- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Proyek OBOR Tiongkok Dikritik, Dinilai Menjelma Jadi Predator

Erabaru.net. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo mengkritik proyek One Belt One Road atau OBOR komunis Tiongkok. Proyek ini dinilai  bukan inisiatif murni secara ekonomi.

Hal demikian disampaikan pompeo pada KTT 2019 Ideas Summit yang diselenggarakan National Review Institute’s, Washington, AS, Rabu (27/3/2019)

Pompeo mengatakan proyek OBOR Tiongkok berisi persaingan murah yang diprakarsai  pemerintah dan pinjaman “predator” atau pinjaman yang berujung pada perampasan asset negara peminjam. Meski demikian, semua dunia dinilai optimis secara bertahap telah sadar terkait ancaman di balik One Belt One Road model komunis Tiongkok.

Lebih miris lagi, komunis Tiongkok sedang berusaha membangun pelabuhan di seluruh dunia. Tiongkok tak hanya ingin menjadi pembuat kapal yang hebat atau pelindung navigasi maritim, tetapi dalam setiap proyeknya mengandung faktor keamanan nasional.

Pompeo mengatakan bahwa perjanjian kerjasama dengan komunis Tiongkok mungkin membuat sejumlah pihak merasa sangat menguntungkan pada saat ini. Namun kemudian, justru berakhir tak sesuai dengan harapan.

“Anda akan mendapatkan produk murah, atau pembangunan jembatan atau infrastruktur berbiaya rendah, tetapi biaya politik yang ditimbulkan pada akhirnya akan jauh melebihi nilai ekonomi,” katanya.

Dunia secara bertahap telah sadar terhadap ancaman One Belt One Road model komunis Tiongkok. Oleh karena itu, negara-negara Asia dan Asia Tenggara sangat menyadari ancaman yang terjadi.

India telah berulang kali memprotes Koridor Ekonomi Tiongkok – Pakistan terkait rencana utama komunis Tiongkok dari One Belt One Road. Akan  tetapi pihak Tiongkok mengabaikannya.

Atas dasar alasan ini, pihak India menolak menghadiri Forum Pertemuan Kerja Sama Tingkat Tinggi yang kedua dari One Belt One Road, yang akan diselenggarakan Tiongkok pada April 2019.

Vikram Misri, Duta besar India untuk Tiongkok mengatakan bahwa tidak ada negara mana pun yang dapat berpartisipasi jika mengabaikan keprihatinan mendalam suatu negara terhadap kedaulatan dan integritas teritorialnya.

One Belt One Road (OBOR) atau dikenal sebagai “Belt and Road” Initiative – BRI adalah proyek Sabuk Ekonomi Jalur Sutra multinasional bernilai miliaran dolar yang dipraklarsai komunis Tiongkok. Proyek ini mencakup negara-negara yang berada di Jalur Sutra melalui wilayah di sepanjang pantai Tiongkok, Asia, Samudra Hindia, dan Laut Mediterania.

Negara-negara Barat mengkritik proyek OBOR ini karena menciptakan debt trap atau perangkap utang. Akibatnya, komunis Tiongkok memungkinkan mendapatkan pengaruh atas negara-negara pengutang atau penggunaan fasilitas jangka panjang seperti pelabuhan.

Sebagai contoh, Sri Lanka menandatangani kontrak pelabuhan Hambantota di selatan dengan komunis Tiongkok pada akhir 2017 lalu. Gara-gara ketidakmampuannya untuk membayar utang, Tiongkok akhir menguasai pelabuhan Hambantota selama 99 tahun.

Selain mengkritik One Belt One Road, Pompeo juga mengatakan bahwa ada hubungan penting antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Kedua negara saling membeli produk satu sama lain yang bermanfaat bagi kedua negara.

Namun demikian, bagi Pompeo, komunis Tiongkok tidak menerapkan kebijakan timbal balik dalam banyak aspek atau saling menguntungkan.

Sebagaimana misalnya, perusahaan Tiongkok dinilai lebih mudah menjalin kemitraan dengan perusahaan lokal di Amerika Serikat. Akan tetapi, sebaliknya sangat sulit bagi perusahaan AS untuk menjadi mitra bisnis di Tiongkok.

Tak hanya itu, perusahaan yang ada di luar negeri bersiko menghadapi pengalihan paksa kekayaan intelektual yang mereka investasikan dalam penelitian dan pengembangan.Oleh karena itu, perlunya perbaikan dari praktik-praktik komunis Tiongkok yang keliru ini. (Jon/asr)

Video Rekomendasi : 

Atau Video Ini :