Athena — Polisi Yunani menembakkan gas air mata untuk membubarkan para migran yang berkumpul di sebuah ladang dekat perbatasan negara itu dengan Makedonia Utara, pada 5 April 2019. Para imigran ilegal itu sedang bersiap untuk menempuh perjalanan secara ilegal melalui Balkan menuju Eropa utara.

Ratusan orang berjalan dan berkumpul pada tanah lapang di desa Diavata sejak Kamis (4/4/2019) lalu. Mereka termotivasi oleh isu di media sosial tentang rencana gerakan terorganisir untuk melintasi perbatasan barat laut Yunani dengan Albania pada awal April.

Secara terpisah, para migran yang sedang bersembunyi di Turki juga sedang menuju ke perbatasan negara itu dengan Yunani, menyusul desas-desus palsu bahwa Ankara telah membuka gerbang perbatasannya. Pihak berwenang Turki telah menahan hampir 1.200 migran di sana, media Turki melaporkan.

Pada hari Jumat pagi para migran telah mendirikan lebih dari 100 tenda di lapangan di Diavata. Kerumunan yang mencoba untuk bergerak menuju perbatasan Yunani bentrok dengan polisi yang merespons dengan gas air mata. Rekaman TV menunjukkan semak-semak terbakar di dekat tanah lapang.

“Adalah kebohongan bahwa perbatasan akan terbuka,” Menteri Migrasi Yunani, Dimitris Vitsas mengatakan kepada televisi pemerintah Yunani.

Dia mendesak para migran untuk kembali ke pusat akomodasi mereka.

Di Athena, sekelompok imigran gelap sekitar 50 orang berjongkok di rel stasiun kereta api utama ibukota sambil berteriak “Jerman!” Dan “Buka perbatasan”. Beberapa imigran lainnya berada di stasiun, di bawah pengawalan polisi yang ketat. Layanan dari stasiun itu akhirnya ditunda.

“Kami ingin pergi ke Thessaloniki dan kemudian ke perbatasan,” kata Amin Omar, seorang Kurdi Irak berusia 27 tahun yang duduk di rel. “Kami tidak tahu apakah (pos perbatasan) itu terbuka.”

Rute Balkan Diblokir
Situasi ini menghidupkan kembali ingatan akan krisis migran pada 2015, ketika lebih dari satu juta orang, sebagian besar melarikan diri dari konflik dan kemiskinan di Timur Tengah dan sekitarnya, melakukan perjalanan melalui Turki, Yunani, dan Balkan menuju negara-negara Eropa Barat yang kaya.

Turki secara drastis mengurangi eksodus itu pada tahun 2016 berdasarkan kesepakatan dengan Uni Eropa. Segera setelah itu, negara-negara Balkan menutup perbatasan mereka, menghalangi jalan utama ke Eropa utara dan membuat puluhan ribu orang tertahan di Yunani.

Miltiadis Klapas, seorang pejabat kementerian migrasi Yunani, mengatakan gerakan terbaru menuju perbatasan adalah hasil dari informasi yang sama sekali tidak berdasar. Bahwa akan ada pertemuan massa di perbatasan, dan bahwa sejumlah pos lintas batas negara akan dibuka.

“Perbatasan ditutup karena inisiatif oleh negara lain,” kata Miltiadis Klapas.

Polisi Turki telah menahan 496 orang di Edirne, provinsi yang berbatasan dengan negara-negara anggota Uni Eropa, seperti Yunani dan Bulgaria. Mereka ditangkap setelah berbondong-bondong ke kawasan itu, dengan harapan dapat melintasi perbatasan, kata kantor berita Anadolu milik negara.

Para migran, sebagian besar warga Afghanistan, Iran atau Pakistan, menyebut diri mereka sebagai ‘Konvoi Harapan’.

Sekitar 700 migran juga ditangkap di provinsi tetangga Tekirdag setelah polisi diposisikan di jalan raya ke arah Edirne, kata Kantor Berita Demiroren.
 
Pihak berwenang belum bersedia untuk mengkonfirmasi laporan tersebut.

Rekaman televisi yang disiarkan pada hari Rabu menunjukkan polisi Turki mengenakan pakaian biasa mengejar para migran di sekitar rel kereta api, dan memaksa mereka menaiki sebuah bus. Kelompok lain, yang dikirim kembali ke Turki setelah secara ilegal menyeberang ke Yunani, dengan cemas menunggu untuk dikirim ke pusat repatriasi. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular