Erabaru.net. Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun di Tiongkok diduga membunuh ibunya dalam suatu pertengkaran pada tanggal 16 Maret 2019, menurut polisi setempat. Kejadian tersebut baru diketahui dua hari kemudian yaitu pada tanggal 18 Maret 2019.

Insiden tersebut terjadi di provinsi Jiangsu, timur Tiongkok. Sang ibu, bermarga Yang, diduga dibunuh oleh putranya sendiri, yang bermarga Shao.

Shao ditemukan sehari kemudian saat sedang duduk di sebuah restoran 24-jam. Ia ditahan oleh Departemen Kepolisian Jianhu dan sedang diselidiki.

Menurut hukum pidana Tiongkok, Shao masih dianggap di bawah umur karena belum berusia 14 tahun — kemungkinan terburuk ia dikirim ke kamp penahanan selama seminggu, menurut South China Morning Post.

Berbagai laporan dan wawancara memberikan kisah yang berbeda mengenai  apa yang terjadi antara ibu dan anak itu selama pertengkaran mereka. Laporan awal datang dari tetangga dan orang-orang di tempat kejadian yang berbeda dengan akun ayah baptis Shao, Duan.

Argumen

Menurut Chengdu Economic Daily, seorang tetangga di tempat kejadian mengatakan bahwa Shao adalah siswa SMP yang biasa-biasa saja.

“Mereka bukanlah keluarga yang sangat kaya, dan Shao sering bertengkar dengan ibunya karena masalah uang,” kata tetangga itu kepada Chengdu Economic Daily pada tanggal 18 Maret 2019.

Yang menyewa sebuah toko dan menjual pakaian untuk mencari nafkah, dan suaminya adalah seorang pekerja migran yang sering melakukan pekerjaan kontrak di kota-kota lain, menurut laporan itu.

Tetangga itu mengatakan bahwa Yang dan Shao bertengkar sekali lagi, dan saat itulah Shao membunuh ibunya.

“Setelah dua hari, seseorang menemukan ada darah di ambang pintu dan melaporkannya ke polisi. Ibunya sangat kecil, mungkin sekitar 40-45 kg,” kata tetangga tersebut.

Seorang pemilik toko di daerah itu mengatakan kepada Chengdu Economic Daily bahwa gaya pengasuhan Yang mungkin agak keras, mungkin mengarah ke masalah disiplin.

“Shao menyukai binatang peliharaan, sampai menghabiskan waktu bersama binatang peliharaan. Ibunya merasa Shao menghabiskan sepanjang hari bermain dengan anjing, menjadi marah di mana Yang membanting anjing itu di tanah hingga mati,” kata pemilik toko kepada outlet berita.

Shao kemudian ditemukan di restoran 24-jam, dan dilaporkan telah duduk di sana selama sekitar 40 jam sebelum ditemukan.

Menurut Chengdu Economic Daily, Shao hanya memesan secangkir air panas, yang diminumnya dengan beberapa biskuit yang ia bawa.

Salah satu karyawan restoran 24-jam mengatakan kepada kantor berita bahwa sekitar pukul 11.00, seorang petugas datang menanyakan Shao. “Anak laki-laki itu tidak berkata apa-apa dan dibawa pergi,” kata karyawan itu.

Karyawan itu menambahkan bahwa Shao duduk di meja yang kosong. Ia hanya membawa ransel.

Polisi tidak berkomentar lebih lanjut mengenai situasi tersebut, kata laporan itu.

Dugaan Pembunuhan

Ayah baptis Shao, Duan, mengatakan bahwa ketika dia berada di Departemen Kepolisian setempat, ia membaca cerita yang berbeda dari catatan polisi.

Duan mengatakan kepada Beijing News dalam laporan pada tanggal 21 Maret 2019 bahwa setelah Yang pulang kerja, Yang melihat Shao bermain video game di telepon pintarnya. Yang berusaha mengambil telepon dari putranya, tetapi Shao melemparkan telepon pintar tersebut ke lantai.

Duan berkata, menurut catatan, ketika Yang memungut telepon tersebut, Shao pergi ke dapur untuk mengambil golok. Catatan itu kemudian menyatakan bahwa saat Yang berdiri, Shao memotong bagian belakang kepala Yang dengan golok. Karena anjing keluarga tersebut menggonggong terus, catatan menyatakan bahwa Shao juga membunuh anjing itu.

Menurut Beijing News, para tetangga mengatakan pada tanggal 18 Maret 2019 bahwa guru Shao berusaha menghubungi keluarga itu karena ia tidak datang ke sekolah.

Para tetanggal lalu mengatakan bahwa Shao pergi ke restoran 24-jam dan duduk di pojok ruangan. Ketika polisi tiba, Shao mengacungkan jarinya yang  memberitahu mereka di mana ia berada.

Namun, pekerja restoran 24-jam mengatakan bahwa Shao bersembunyi di kamar kecil ketika polisi tiba. Beberapa polisi tidak berseragam.

Menurut Duan, ketika ayah Shao kembali ke rumah pada sore hari tanggal 18 Maret 2019, hal pertama yang ia katakan adalah: “Istri saya telah pergi, mengapa saya menginginkan putra saya?,” Beijing News melaporkan.

Pada 19 Maret 2019, Duan dan ayah Shao menjemput Shao di kantor polisi. Hal pertama yang Shao katakan kepada ayahnya ketika ia keluar adalah “Ayah, saya telah berbuat salah,” menurut Beijing News.

Seorang Putra Dihukum

Pada bulan Desember 2018, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, bernama Wu, menikam ibunya sampai mati di provinsi Hunan, Tiongkok, menurut South China Morning Post. Anak laki-laki tersebut tidak didakwa atas kejahatan itu.

Dalam sebuah wawancara dengan South China Morning Post, seorang pakar kenakalan remaja di Universitas Ilmu Politik dan Hukum Universitas China di Beijing mengatakan bahwa kejahatan pemuda belum ada aturan hukumnya di Tiongkok.

Profesor Pi Yijun mengatakan bahwa anak-anak yang dihukum karena kejahatan serius, dan berusia antara 14-16 tahun, dapat dikirim ke penjara remaja yang nakal. Anak-anak usia 13-17 tahun yang dihukum karena kejahatan ringan dapat dikirim ke sekolah remaja yang nakal, yang diperbolehkan pulang ke rumah pada akhir minggu.

“Menurut pendapat saya, dalam hal ini, orangtua lain punya alasan kuat untuk takut. Tidak pantas mengirim seseorang yang berbahaya seperti dia [Wu] ke sekolah … Kita tidak dapat menghapus kesalahan yang disengaja itu demi melindungi hak anak,” kata Profesor Pi Yijun.

Karena usia Shao, ia mungkin dibebaskan dengan cara yang sama. (Daniel Holl/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular