Oleh Reuters via The Epochtimes

Pemerintahan Komunis Tiongkok sedang berjuang untuk meredakan kekhawatiran mengenai rencana besar pemimpin Tiongkok Xi Jinping terkait Proyek OBOR pada KTT  akhir April 2019 mendatang. Langkah ini terutama di antara negara-negara Barat yang waspada dengan utang, transparansi, dan infiltrasi Tiongkok dengan proyek OBOR.

Tiongkok telah memperoleh kemenangan besar dengan meyakinkan Italia untuk menjadi negara G7 pertama yang secara resmi menandatangani rencana tersebut bulan lalu selama kunjungan Xi Jinping ke Roma.  Negara Barat lain kurang tertarik untuk ikut serta, meskipun banyak yang tetap berpikiran terbuka.

Inisiatif “One Belt, One Road” atau OBOR, bertujuan untuk membangun jaringan infrastruktur yang luas yang menghubungkan Tiongkok ke Asia Tengah, Asia Tenggara, Eropa dan sekitarnya, seperti Jalan Sutra kuno.

Setelah KTT OBOR yang pertama diselenggarakan dua tahun lalu di sebuah pusat pertemuan mewah  di perbukitan utara Beijing, KTT OBOR yang kedua dijadwalkan diselenggarakan di lokasi yang sama pada akhir April 2019. Komunis Tiongkok menyebutnya sebagai acara diplomatik Tiongkok terpenting tahun ini.

Diplomat top Tiongkok, Yang Jiechi, mengatakan bahwa hampir 40 pemimpin asing akan datang pada pertemuan itu.

Amerika Serikat, yang terjebak dalam perang dagang dengan Tiongkok, telah melontarkan kritik khusus terhadap OBOR. Bagi AS proyek OBOR disebut sebagai “proyek kesombongan infrastruktur” ketika Italia menandatanganinya.

BACA JUGA : Membongkar Taktik Komunis Tiongkok Menumbangkan Eropa dengan Strategi Memecah Belah dan Menaklukkan

Jonathan Cohen, pejabat perwakilan tetap Amerika Serikat di PBB, bulan lalu mengecam upaya Tiongkok untuk memasukkan bahasa OBOR ke dalam resolusi di Afghanistan. Cohen mengatakan pihaknya “mengetahui masalah dengan korupsi, kesulitan hutang, kerusakan lingkungan, dan kurangnya transparansi.”

Pada 2017, Amerika Serikat mengirim direktur senior Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih untuk urusan Asia, Matt Pottinger ke KTT OBOR.

Kali ini, Washington mengatakan tidak akan mengirim pejabat tingkat tinggi karena kekhawatirannya mengenai proyek tersebut.

Mungkin staf tingkat yang lebih rendah dari kedutaan AS di Beijing yang akan pergi ke KTT OBOR untuk mengamati dan mencatat, meskipun keputusan akhir belum dibuat.

Komunis Tiongkok mengatakan selalu menyambut “negara-negara yang sepaham dengannya” untuk mengambil bagian dalam proyek ini.

Belum diungkapkan daftar lengkap dari para pemimpin yang berencana untuk menghadiri acara tersebut.

Tetapi beberapa teman terdekat Beijing telah mengkonfirmasi bahwa mereka akan pergi, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan

Kewaspadaan Uni Eropa

Uni Eropa, mitra dagang terbesar Tiongkok, juga sudah terikat mengenai bagaimana merespons.

Pekan lalu, para pemimpin Eropa mengatakan kepada Xi Jinping bahwa mereka menginginkan hubungan perdagangan yang lebih adil dengan Tiongkok, menandakan keterbukaan untuk terlibat dengan proyek OBOR jika itu berarti lebih banyak akses ke pasar Tiongkok.

Kanselir Jerman Angela Merkel, berbicara pada KTT Uni Eropa pada Maret 2019, menggerutu mengenai keputusan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte untuk bergabung dengan proyek OBOR. Meskipun Angela Merkel mengatakan Jerman akan memainkan peran aktif dalam OBOR dan menyerukan untuk timbal balik.

BACA JUGA : Proyek OBOR Tiongkok Dikritik, Dinilai Menjelma Jadi Predator

Giuseppe Conte dijadwalkan menghadiri KTT tersebut. Roma mengatakan menandatangani OBOR akan membawa investasi yang sangat dibutuhkan dan meningkatkan perdagangan dan telah menunjukkan fakta bahwa belasan negara Uni Eropa telah menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Tiongkok, termasuk Hongaria, Polandia, Yunani dan Portugal.

Melindungi Kepentingan

Uni Eropa tahun lalu mengusulkan skema infrastrukturnya sendiri, tetapi telah membantah pihaknya berusaha untuk melawan ambisi Tiongkok.

“Bagi Tiongkok itu adalah masalah proyeksi kekuatan. Tiongkok merusak apa yang seharusnya menjadi arena permainan yang adil dengan menawarkan pinjaman yang membuat utang negara melonjak dan menciptakan budaya ketergantungan ekonomi pada Beijing,” kata seorang pejabat Uni Eropa.

Menteri Ekonomi Jerman Peter Altmaier, orang kepercayaan Merkel, menghadiri KTT itu, bersama dengan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian, di mana Peter Altmaier mengatakan mereka ingin “menjaga kepentingan Eropa dalam kerjasama dengan Tiongkok di sana.”

Beberapa pejabat Uni Eropa mengatakan Komisi Eropa masih mencari siapa yang akan dikirim sebagai pengganti Wakil Presiden Jyrki Katainen, yang menghadiri KTT OBOR 2017. Dia menyebut adanya tabrakan kalender dengan KTT Uni Eropa-Jepang.

Komunis Tiongkok terus mendorong untuk menunjukkan bahwa OBOR tetap populer, meskipun ada antusiasme yang dingin dari pemerintah termasuk di Pakistan, Sri Lanka, dan Malaysia. (Vv/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular