolak, sambil meminta saya menghitung kembali uang saya.

Ya Tuhan, apa yang mau kuhitung ? Saya sendiri sama sekali tidak ingat lagi dengan uang itu. Saya lihat pekerja itu berbalik dan pergi, dia harus mengayuh selama tiga jam lagi untuk pulang kembali ke rumahnya di tengah hujan salju

Sebenarnya, dia bisa mengembalikan uang itu pada lain kesempatan, tetapi karena takut salah paham. Dia buru-buru kembali ke rumah saya hanya untuk membuktikan kebersihan dirinya.

Memang hanya sedikit jumlah nominalnya, tetapi tindakannya membuat saya melihat sesosok kepribadian dalam jiwanya.

Menurut pendapat saya, pohon memiliki martabatnya sebagai pohon, manusia memiliki kepribadiannya, dan ikan juga punya logikanya sebagai ikan.

Segala sesuatu di dunia memiliki aturan dan skala perilaku sendiri. Tidak peduli pekerjaan dalam bidang apa pun, atau posisi apa pun, Anda dapat mengidentifikasi kepribadian dasar seseorang dari setiap tindak tanduknya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular