Oleh Reuters

Erabaru.net-Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah memutuskan hubungan dengan Huawei Technologies dan ZTE Corp. Sebagaimana dilaporkan pada (3/4/2019) oleh reuters.

Pemutusan ini ketika pihak berwenang Amerika Serikat menyelidiki perusahaan Tiongkok  tersebut atas dugaan pelanggaran sanksi AS.

MIT adalah lembaga pendidikan top Amerika Serikat yang baru-baru ini mencabut peralatan telekomunikasi yang dibuat oleh Huawei dan perusahaan Tiongkok lainnya untuk menghindari kehilangan dana federal.

“MIT tidak menerima keterlibatan baru atau memperbarui yang sudah ada dengan Huawei dan ZTE atau masing-masing anak perusahaannya karena investigasi federal mengenai pelanggaran pembatasan sanksi,” tulis wakil presiden MIT untuk penelitian, Maria Zuber, dalam sebuah surat di situs webnya

Kolaborasi dengan Tiongkok, Rusia dan Arab Saudi akan menghadapi prosedur peninjauan administrasi tambahan.

“MIT akan meninjau kembali kolaborasi dengan entitas-entitas ini ketika keadaan menentukan,” kata Maria Zuber.

Pernyataan MIT

Langkah ini merupakan tanggapan terhadap Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional, yang ditandatangani oleh Presiden Donald Trump pada Agustus 2018. Sebuah ketentuan undang-undang itu melarang penerima dana federal menggunakan peralatan telekomunikasi, layanan rekaman video, dan komponen jaringan yang dibuat oleh Huawei atau ZTE. UU itu juga termasuk dalam daftar hitam adalah penyedia peralatan audio-video Tiongkok Hikvision, Hytera, Dahua Technology dan afiliasinya.

Universitas di Amerika Serikat yang gagal mematuhi Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional pada Agustus 2020 berisiko kehilangan hibah penelitian federal dan pendanaan pemerintah lainnya.

“Kami kecewa dengan keputusan MIT, Kami percaya sistem peradilan Amerika Serikat yang pada akhirnya akan mencapai kesimpulan yang tepat,” kata Huawei pada Kamis lalu.

Sementara itu, ZTE tidak menanggapi permintaan Reuters untuk memberikan komentar.

Kepala staf keuangan Huawei, Meng Wanzhou,  dan juga sebagai putri pendiri Huawei, Ren Zhengfei, ditangkap di Kanada pada Desember 2018 atas permintaan Amerika Serikat. Dia ditangkap atas tuduhan penipuan bank dan kawat yang melanggar sanksi Amerika Serikat terhadap Iran.

Meng Wanzhou menyangkal tuduhan tersebut. Meng Wanzhou yang saat ini keluar dari penjara dengan jaminan di Vancouver, menghadapi proses ekstradisi di Kanada.

Sanksi Amerika Serikat memaksa ZTE untuk menghentikan sebagian besar bisnisnya antara April dan Juli tahun lalu setelah pejabat Departemen Perdagangan mengatakan mereka melanggar perjanjian dan tertangkap secara ilegal mengirimkan barang-barang asal Amerika Serikat ke Iran dan Korea Utara.

Sanksi dicabut setelah ZTE membayar denda 1,4 miliar dolar Ameriks Serikat.

Di Beijing, Kementerian Luar Negeri Tiongkok merujuk pertanyaan kepada kedua perusahaan, tetapi mengatakan perusahaan Tiongkok diharuskan untuk mematuhi hukum setempat.

Produsen peralatan telekomunikasi Tiongkok juga menghadapi pengawasan ketat, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, di tengah kekhawatiran Beijing akan menggunakan peralatan mereka untuk  kegiatan mata-mata. Beijing dan perusahaan Tiongkok telah berulang kali membantah klaim tersebut.

Universitas Lain Memutuskan Hubungan dengan Huawei dan ZTE

Seorang pejabat University of California di Berkeley mengatkan telah menghapus sistem konferensi video Huawei, sementara kampus University of California di Irvine bekerja untuk mengganti lima peralatan audio-video buatan Tiongkok.

Sementara itu, University of California San Diego telah melangkah lebih jauh. Menurut memo internal, pada Agustus 2018, universitas tersebut mengatakan bahwa setidaknya selama enam bulan tidak akan menerima dana dari atau mengadakan perjanjian dengan Huawei, ZTE Corporation, dan penyedia peralatan audio-video Tiongkok lainnya.

Universitas lainnya di Amerika Serikat, seperti University of Wisconsin, sedang dalam proses meninjau pemasok mereka.

Sedangkan, Universitas Oxford Inggris berhenti menerima dana dari Huawei tahun ini. (asr)

Kanishka Singh/The Epoch Times

Video Rekomendasi : 

Atau video Ini : 

Share

Video Popular