Erabaru.net. Seorang ibu di Tiongkok ditahan oleh polisi karena meminta kompensasi setelah sebagian tubuh putrinya lumpuh akibat vaksin, Epoch Times berbahasa Mandarin melaporkan pada tanggal 23 Maret 2019.

Otoritas lokal di Provinsi Henan, Tiongkok, mengatakan bahwa He Fangmei akan dipenjara selama 15 hari karena tuduhan “berperilaku tidak tertib.” Pada tanggal 21 Maret 2019, di akhir masa penahanan, He Fangmei tidak dibebaskan oleh polisi dan keluarganya tidak menerima informasi apapun  dari pihak berwenang.

Ternyata He Fangmei dipindahkan ke pusat penahanan. Suaminya, Li Xin, baru mengetahui keberadaan He Fangmei setelah diberitahu oleh seorang penjaga lanjut usia yang bekerja di pintu depan kantor polisi.

Penahanan

Foto: He Fangmei mengangkat sebuah kertas, yang berisi seruan kepada orangtua lain yang anaknya telah dirugikan oleh vaksin untuk meminta kompensasi dari pemerintah. (Foto disediakan oleh keluarga He Fangmei)

Setelah He Fangmei ditahan, otoritas pemerintah mulai memata-matai Li Xin.

“Setiap orangtua yang berupaya mendapatkan keadilan bagi anak-anak yang dirugikan oleh vaksin menjadi ‘musuh sosial’,” kata Li Xin kepada Epoch Times.

Pada bulan Mei 2018, setelah putri He Fangmei menerima vaksinasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) supaya kebal terhadap penyakit difteri, sang putri menderita batuk rejan, dan tetanus. Tangan dan kaki sang putri kemudian dirusak oleh imunisasi. Untuk menyelamatkan putrinya secepat mungkin, Li Xin dan He Fangmei membawa putrinya ke Beijing untuk perawatan medis, dan menyewa rumah.

Tiba-tiba, pemilik rumah sewaan memberitahu Li Xin dan He Fangmei untuk mengosongkan rumah tersebut pada tanggal tertentu. Otoritas setempat menindas pemilik rumah sewaan untuk mengancam Li Xin dan He Fangmei. Mereka diberitahu bahwa barang-barang mereka yang tertinggal di rumah tersebut akan dibuang.

Dokumen medis penting mengenai perawatan putrinya masih berada di rumah sewaan tersebut, maka Li Xin kembali ke rumah sewaan tersebut bersama putrinya untuk mengambilnya. Saat berada di stasiun kereta, tiba-tiba ia ditangkap oleh tim SWAT (Senjata dan Taktik Khusus).

“Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya mengalami penculikan seperti ini,” kata Li Xin kepada Epoch Times berbahasa Mandarin.

Li Xin ditahan oleh polisi dan kemudian dibebaskan.

Li Xin mengatakan bahwa dalam sembilan bulan sejak putrinya cacat, istrinya, He Fangmei sering mengeluh kepada pemerintah setempat untuk mendapatkan kompensasi yang adil atas biaya pengobatan. Namun, berkali-kali ia ditolak.

Maka He Fangmei pergi ke otoritas yang lebih tinggi, dan bahkan di jalanan, demi mencari bantuan untuk mengobati cidera putrinya. He Fangmei  melakukan ini di kota asalnya di Xinxiang, dan juga di Beijing.

He Fangmei dan Li Xin bermaksud untuk memperingatkan orangtua lain mengenai bahaya vaksinasi, tetapi malahan menerima banyak jenis tekanan dari Partai Komunis Tiongkok. Mereka telah ditahan dan ditekan dengan berbagai cara, bahkan dilarang menggunakan internet.

Baru-baru ini, Partai Komunis Tiongkok mengadakan “Lianghui,” secara harfiah diterjemahkan sebagai Dua Pertemuan, yang berakhir pada pertengahan Maret 2019. Selama Dua Pertemuan, banyak orang ditangkap dengan berbagai tuduhan, termasuk orangtua yang mengeluhkan vaksin berbahaya.

Vaksin Mematikan

Di Tiongkok, anak-anak tidak hanya cedera akibat vaksin yang diproduksi  secara buruk, tetapi bahkan terbunuh. Ada dua orang anak meninggal pada awal Februari 2019 akibat vaksinasi yang buruk di Tiongkok.

Satu anak laki-laki bernama Han Xu, meninggal pada tanggal 8 Februari 2019. Ia lahir pada bulan Oktober 2014, dan menerima vaksin kusta 10 bulan kemudian. Ia segera mulai mengalami demam dan kejang. Ia dirawat di unit perawatan intensif selama dua bulan.

Han Xu harus diberi makan melalui hidungnya, dan ia dapat tersenyum dan makan. Namun, ia tidak dapat berbicara atau berjalan. Ia sering sakit. Orangtuanya membawanya ke berbagai rumah sakit, tetapi penyakitnya tidak kunjung sembuh. Han Xu didiagnosis menderita meningitis.

Ketika Han Xu meninggal, jenazahnya tidak diserahkan kepada orangtuanya, dan tidak ada penjelasan yang diberikan oleh pihak berwenang. Han Xu diperiksa apakah penyakitnya adalah penyakit keturunan, tetapi semua hasil pemeriksaan memberikan hasil negatif. Dokter ahli tidak diizinkan untuk menandatangani pemeriksaan yang diberikan kepada Han Xu.

Anak laki-laki lain, bernama He Shangze, meninggal pada tanggal 10 Februari 2019. Ia telah menerima vaksinasi untuk Polio dan DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) pada bulan Oktober 2014.

Malam berikutnya, He Shangze dilarikan ke rumah sakit karena menderita demam tinggi dan shock. He Shangze didiagnosis menderita meningitis. Para ahli memperkirakan bahwa He Shangze diracuni oleh vaksin. (Daniel Holl/ Vv)

Reporter Epoch Times, Liu Yi, berkontribusi pada laporan ini.

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular