Bratislava — Politisi pendatang baru, Zuzana Caputova terpilih sebagai presiden wanita pertama Slovakia. Caputova memenangkan 58 persen suara pemilih, dengan hampir 95 persen dari hasil pemilu sudah dihitung dalam pemilihan presiden putaran kedua yang digelar Sabtu (30/3/2019) lalu.

Aktivis anti korupsi itu mengalahkan Wakil Presiden Komisi Eropa, Maros Sefcovic, yang meraih 42 persen suara. Sefcovic mengakui kekalahan dan memberi selamat kepada kompetitornya.

“Saya sangat senang dengan hasilnya. Ini mandat yang sangat kuat bagi saya,” kata Caputova, di depan para pendukungnya.

“Zuzana, Zuzana,” nyanyian para pendukungnya, mengiringi pernyataannya.

Perempuan 45 tahun ini hanya memiliki sedikit pengalaman dalam politik. Dia mampu menarik simpati pemilih yang shok dengan maraknya korupsi dan skandal politik arus utama.

Dia baru saja menjadi wakil ketua partai Progresif Slovakia. Namun, Caputova mengundurkan diri dari jabatan partai, setelah memenangkan putaran pertama pemilihan presiden dua minggu lalu.

Caputova akan menjadi presiden kelima Slovakia sejak negara itu memperoleh kemerdekaan. Mereka merdeka setelah pemisahan dari Cekoslowakia pada tahun 1993.

Presiden negara berpenduduk 5,4 juta orang ini memiliki kekuasaan untuk memilih perdana menteri, menunjuk hakim Mahkamah Konstitusi dan mem-veto undang-undang. Parlemen dapat mengesampingkan veto dengan ‘mayoritas-sederhana’. Pemerintah, yang dipimpin oleh perdana menteri, memiliki sebagian besar kekuatan eksekutif.

Sefcovic, 52, adalah diplomat karier yang didukung oleh partai Smer-Sosial Demokrasi sayap kiri yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Robert Fico. Mereka adalah kekuatan utama dalam politik Slovakia yang dinodai oleh skandal korupsi. Sefcovic berkampanye dengan isu nilai-nilai keluarga tradisional.

Presiden petahana, Andrej Kiska, yang tidak turut berkompetisi untuk masa jabatan kedua. Dia justru mendukung Caputova dalam pemungutan suara.

Keduanya telah mendukung protes jalanan anti-pemerintah besar-besaran tahun lalu, yang dipicu oleh terbunuhnya reporter investigasi dan tunangannya. Insiden yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan koalisi Fico. Para penyelidik telah mengaitkan kematian Jan Kuciak dengan pekerjaannya menyelidiki kemungkinan korupsi pemerintah yang meluas.

Partai Fico telah menderita kerugian dalam pemilihan lokal pada bulan November 2018. Pemilu pertama usai demonstrasi terbesar di negara itu sejak Revolusi Velvet anti-Komunis tahun 1989. (THE ASSOCIATED PRESS/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular