- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Putrinya Mengabarkan Mendapat Nilai 690 pada Ayahnya, Dia pun Menangis Saat Mendengar Suara Sayup-sayup di Ujung Telepon yang Belum di Tutup Ayahnya

Erabaru.net. Karena cinta dan kasih sayangnya kepada anak dan mendiang istrinya, Li Dawei memilih untuk tidak menikah lagi.

Li Dawei perlahan-lahan berhenti merokok, dan jarang minum, dia mulai berhemat. Mantel katun besar dipakainya selama dua tahunyang berlubang telah , dan masih dipakai hingga sakarang.

Sejak kematian istrinya, tidak ada lagi yang dipikirkan Li Dawei selain memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk putrinya.

Setelah lulus dari sekolah menengah pertama, putri Li Dawei mulai tahu banyak hal, ia sadar dengan kerja keras ayahnya dan kesulitan ekonomi keluarga, karena itulah putrinya selalu tekun belajar.

[1]

Mereka sarapan bersama, lalu berangkat ke tempatnya masing-masing. Putrinya mengatakan kepadanya bahwa dia tidak ingin melanjutkan kuliah lagi setelah lulus, ia ingin membantunya menanggung beban ekonomi keluarga.

Li Dawei seketika marah mendengar perkataan putrinya dan berkata kepadanya: “Jangan khawatir tentang itu. Yang harus kamu lakukan adalah belajar dengan rajin dan diterima di perguruan tinggi.”

Putrinya hanya mengangguk-anggukan kepala tanpa banyak bicara lagi. Sementara itu, di tempat kerja, Li Dawei bertanya tentang upah kerja di konstruksi. Dia mendengar bahwa gajinya sangat tinggi jika kerja di konstruksi.

Bagaimana pun kuliah juga membutuhkan uang. Li Dawei berulang kali mengingatkan putrinya untuk tekun belajar. Sebentar lagi akan ujian masuk perguruan tinggi, putrinya tampak sangat percaya diri menjelang ujian !

Dalam ujian masuk perguruan tinggi itu, putrinya mendapat nilai 690 poin!

Putrinya segera menelepon sang ayah untuk mengabarkan berita yang menggembirakan. Namun, Li Dawei bilang dia sedang sibuk, nanti saja setelah pulang kerja.

Mungkin karena terlalu sibuk, Li Dawei lupa menutup teleponnya yang masih tersambung dengan ponsel putrinya. Dan sayup-sayup putrinya mendengar suara dari ujung telepon : “Dawei, putrimu benar-benar hebat, tidak mengecewakan kerja kerasmu selama ini!”

[2]

Ayahnya berkata,: “Tidak apa-apa sedikit susah, hanya saja sayangnya istriku meninggal, jadi saya harus merawat anakku. Saya sangat mencintai istriku, tentu saja saya sangat menyayangi anakku!”

Mendengar itu, mata putrinya seketika berkaca-kaca dan menitikkan air mata, lalu menangis di tempat setelah menutup teleponnya.

[3]

Ayah, adalah sesosok pria kaku yang tidak banyak bicara, mereka tidak pandai merangkai kata-kata dan mengutarakannya, mereka tidak pintar dalam mengungkapkan kasih sayang mereka, tetapi mereka selalu berbicara dengan tindakan nyata, tidak peduli seberapa keras hidup mereka di luar, selama anak-anaknya bahagia dan keluarga sehat, maka semua itu layak baginya.

Orang-orang bilang cinta dan kasih sayang seorang ayah itu bagaikan gunung besarnya, tapi sebenarnya jauh lebih besar daripada gunung.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi: