Reuters

Erabaru.net. Pengobatan tradisional Tiongkok berkembang pesat di seluruh dunia sebagai pilar utama prakarsa “One Belt, One Road” atau OBOR negara tersebut. Tetapi kelompok konservasi mengatakan permintaan pengobatan tradisional Tiongkok yang menggunakan produk binatang mendorong lonjakan perdagangan ilegal satwa liar.

Sejak awal tahun ini, pihak berwenang di wilayah Tiongkok yaitu Hong Kong telah menyita spesies yang terancam dalam jumlah yang mencapai rekor, mencakup 9,1 juta ton sisik trenggiling yang diperoleh dari hampir 14.000 ekor trenggiling dan tangkapan tanduk badak terbesar yang pernah ada, bernilai lebih dari 1 juta dolar Amerika Serikat.

Hong Kong, bekas koloni Inggris ini adalah salah satu titik transit perdagangan satwa liar utama dunia, memasok berbagai produk termasuk sirip hiu, bagian tubuh harimau dan cula badak ke seluruh Asia dan ke daratan Tiongkok.

“Salah satu karakteristik paling mengkhawatirkan dari perdagangan satwa liar adalah meningkatnya penggunaan spesies yang terancam punah dalam obat-obatan tradisional,” kata kelompok konservasi ADM Capital Foundation dalam sebuah laporan baru-baru ini.

Hal ini menunjukkan industri obat-obatan tradisional Tiongkok menyebabkan  lebih dari tiga perempat perdagangan produk satwa liar yang terancam punah di Hong Kong selama 5 tahun terakhir.

Foto: Seorang karyawan berjalan melewati lemari yang berisi berbagai varietas ikan kering dan sirip hiu (atas kiri) di Hong Kong pada tanggal 29 Maret 2016. (Anthony Wallace / AFP / Getty Images via The Epochtimes)

Dewan Negara Tiongkok telah menguraikan rencana multi-dekade untuk mempromosikan obat tradisional, termasuk mendirikan rumah sakit, museum, kebun binatang yang dimanfaatkan sebagai obat dan kebun raya di negara-negara yang terlibat dalam infrastruktur “One Belt, One Road” (OBOR, juga dikenal sebagai Belt and Road) mulai dibangun.

Booming Industri Pengobatan Tradisional

Menurut Buletin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Industri ini bernilai sekitar 60 miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun. Menurut IBIS World, pertumbuhan industri ini sekitar 11 persen setiap tahun. Praktik-praktik pengobatan seperti akupunktur dan suplementasi herbal mendapatkan penerimaan secara global.

WHO mengatakan akan secara resmi mengenali obat tradisional dalam ringkasannya pada bulan Mei 2019, yang berarti pengakuan yang lebih umum terhadap praktik-praktik tersebut sejak lebih dari 2.500 tahun.

Foto: Para pekerja menimbang tanaman obat di belakang patung herbalis Tiongkok zaman dinasti Ming bernama Li Shizhen, di sebuah toko obat tradisional Tiongkok di Beijing pada tanggal 7 Juni 2015. (Reuters)

Sementara banyak praktisi pengobatan ini telah menghindari penggunaan spesies yang terancam punah. Kelompok pecinta lingkungan mengatakan obat tradisional termasuk binatang langka masih populer di Vietnam dan Tiongkok, di mana binatang langka digunakan untuk mengobati berbagai penyakit mulai dari kanker, cacat kulit hingga mabuk berat.

Menurut organisasi satwa liar. Spesies termasuk trenggiling, badak, saiga (antelope), kuda laut, beruang bulan dan harimau adalah beberapa binatang yang terancam punah akibat perdagangan.

Zhou Jinfeng, Sekretaris Jenderal Yayasan Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Pembangunan Hijau Tiongkok, mengatakan bahwa WHO harus melakukan langkah tindak-lanjut dan ilmu pengetahuan sebagai prasyarat untuk memasukkan obat-obatan tradisional Tiongkok ke dalam ringkasannya.

“Semua terapi obat harus berdasarkan prinsip yang ‘tidak membahayakan’ bagi konsumen, atau menimbulkan ketergantungan terhadap spesies tersebut; artinya dalam banyak kasus tidak boleh menggunakan binatang yang memiliki tulang belakang dalam pengobatan tradisional Tiongkok,” kata Zhou Jinfeng, merujuk pada pengobatan tradisional Tiongkok.

Juru bicara WHO, Tarik Jašarević mengatakan dimasukkannya dalam ringkasan tidak berarti WHO mendukung keabsahan ilmiah obat tradisional, atau menganjurkan atau memaafkan penggunaan bagian tubuh binatang,

Foto: Para pekerja menimbang tanaman obat di belakang patung herbalis Tiongkok zaman dinasti Ming bernama Li Shizhen, di sebuah toko obat tradisional Tiongkok di Beijing pada tanggal 7 Juni 2015. (Reuters via The Epochtimes)

“WHO menganjurkan penegakan Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah, yang melindungi badak, harimau, dan spesies lainnya,” kata Tarik Jašarević.

Pelaku Pengobatan tradisional Tiongkok

Walaupun Hong Kong biasanya tidak memproduksi produk pengobatan Tiongkok tradisional, Hong Kong mengimpornya dari daratan Tiongkok dan beragam tempat, termasuk sisik trenggiling, tanduk saiga dan sirip hiu, sudah tersedia di distrik barat kota.

Anggota parlemen Hong Kong Elizabeth Quat mengatakan pencegahan penggunaan binatang langka untuk pengobatan Tiongkok tradisional di Tiongkok harus dilakukan.

“Pemerintah Tiongkok harus berbuat sesuatu. Sebagian besar produsennya berada di Tiongkok. Pemerintah Tiongkok harus menghentikan produksi tersebut,” kata Elizabeth Quat.

Di forum Tiongkok online, pelanggan dapat membeli segala sesuatu mulai dari cula badak Afrika hingga trenggiling muda, juga dikenal sebagai trenggiling bersisik, dan tanduk saiga yang bersisik, sejenis kijang langka yang ditemukan di Eropa dan Asia.

Sementara penggunaan cula badak secara resmi dilarang di Tiongkok, produk trenggiling dan saiga secara legal digunakan dalam pengobatan Tiongkok di mana semua perusahaan obat tradisional yang memproduksinya.

Perusahaan tersebut mencakup Kangmei Pharmaceutical dan Tong Ren Tang telah diberikan izin oleh badan-badan pemerintah setempat untuk memproduksi obat-yang menggunakan sisik trenggiling dan tanduk saiga, demikian menurut arsip perusahaan.

Foto: Trenggiling. (Roslan Rahman / AFP / Getty Images via The Epochtimes)

Gui Zhen Tang, yang memiliki pusat pengembangbiakan beruang bulan terbesar di selatan Tiongkok, memiliki izin untuk mengambil empedu beruang, menurut situs webnya.

China Traditional Medicine Holdings tahun lalu mengakuisisi Beijing Huamiao, sebuah perusahaan yang katanya memiliki izin untuk “produk olahan dari beberapa binatang liar yang terancam punah dan dilindungi.” Tidak ada satu pun perusahaan yang merespons beberapa permintaan komentar.

Administrasi Kehutanan dan Padang Rumput Negara Tiongkok dan Administrasi Negara Pengobatan Tradisional Tiongkok tidak menanggapi permintaan komentar.

Departemen Kesehatan Hong Kong mengatakan Dewan Obat Tiongkok di kota itu “selalu peduli mengenai keseimbangan antara perlindungan spesies yang terancam punah dan penggunaan obat tradisional Tiongkok,” dan terus mengamati tren peraturan internasional dan memantau masalah yang berkaitan dengan spesies yang terancam punah.

Peternakan binatang yang digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok telah diadvokasi oleh administrasi Kehutanan Tiongkok dan beberapa peternak sebagai cara berkelanjutan untuk menggunakan binatang langka dalam pengobatan tradisional Tiongkok.

Namun, para aktivis mengatakan penggunaan persediaan binatang yang diternak seperti harimau dan badak berisiko memungkinkan pengolahan  bagian-bagian tubuh binatang liar.

Banyak terapi yang beralih dari produk herbal ke produk tubuh binatang, dan praktisi mengatakan terapi alternatif herbal adalah sama saja, jika tidak lebih efektif.

Lixing Lao, direktur di Fakultas Pengobatan Tiongkok di Universitas Hong Kong, mengatakan tidak perlu menggunakan spesies yang terancam punah. “Pengobatan Tiongkok adalah bagian dari dunia. Kami menjaga kesehatan manusia, binatang. Jika kita menggunakan spesies yang terancam punah, maka akan merusak reputasi kita,” kata Lixing Lao. (Vivi/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular