Erabaru.net- Presiden Tiongkok Xi Jinping  mengunjungi Prancis pada 25 Maret pekan lalu. Dia mengumumkan rencana pembelian 300 unit pesawat penumpang Airbus. Namun, Reuters baru-baru ini mengungkapkan bahwa 300 unit pesawat itu sebenarnya termasuk kontrak yang sudah terjadi di waktu lalu.

Sebelumnya sejumlah pihak memperkirakan Tiongkok mungkin membeli 180 unit pesawat Airbus, berita tersebut sempat menimbulkan berbagai opini publik. Media resmi Tiongkok juga mengklaim pesanan itu “mengejutkan Prancis”.

Namun, Reuters mengutip berita dari dua sumber yang mengetahui situasi memberitakan  bahwa pesanan tersebut termasuk transaksi yang sudah berjalan hanya saja digabungkan dalam penyebutannya. Itu termasuk beberapa transaksi yang telah disetujui sebelumnya tetapi belum diselesaikan.

Di antara kontrak yang ditandatangani minggu lalu, di antaranya termasuk pembelian 10 unit pesawat A350 yang telah diumumkan oleh Sichuan Airlines ketika menghadiri undangan Pameran Aerospace Internasional Farnborough di Inggris pada tahun lalu.

Selain itu, salah satu sumber mengatakan bahwa jumlah total 300 itu merupakan angka total yang diusulkan pada akhir seluruh proses, setelah Xi Jinping sudah berangkat melakukan kunjungan. Namun demikian, pesanan pembelian pesawat sering membutuhkan negosiasi sampai beberapa bulan.

Pesawat yang dipesan oleh Tiongkok berdasarkan daftar harga bernilai sekitar USD. 35 miliar, tetapi harga sebenarnya bisa lebih rendah dari itu.

Laporan itu mengatakan bahwa perusahaan Airbus menolak untuk mengomentari rincian pesanan, tetapi menjaga kemungkinan penurunan yang besar pada jumlah pesanan.

Ini sama halnya ketika Presiden AS Trump mengunjungi Tiongkok pada tahun 2017, di mana Tiongkok saat itu mengumumkan rencana pembelian 300 unit pesawat Boeing. Sifat dari kerangka kerja perjanjian yang dicapai dengan Airbus Eropa ini tampaknya berkondisi hampir identik, yakni mengandung “warna politik” yang cukup kental.

Reuters mengutip ucapan sumber yang berkecimpung dalam industri penerbangan melaporkan bahwa Boeing pernah memiliki pengalaman yang sama dengan Airbus ketika berhadapan dengan Tiongkok sebagai konsumen. Beberapa bulan sebelum perang dagang Tiongkok – AS pecah, Tiongkok mengumumkan rencana pembelian 300 unit pesawat Boeing saat Trump berkunjung ke Tiongkok.

Pada saat itu, beberapa analis menyatakan keraguannya tentang apakah kontrak itu dibesar-besarkan. Analisa mereka menyebutkan bahwa itu hanya semacam dukungan Tiongkok untuk kontrak yang telah dicapai dengan Boeing di masa lalu.

New York Times sebelumnya menganalisis, Macron menyambut kunjungan Xi Jinping dengan antusiasme, kehati-hatian, dan kewaspadaan. Macron menegaskan bahwa dalam pandangannya, untuk berurusan dengan hegemoni komunis Tiongkok, respons terpadu dari Eropa sangat penting artinya.

Analisis ini percaya bahwa di balik jabat tangan yang hangat, ucapan Macron yang tajam dipandang sebagai mikrokosmos dari sikap Prancis terhadap Beijing. