Chang Chun

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengadakan upacara akbar untuk menghantarkan Presiden  Xi Jinping meninggalkan Paris. Namun, selagi kunjungan Xi Jinping di Prancis, Presiden Macron  juga menyelenggarakan kuartet Pembicaraan yang tampaknya ditujukan untuk menunjukkan bahwa sikap Prancis dan Uni Eropa terhadap komunis Tiongkok telah berubah.

Pada 26 Maret lalu, dengan dihantarkan oleh musik dari orkestra militer, Presiden Emmanuel Macron melambaikan tangan kepada Presiden Xi Jinping dan istri menjelang mereka masuk ke dalam pintu pesawat kepresidenan.

Sehari sebelumnya, ketika Xi Jinping tiba di Paris ia juga disambut secara meriah oleh pengawal upacara dan berjalan di atas karpet merah.

Namun, antusiasme bukan satu-satunya nada yang muncul pada kunjungan kali ini.

The New York Times menggambarkan bahwa Macron menunjukkan sikap “bersemangat, hati-hati, tetapi tetap waspada”.

Sehari sebelum kepulangan Xi Jinping, ketika kedua kepala negara menandatangani belasan perjanjian komersial dan pemerintah yang nilainya mencapai miliaran euro di Istana Elysee, Macron menegaskan kembali di hadapan Xi Jinping bahwa dalam pandangannya, kesatuan tanggapan Eropa terhadap hegemoni komunis Tiongkok adalah sangat penting.

Sebagaimana dibuktikan oleh pernyataan ini, Macron mengadakan Kuartet Pembicaraan  khusus dengan mengundang Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker datang di Istana Elysee untuk menghadiri pembicaraan dirinya dengan Xi Jinping. Hal ini memicu perhatian khusus media. Mereka bertanya-tanya, mengapa Macron “minta ditemani”.

Tang Jingyuan, komentator politik yang berdomisili di Amerika Serikat menilai Macron tidak menghendaki Beijing mengerahkan strategi menindaki Uni Eropa dengan cara non-kesatuan. Artinya, sudah sulit bagi negara Eropa secara sendirian untuk melawan komunis Tiongkok yang notabene adalah negara penyandang ekonomi terbesar kedua di dunia. Apalagi melawan tekanan yang berasal dari godaan uang dan penganiayaan politik. Oleh karena itu, Macron dengan sengaja menunjukkan kesatuan Uni Eropa, dan secara implisit memperingati Beijing agar jangan mencoba memecah belah Eropa.

Pekan lalu, meskipun ada peringatan dari sekutu, Italia secara resmi menandatangani MOU untuk bergabung dalam proyek One Belt One Road atau OBOR komunis Tiongkok. Negara-negara anggota Uni Eropa yang lebih kecil seperti Yunani, Hongaria, Polandia dan Portugal juga telah menandatangani letter of intent yang relevan. Para kritikus khawatir bahwa Eropa di masa depan akan menghadapi kuda Troya.

Tang Jingyuan percaya bahwa Macron sekarang telah mengubah pembicaraan bilateral yang diharapkan Beijing menjadi pembicaraan empat pihak, pada saat yang sama ia juga menjadi promotor persatuan Uni Eropa yang demonya diharapkan bisa ditiru oleh negara-negara anggota Uni Eropa lainnya.

Meskipun Kuartet Pembicaraan pada 26 Maret itu menunjukkan keinginan untuk bekerja sama secara multilateral, tetapi pihak Eropa lebih menekankan pada kesetaraan dalam kegiatan perdagangan Tiongkok – Eropa.

Angela Merkel, Macron dan Juncke secara cerdik menunjukkan bahwa dalam hubungan dagang dengan Tiongkok, keuntungan lebih banyak diambil oleh pihak Tiongkok.

Ketiga pejabat Uni Eropa tersebut berharap hubungan itu dapat direposisikan kembali, agar Eropa dapat menempatkan posisinya sendiri dalam suasana perubahan dunia yang terjadi terus menerus.

Komentator politik, Lan Shu, mengatakan bahwa hubungan Eropa dengan Tiongkok sudah berlangsung selam puluhan tahun dan sudah jelas. Apapun yang dilakukan Tingkok mulai 5G Huawei, proyek OBOR, atau menyerang pasar Barat dengan tenaga kerja murah, pada akhirnya  banyak industri dan teknologi milik Barat akan dibawa pulang ke Tiongkok. Menurut Lanshu, semua ini didasarkan pada perdagangan dan pertukaran yang tidak adil. Oleh karena itu, secara keseluruhan telah membangkitkan kewaspadaan dunia bebas Barat.

Tang Jingyuan mengatakan bahwa pada kenyataannya, perlakuan komunis Tiongkok terhadap perdagangan dan teknik infiltrasi Eropa persis sama dengan perawatan di Amerika Serikat. Setelah diserang oleh Amerika Serikat, komunis Tiongkok sekarang telah mengalihkan fokusnya ke benua Eropa.

“Pendekatan ini merupakan ancaman serius terhadap nilai-nilai yang dianggap Eropa sebagai landasan persatuan. Dari sudut pandang ini, konfrontasi antara Eropa dengan komunis Tiongkok sebenarnya adalah masalah waktu. OBOR dan 5G Huawei hanyalah peledakan dari kedua sistem, dan kontradiksi mendasar antara kedua nilai itu”, kata Tang Jingyuan.

Selain negara-negara Eropa Barat, komunis Tiongkok juga aktif merayu negara-negara Eropa Tengah dan Timur, dengan membongkar garis pertahanan ekonomi dan perdagangan Uni Eropa, terutama melalui KTT 16+1 dengan 16 negara di Eropa Tengah dan Timur. Namun, beberapa pejabat Polandia mengeluh bahwa ketika mereka membuka pintu bagi komoditas Tiongkok, jumlah koridor yang dibuka Tiongkok untuk masuknya barang-barang Polandia tidak meningkat secara signifikan.

Menghadapi sikap agresif komunis Tiongkok, Komisi Eropa pekan lalu menyusun sebuah ‘Rencana 10’ demi mengusung kepentingan Eropa yang rencananya akan dibawa ke KTT Eropa – Tiongkok yang akan diselenggarakan pada 9 April mendatang. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular