Washington – Tumpukan fosil yang ditemukan di bawah ‘bentang-alam’ North Dakota Amerika Serikat yang berbatu dapat menjelaskan apa yang terjadi pada hari ketika asteroid menghantam planet Bumi. Insiden alam yang memusnahkan dinosaurus dan hampir semua kehidupan. Peristiwa kepunahan massal juga menghasilkan apa yang dikenal sebagai Kawah Chicxulub, yang terletak di sisi selatan Teluk Meksiko.

Peristiwa ini disebut sebagai peristiwa paling dahsyat yang pernah menimpa planet Bumi.

Kombinasi beraneka ragam fosil darat dan laut ditemukan bersama di satu lokasi dekat Tanis. Tim ilmuwan dari University of Kansas, yang menggali situs tersebut, termasuk Robert DePalma, seorang mahasiswa PhD bidang geologi yang bekerja di Museum Sejarah Alam.

DePalma percaya bahwa gelombang besar terjadi, yang disebut seiches, membawa berbagai organisme ke daratan dan menyimpannya. Ini bukan disebabkan oleh tsunami, DePalma mengaku yakin; melainkan, itu adalah hasil dari gelombang seismik dari laut dan terjadi hanya beberapa menit setelah dampak tubrukan asteroid.

“Fosil bagian tubuh dari Seekor ikan berumur 65 juta tahun yang terpelihara sempurna dari deposit Tanis.” (Foto milik Robert DePalma/Universitas Kansas/The Epoch Times)

“Tsunami akan memakan waktu setidaknya 17 jam atau lebih untuk mencapai lokasi dari kawah, tetapi gelombang seismik-dan gelombang berikutnya-akan mencapai kawasan itu, hanya dalam puluhan menit,” kata DePalma.

Diyakini bahwa gelombang seismik yang memancar keluar dari zona tumbukan menyebabkan terbentuknya dinding air setinggi 10 meter (33 kaki) yang membawa percampuran kehidupan air dan darat, di daratan. Meskipun beberapa spesies ikan ditemukan, termasuk beberapa spesies baru, tidak ada fosil dinosaurus di situs Tanis.

“Massa ikan air tawar, vertebrata darat, pohon, cabang, kayu bulat, ammonit laut, dan makhluk laut lainnya yang kusut, semuanya masuk ke dalam lapisan ini, oleh gelombang yang diarahkan ke daratan,” tulis Robert DePalma dalam sebuah laporan untuk Proceedings of the National Academy of Sciences, yang dirilis baru-baru ini.

“Waktu dari ejecta spherules yang masuk cocok dengan waktu kedatangan gelombang seismik yang dihitung dari tumbukan, menunjukkan bahwa tumbukan itu bisa saja memicu lonjakan,” sambungnya.

Spesimen sangat tidak terganggu oleh tangan manusia. Ini menunjukkan bahwa bencana itu mungkin telah melenyapkan hampir semua kehidupan pada waktu itu. Meskipun terkubur dangkal, tumpukan fosil tampaknya sebagian besar tetap utuh seperti ketika baru tertarik gelombang seismik.

“Sedimentasi terjadi begitu cepat, semuanya dilestarikan dalam tiga dimensi,” kata David Burnham, rekan penulis laporan, “Mereka tidak dihancurkan. Kami memiliki fosil seekor ikan yang menabrak pohon dan patah menjadi dua.”

“Robert DePalma menunjuk ke lapisan yang terdampak gelombang sesimik.” (Foto milik Robert DePalma/Universitas Kansas)

Ini menunjukkan bahwa hujan batu dan abu menyapu puing-puing yang dikeluarkan dari ledakan dan dibawa ke daratan oleh gelombang.

Fosil-fosil itu tercakup dalam bahan dengan konsentrasi tinggi iridium logam. Material yang diakui oleh para ahli geologi sebagai indikasi peristiwa kepunahan massal yang menyebar di seluruh dunia.

“Waktu dari ejecta spherules yang masuk cocok dengan waktu kedatangan yang dihitung dari gelombang seismik dari dampak, menunjukkan bahwa dampaknya bisa memicu lonjakan,” kata DePalma.

Dia merujuk keyakinan pada teori kepunahan massal yang telah berusia tiga dekade. Gagasan bahwa serangan asteroid memusnahkan dinosaurus hampir 66 juta tahun yang lalu, tepatnya di antara periode Cretaceous dan Paleogene, menggantikan keyakinan sebelumnya bahwa letusan gunung berapi menyebabkan kepunahan mereka, dan secara luas dipelajari dan diteliti di kalangan paleontolog hingga saat ini.

DePalma dan rekan-rekannya meyakini bahwa temuan situs Tanis dapat menjelaskan lebih banyak tentang peristiwa kepunahan massal ini daripada temuan lainnya hingga saat ini. (MICHAEL WING/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular