Berlin – Pengadilan federal Jerman menolak gugatan seorang pria untuk kompensasi kepada dokter yang merawat orangtuanya yang menderita demensia. Penggugat menilai orangtuanya mengalami penderitaan yang tidak perlu, karena dokter membuatnya tetap hidup.

Ayah pria itu, yang menderita demensia parah dan masalah kesehatan lain, diberi asupan makanan melalui tabung lambung dari tahun 2006, hingga ajal menjemputnya lima tahun kemudian. Penggugat berpendapat pada awal 2010, bahwa perawatan itu merupakan perpanjangan penderitaan pasien yang tidak masuk akal.

Pengadilan tingkat banding sebelumnya menerima gugatan anak pasien, dengan memutus bahwa dia berhak atas ganti rugi 40.000 euro (sekitar 600 juta rupiah). Pengadilan banding menilai bahwa dokter seharusnya berkonsultasi lebih jauh mengenai apakah pasien masih harus diberi asupan makanan.

Pengadilan Federal kemudian membatalkan putusan itu pada hari Selasa, 2 April 2019 lalu. Mahkamah Agung Jerman itu berpendapat bahwa tidak ada dasar untuk memberikan kompensasi. “Kehidupan manusia adalah hak yang dilindungi secara hukum, dan benar-benar layak untuk dilestarikan,” tulis MA Jerman dalam putusannya.

Latar Belakang Kasus
Penggugat, dalam kasus ini, tinggal di Amerika Serikat. Dia menuntut dokter di Munich di mana ayahnya meninggal karena demensia pada tahun 2011, seperti dikutip dari Deutsche Welle.

Sang ayah menderita demensia dan tidak bisa bergerak. Pada tahun 2006 para dokter memasukkan tabung lambung dan membuatnya tetap hidup selama bertahun-tahun, meskipun kondisinya terus memburuk. Tidak ada peluang bagi pasien bahwa dia akan membaik. Pria lansia itu juga tidak sanggup menulis surat wasiat atau menyatakan keinginan untuk memperpanjang hidupnya.

Putranya berpendapat bahwa keputusan dokter untuk memasukkan tabung lambung membuat hidup ayahnya, yang seharusnya sudah meninggal, hanya semakin sengsara.

Dia menggugat dokter untuk rasa sakit dan penderitaan ayahnya hingga US$ 199.605 (sekitr 2,8 miliar) dan US$ 68.286 (sekitar 1 miliar rupiah) sebagai ganti rugi biaya perawatan dari 2010, sampai kematian ayahnya pada tahun 2011.

Kasus ini pertama-tama diajukan ke pengadilan tingkat pertama yang memutuskan mendukung para dokter. Penggugat kemudian banding ke pengadilan regional di Munich pada tahun 2017. Pengadilan banding memutuskan bahwa dokter harus membayar ganti rugi US$ 52.528. Putusan ini kemudian diajukan kasasi ke Pengadilan Federal.

Pengadilan Federal mengatakan tidak dapat menilai bahwa dokter gagal dalam tugasnya. Karena itu tentang nilai-nilai untuk menyelamatkan kehidupan pasien.

“Tidak ada pihak ketiga yang berhak menilai nilai kehidupan,” kata ketua hakim Vera von Pentz, menurut Deutsche Welle (DW).

Keputusan pengadilan federal ini disambut gembira oleh Asosiasi Medis Jerman.

“Jika memperpanjang hidup seseorang dapat dikualifikasikan sebagai bahaya, maka keputusan tentang kapan hidup layak dan kapan itu mewakili bahaya harus diambil secara terpisah dari kehendak pasien,” kata Presiden asosiasi, Frank Ulrich Montgomery kepada kantor berita KNA, menurut DW. “Itu bukan pendekatan yang manusiawi,” tambahnya. (VENUS UPADHAYAYA dan Associated Press/The EPoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular