- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Seribu Lebih Lumba-Lumba Mati Terdampar Awal Tahun Ini

Paris — Bangkai ikan lumba-lumba dimutilasi dengan mengerikan, dengan sirip terputus di Pantai Atlantik. Namun, apa yang mengejutkan para peneliti kelautan Prancis bukan hanya kebrutalan dari kematian mamalia yang sangat cerdas ini. Para peneliti tidak habis pikir dengan banyaknya jumlah bangkai ‘dolphin’, yang mencapai rekor 1.100 lebih di pantai Atlantik Prancis sejak Januari 2019.

Kematian massal itu, diduga akibat penangkapan ikan industri yang agresif. Isu yang mengejutkan kelompok-kelompok kesejahteraan hewan dan mendorong menteri ekologi Prancis untuk meluncurkan rencana nasional untuk melindungi spesies khas sirkus ini.

“Tidak pernah ada angka setinggi ini,” kata Willy Daubin, anggota Pusat Nasional untuk Riset Ilmiah Universitas La Rochelle.

“Sudah dalam tiga bulan, kita sudah mengalahkan rekor tahun lalu, melonjak dari angka 2017. Bahkan ini yang tertinggi dalam 40 tahun,” sambungnya.

Daubin mengatakan 90 persen dari kematian ini akibat penangkapan yang tidak sengaja oleh jaring nelayan industri. Namun, alasan di balik lonjakan tahun ini adalah sebuah misteri.

“Mesin atau peralatan memancing apa yang ada di balik semua kematian ini?” Dia bertanya.

Otopsi yang dilakukan pada lumba-lumba tahun ini oleh Pusat Nasional untuk Riset Ilmiah Universitas La Rochelle menunjukkan tingkat mutilasi yang ekstrem. Aktivis mengatakan, sudah menjadi praktik umum bagi para nelayan untuk memotong bagian-bagian tubuh dari lumba-lumba yang mati lemas setelah mereka ditarik ke atas jaring, untuk menyelamatkan jaring mereka agar tidak rusak.

Menteri Ekologi Prancis, Francois de Rugy mendatangi kawasan La Rochelle dalam upaya untuk menurunkan angka kematian akibat tindakan manusia. Dia berada di bawah tekanan, paling tidak karena sikap pro-ekologi Presiden Prancis Emmanuel Macron dan slogan yang sering dikutip, yaitu, “Membuat Planet Menjadi Luar Biasa Kembali”.

Rugy datang dengan beberapa rencana, termasuk memperkuat penelitian terkait perangkat elektronik pengusir akustik yang ada pada 26 kapal pukat dan di dua kapal peneliti di lepas Teluk Biscay, sebuah pusat industri perikanan di Samudra Atlantik. Saat diaktifkan, alat itu akan mengirim sinyal tidak menyenangkan kepada lumba-lumba di dekatnya, yang akan menyebabkan ikan imut itu berenang menjauh.

[1]
Seorang ilmuwan berdiri di dekat lumba-lumba mati di pantai Atlantik Perancis barat, pada 6 Februari 2019. (Foto : Jerome Spitz, Observatoire Pelagis/CNRS/Universite de la Rochelle via AP/The Epoch Times)

Namun, kelompok perlindungan satwa Sea Shepherd mengatakan pemerintah belum berupaya maksimal. Mereka mengecam tindakan-tindakan seperti itu sebagai usaha yang ‘tidak berguna’.

Mereka mengklaim banyak pukat yang mereka lihat di wilayah tersebut tidak mengaktifkan perangkat pengusir. Nelayan khawatir alat mereka juga akan menakuti ikan-ikan berharga. Operator hanya akan menyalakannya jika diperiksa oleh pengawas.

Mereka juga mengatakan bahwa meningkatkan jumlah perangkat pengusir bukanlah solusi jangka panjang untuk mamalia bawah laut. Karena langkah itu akan membuat lautan sebagai wadah polusi kebisingan yang tidak dapat dihuni oleh ikan-ikan.

“Pemerintah perlu bertanggung jawab dan bertindak, terutama Macron, yang mengatakan dia ingin melindungi ekologi,” Lamya Essemlali, Presiden Sea Shepherd France, mengatakan kepada The Associated Press.

Mereka juga menyoroti temuan para ilmuwan, yang memperkirakan tingkat penangkapan ikan saat ini, kemungkinan akan membuat populasi lumba-lumba punah.

“Sorotan telah diberikan pada kapal pukat yang memancing ikan bass, yang merupakan skandal. Tapi mereka bukan satu-satunya yang bertanggung jawab.”

Dia menyarankan bahwa penangkapan ikan agresif, yang diberi lampu hijau tiga tahun lalu setelah ‘larangan-lama’, adalah faktor utama. Lonjakan kematian lumba-lumba juga mulai sejak tiga tahun lalu.

Sea Shepherd menjelaskan krisis ekologi berasal dari permintaan ikan murah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Saat ini, bass laut yang ditangkap oleh kapal pukat yang membunuh lumba-lumba, Anda dapat menemukannya di pasar Prancis dengan harga delapan euro per kilo ($4 per pon),” katanya.

Konsumsi makanan laut global telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir, menurut Komisi Eropa. Tingkat yang oleh kelompok-kelompok hak asasi ternama dianggap tidak berkelanjutan. (THE ASSOCIATED PRESS/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :