Annie Wu/Frank Fank- The Epochtimes

Erabaru.net- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat,  Mike Pompeo memperingatkan risiko keamanan dari massifnya investasi berkelanjutan Tiongkok di Israel. Pompeo mengungkapkan dampaknya terhadap pertukaran data intelijen dan kerja sama lainnya antar kedua negara. 

Pompeo berkomentar mengenai masifnya hubungan Tiongkok-Israel ini dalam wawancara 21 Maret lalu dengan penyiar lokal TV Israel, Channel 13. Hal demikian disampaikannya ketika berada di Israel dalam kunjungannya selama dua hari ke Israel.

“Kami ingin memastikan setiap negara membuka mata dan terjaga sehubungan dengan ancaman kebijakan yang ditimbulkan oleh Tiongkok,” kata Pompeo dilansir Times of Israel.

“Amerika juga harus membuat keputusan. Jika beberapa sistem tertentu berada di tempat-tempat lain, maka upaya Amerika untuk bekerja bersama Anda akan lebih sulit.  Di beberapa tempat kami tidak akan bisa melakukannya.”

“Berbagi laporan intelijen mungkin harus dikurangi, fasilitas keamanan mungkin harus dikurangi, kami ingin memastikan negara memahami ini dan mengetahui risikonya,” tambahnya.

Pernyataan Pompeo menyusul laporan baru tentang hubungan Israel-Tiongkok yang diterbitkan pada hari yang sama oleh lembaga pemikir kebijakan Amerika Serikat, RAND. 

Laporan ini menguraikan “masalah keamanan” dan “risiko spionase” terkait dengan ambisi Komunis tiongkok untuk memperoleh teknologi tinggi melalui investasi di Israel. 

Rezim Komunis Tiongkok disebut berupaya mengambil keuntungan dari lokasi geografis strategis Israel untuk berinvestasi dalam proyek-proyek infrastruktur. Bahkan,  mungkin membahayakan bagi Amerika Serikat.

Media Israel menerbitkan laporan Komentar Menlu AS terhadap investasi Tiongkok di Israel (Times of Israel)

Alarm dari Amerika Serikat

Kekhawatiran ini bukanlah hal baru. November lalu, Institut Hudson menerbitkan analisis yang menyimpulkan bahwa Beijing berinvestasi besar-besaran dalam proyek kecerdasan buatan Israel dan sektor teknologi canggih lainnya.  Nantinya, aplikasi militer apa pun dapat digunakan untuk melayani militer Komunis Tiongkok.

Menurut Institut Hudson, cara Tiongkok membangun ikatan komersial  dengan Israel dinilai akan meningkatkan pengaruh geopolitiknya di Timur Tengah.

Sementara itu, selama kunjungan pada Januari lalu ke Israel, John Bolton, penasihat keamanan Presiden Donald Trump kepada Perdana Menteri Israel mengungkapkan kekhawatirannya tentang kesediaan negara itu memutuskan bekerjasama dengan perusahaan telekomunikasi Tiongkok di sektor teknologi sensitif.

Misalnya, raksasa telekomunikasi Tiongkok, Huawei, memiliki pusat penelitian dan pengembangan di Israel. Pada Desember 2016 lalu, Huawei mengakuisisi HexaTier, sebuah startup keamanan siber Israel.

Komentar Pompeo adalah indikasi pertama bahwa pihak berwenang AS akan bertindak langsung di Israel merespon manuver komunis Tiongkok.

Pompeo bertemu Presiden Israel Reuven Rivli 21 Maret 2019 (Department of State Image)

Pompeo menyebutkan Huawei secara khusus dalam komentarnya pada 21 Maret lalu bahwa perusahaan itu menimbulkan “risiko nyata bagi rakyat Israel” karena risiko rezim Tiongkok melakukan spionase melalui teknologinya.

