- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Berapa Banyak Kelas Cuci Otak di Tiongkok ?

oleh Chen Han

Entah berapa banyak orang yang ditahan secara ilegal di kelas Cuci Otak sejak komunis Tiongkok melancarkan penganiayaan secara brutal terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok.

Falun Dafa atau Falun Gong adalah sebuah latihan kultivasi jiwa dan raga yang berasimilasi dengan karakter tertinggi alam semesta Sejati, Baik, Sabar. Latihan Falun Gong ini terdiri dengan 5 perangkat gerakan termasuk meditasi yang mulai diperkenalkan di Tiongkok sejak 1992 silam.

Sejak itu, banyak pejabat kementerian di Tiongkok mulai berlatih Falun Gong. Di kalangan rakyat latihan Falun Gong juga menjadi popular hingga mencapai 100 juta orang yang berlatih. Beragam manfaat diperoleh setelah latihan ini termasuk kesehatan.

Akan tetapi atas dasar kecemburuan penyebaran Falun Gong yang terus meluas, mantan ketua Partai Komunis Tiongkok, Jiang Zemin kala itu meluncurkan penindasan sejak 1999 silam. Termasuk keberadaan pusat pencucian otak sebagai metode untuk memberangus praktisi Falun Gong.  

Sebagai pusat penahanan yang berada di luar yudisial tetapi masih di bawah kekuasaan komunis Tiongkok, kelas-kelas cuci otak secara fungsional adalah penjara gelap dan tempat untuk melakukan transformasi pencucian otak.

Komunis Tiongkok memberikan nama yang indah kepada kelas pencucian otak, yakni ‘Pusat Pendidikan Hukum.’ Tetapi operasional sebenarnya adalah ilegal. Sebenarnya, kelas ini tidak mengajarkan hukum maupun pendidikan. Lebih tepatnya adalah transformasi ideologi secara paksa.

[1]
Temuan pusat cuci otak di Tiongkok (istimewa)

Menurut angka yang diberikan oleh otoritas tekait, Tiongkok memiliki 681 buah penjara dan 310 buah kamp kerja paksa. Tetapi berapa jumlah “pusat pendidikan hukum”, yaitu kelas-kelas pencucian otak, dunia luar sulit mengetahuinya.

Kelas pencucian otak bukan lembaga administratif terbuka dari komunis Tiongkok. Kelas ini memiliki banyak nama sebutan, seperti kelas kursus hukum, kelas kursus pelatihan hukum, pusat pelatihan hukum, pusat pendidikan hukum, pusat rehabilitasi obat-obatan terlarang, pusat koreksi dan sebagainya.

Seorang warga dapat saja ditangkap, lalu dijebloskan langsung ke kelas pencucian otak tanpa perlu melalui proses peradilan, bahkan dipukuli oleh petugasnya. Tidak ada proses pengadilan, tidak ada batas waktu penahanan, tidak ada lembaga lain yang mengawasi. Tentu saja tidak ada tanggung jawab hukum.

[2]
Temuan pusat cuci otak di Tiongkok (istimewa)

Menurut situs Minghui.org, akibat kontrol dan blokade informasi oleh komunis Tiongkok, praktisi Falun Gong di Tiongkok mempertaruhkan hidup mereka untuk mengumpulkan informasi mengenai daftar kelas pencucian otak di Tiongkok. Akhirnya diketahui setidaknya ada 3.640 lokasi di seluruh Tiongkok.

Teng Biao, mantan pengacara hak asasi manusia daratan Tiongkok dan sarjana tamu dari Universitas New York mengatakan angka ini seharusnya adalah angka statistik yang dikumpulkan beberapa tahun yang lalu, tetapi masih ada banyak kelas pencucian otak lainnya.

[3]
Temuan pusat cuci otak di Tiongkok (istimewa)

Menurut dia, dunia luar masih belum mengetahui kelas pencucian otak ini. Berdasarkan statistik pada waktu itu terdapat lebih dari 3.000 orang yang berada dalam kelas pencucian otak, hingga mengakibatkan kematian secara langsung dan tidak langsung akibat penyiksaan.

Teng Biao mengatakan “kelas belajar” yang dibentuk pada periode Revolusi Kebudayaan Tiongkok telah berkembang di mana-mana, sebagian besar adalah penjara yang tidak manusiawi dan penjara gelap. Penjara ini adalah bencana hak asasi manusia yang terjadi sangat banyak. Lebih miris lagi, usai Revolusi Kebudayaan, masih ada berbagai “kelas belajar” yang ditiru, sedangkan kelas pencucian otak adalah salah satunya.

[4]
Temuan pusat cuci otak di Tiongkok (istimewa)

Teng Biao mengatakan pusat pencucian otak tidak seperti penjara atau pusat-pusat penahanan, yang memiliki formasi tertentu. Dibandingkan tahanan lainnya dibentuk berdasarkan Undang-Undang versi Partai Komunis, tetapi  “pusat pendidikan hukum” tidak memiliki dasar hukum.

Terungkap, sebagian besar dari mereka yang ditahan di dalam adalah para praktisi Falun Gong. Lebih parah lagi, mereka yang ditahan sebelumnya jadi korban penculikan. Bahkan, tanpa ada dasar hukum untuk metode dan prosedur kerja pusat-pusat pencucian otak ini.

Dalam artikelnya Teng Biao menyebutkan, meskipun kamp konsentrasi Xinjiang telah membangkitkan keprihatinan yang kuat dari komunitas internasional, tetapi ini bukan trik baru yang ditemukan oleh komunis Tiongkok.

Sebenarnya, menangkap dan memenjarakan secara sewenang-wenang orang-orang tertentu dengan identitas tertentu, menggunakan penyiksaan untuk mencuci otak dan mengubah pikiran, mengubah atau menghapus kepercayaan sepenuhnya, dinilai sangat sesuai dengan fungsi dan definisi kamp konsentrasi.

Salah satu metode yang digunakan di kelas cuci otak ini adalah praktisi Falun Gong dipaksa untuk menonton berbagai video yang melecehkan Falun Gong. Bahkan, praktisi dipengaruhi supaya meninggalkan Falun Gong oleh petugas secara keroyokan agar kelelahan.  Langkah mengurangi waktu tidur praktisi juga dilakukan. Cara ini merupakan pengalaman cuci otak paling efektif yang dirangkum oleh para ahli komunis Tiongkok.

Praktisi Falun Gong bernama He Zhiwei berasal dari Provinsi Guangdong, yang kini tinggal di Kanada mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa ia telah berulang kali ditangkap secara ilegal untuk dijebloskan ke kelas pencucian otak sebelum ia berhasil melarikan diri dari Tiongkok.

[5]
He Zhiwei berasal dari Provinsi Guangdong, yang kini tinggal di Kanada

“Di dalam kelas pencucian otak, saya pernah dipaksa tidak tidur selama 9 hari 9 malam. pemimpin kelas pencucian otak menyuruh para gelandangan mengawasi saya. Saya dikurung dalam sebuah ruang dan dipaksa untuk menonton video rekaman yang menyerang Falun Gong,” katanya.

He Zhiwei mengatakan bahwa otoritas Tiongkok menggunakan berbagai cara untuk memaksanya menanggalkan keyakinannya.

“Saya disuruh berlutut di sana, lalu sejumlah orang yang mengelilingi saya dan memukuli kepala saya dengan buku Falun Gong. Setelah sekian lama berlutut dan lelah, saya dihukum berdiri dan tidak boleh bersandar ke dinding. Lantai dipenuhi serangga. Kemudian saya bahkan diikat di atas kursi besi selama 20 hari. Ketika saya menyampaikan protes dengan suara keras, mereka lalu menyemprotkan air lada kepada saya,” katanya.

Menurut laporan Human Rights Watch, kelas pencucian otak dan penjara gelap diketahui pada tahun 2003 silam. Kelas cuci otak ini adalah salah satu tempat penahanan di luar jalur hukum yang paling serius dan tersebar luas dalam sejarah Tiongkok modern. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :