Erabaru.net- Presiden Filipina Rodrigo Duterte menasehati kepada Tiongkok agar tak menyentuh Pulau Thitu atau Pulau Pag-asa di Laut China Selatan yang disengketakan antar kedua pihak.

“Saya tidak akan meminta atau memohon, tetapi saya hanya menasehatimu, saya punya tentara di sana. Jika Anda menyentuhnya, itu cerita yang berbeda. Saya akan memberi tahu para prajurit ‘persiapan untuk misi bunuh diri’, ”kata Duterte dalam pidatonya dilansir dari Reuters, Kamis (4/4/2019).

Pernyataan Duterte disampaikan bersamaan pernyataan dari Kementerian urusan luar negeri Filipina yang menyebut keberadaan lebih dari 200 kapal nelayan Tiongkok di dekat pulau Thitu adalah ilegal.

Duterte telah berulang kali mengatakan dia tidak akan berperang dengan Tiongkok karena itu akan bunuh diri.

Militer Filipina menggambarkan kapal-kapal dari Tiongkok itu sebagai “tersangka milisi maritim.”

Duterte telah menjalin hubungan yang lebih hangat dengan Tiongkok sejak mulai menjabat pada 2016 silam. Pemerintahannya memperoleh imbalan miliaran dolar dari pinjaman dan investasi yang dijanjikan. Akan tetapi, Duterte mengatakan tidak akan membiarkan Tiongkok menduduki pulau Thitu.

“Saya meyakinkan Anda, kecuali Tiongkok ingin perang dengan kami, saya tidak akan membiarkan mereka menduduki Pagasa,” kata Duterte kepada wartawan.

Bendera Filipina berkibar di Filipina (Pagasa), pulau Thitu, yang disengketakan di Laut Cina Selatan, ketika tentara dan warga sipil menyanyikan lagu kebangsaan negara itu pada 21 April 2017. (Erik De Castro / Reuters)

Sementara itu, kementerian Luar Negeri Filipina menyatakan kehadiran kapal nelayan di dekat pulau Thitu menimbulkan pertanyaan tentang maksud dan peran mereka “dalam mendukung tujuan pemaksaan.” Pernyataan disampaikan setelah beberapa hari Filipina mengajukan protes diplomatik ke Tiongkok.

Filipina telah memantau lebih dari 200 kapal Tiongkok di dekat pulau Thitu dari Januari hingga Maret 2019. “Ini diduga milisi laut,” Kapten Jason Ramon, juru bicara Militer Komando Barat Filipina pada minggu ini.

“Ada kalanya mereka hanya di sana tanpa memancing. Kadang-kadang, mereka hanya diam,” ujarnya.

Filipina, Brunei, Tiongkok, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam adalah negara-negara yang saling bersaing klaim kedaulatan di Laut Cina Selatan. Perairan ini menjadi jalur masuknya barang-barang lebih dari $ 3,4 triliun setiap tahun.

Cahaya dari ratusan bangunan di pulau-pulau buatan Tiongkok yang luas dapat dilihat pada malam hari dari Thitu.

Pada 2016 lalu, Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag membatalkan klaim kedaulatan Tiongkok atas sebagian besar Laut Cina Selatan.

“Kami menyerukan pihak-pihak yang berkepentingan untuk berhenti dari tindakan dan aktivitas apa pun yang bertentangan dengan Deklarasi ASEAN-Tiongkok tentang Perilaku Para Pihak di Laut Cina Selatan, karena ini menimbulkan ketegangan, ketidakpercayaan dan ketidakpastian, dan mengancam perdamaian dan stabilitas regional,” demikian pernyataan Kemenlu Filipina.

Pemandangan pendudukan Filipina (Pagasa) Pulau Thitu di Laut Cina Selatan yang disengketakan pada 21 April 2017. (Erik De Castro / Reuters)

Di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang tidak merujuk langsung ke protes Manila, tetapi ia mengklaim pembicaraan bilateral tentang Laut Cina Selatan yang diadakan di Filipina adalah “jujur, bersahabat, dan konstruktif.

“Kedua belah pihak menegaskan bahwa masalah Laut Cina Selatan harus diselesaikan secara damai oleh pihak-pihak yang terlibat langsung,” klaim Kedubes Tiongkok.

Bulan lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo meyakinkan Filipina bahwa mereka akan membela jika diserang di Laut Cina Selatan.

Filipina memperoleh kemerdekaan dari Amerika Serikat pada tahun 1946. Meskipun tidak ada lagi kehadiran militer Amerika Serikat secara permanen di Filipina, latihan bersama, pertukaran intelijen dan transfer perangkat keras dilakukan secara teratur di bawah berbagai perjanjian. (asr)

Oleh Karen Lema/Reuters via The Epochtimes

Share

Video Popular