Proyek lain yang disoroti oleh lembaga think tank dan pejabat AS adalah upaya Tiongkok untuk mengoperasikan pelabuhan  di Haifa, pusat komersial yang mana sebagai  pangkalan angkatan laut Israel. Sebelumnya, berdasarkan sebuah perjanjian yang dibuat tahun 2015, perusahaan Tiongkok akan mengambil alih penguasaan atas pelabuhan strategis Israel Haifa pada tahun 2021 mendatang.

Pangkalan AL Israel  secara rutin menjadi tuan rumah latihan gabungan angkatan laut AS-Israel dan bersandarnya kapal-kapal AS.

Gary Roughead, seorang pensiunan laksamana AS, mengatakan kepada Newsweek dalam wawancara 14 September lalu, tentang dampak keamanan dikuasai pelabuhan Haifa oleh Tiongkok.

Menurut Roughead, operator pelabuhan Tiongkok akan dapat memantau dengan cermat pergerakan kapal Amerika Serikat. Lebih parah lagi, operator akan mengetahui kegiatan pemeliharaan,  memiliki akses ke pemindahan peralatan dan berinteraksi secara bebas dengan kru selama periode berlarut-larut.

Berdasarkan sebuah perjanjian yang dibuat tahun 2015, perusahaan Tiongkok akan mengambil alih penguasaan atas pelabuhan strategis Israel Haifa pada tahun 2021. (Jack Guez/AFP/Getty Images via Epochtimes.com)

Peningkatan Hubungan Israel-Tiongkok

Laporan Epoch Times sebelumnya mengupas tentang kemajuan dalam investasi Tiongkok di Israel. Fokus investasi Tiongkok ini melingkupi kesepakatan militer terkait teknologi. Bahkan Tiongkok mengucurkan dana dalam jumlah besar ke sektor teknologi yang ingin dikembangkan Tiongkok secara agresif untuk industri domestiknya.

Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh firma riset IVC Research Center yang berbasis di Tel Aviv menyebutkan, investasi Tiongkok di perusahaan teknologi rintisan mencapai $ 325 juta selama tiga kuartal pertama tahun 2018. Angka ini melonjak sekitar 37 persen dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, perdagangan tahunan antara kedua negara kini telah melampaui $ 11 miliar. Angka ini 200 kali lebih besar dari angka tahunan pada tahun 1992 silam sebagaiman dikutip dari Kementerian Luar Negeri Israel.

Respon Internal Israel

Berbagai suara di dalam pemerintahan dan masyarakat Israel mulai menyoroti isu ini.

Pemerintah mengatakan akan membuka tinjauan antar lembaga terkait kesepakatan pelabuhan Haifa yang akan dioperasikan oleh Tiongkok.  Surat kabar lokal Haartez melaporkan pada Desember 2018 tentang pembentukan komite pemerintah yang mengajukan Undang-Undang untuk  menyaring investasi asing atas dasar risiko keamanan nasional .

Laporan media Lokal, Maariv pada 25 Maret lalu menyebutkan  Dewan Keamanan Nasional Israel berencana untuk menyusun laporan khusus tentang implikasi pertahanan nasional dari investasi asing. Dewan Kemanan Israel ini juga menyoroti upaya spionase siber dari Tiongkok dan Rusia.

Sementara itu, banyak editorial surat kabar di Israel sejak saat itu menyoroti semakin dekatnya hubungan Tiongkok di Israel.

“Ini adalah tentang kisah mempengaruhi, Tiongkok membeli lebih banyak infrastruktur, oleh karena itu menjadi sebagai basisnya dalam pergulatan supremasinya dengan Amerika Serikat,” kata seorang pejabat kepada media lokal People & Computers dalam editorial 4 Maret lalu.

Haartez memperediksi dalam analisisnya 5 Maret lalu ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi Amerika Serikat akhir bulan ini. Haartez  menilai Netanyahu kemungkinan  berusaha meyakinkan Trump bahwa mekanisme pemeriksaan investasi asing akan disetujui dan ditetapkan oleh Israel. (asr)

Frank Fang berkontribusi pada laporan ini.

Ikuti Annie di Twitter: @annieeenyc

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular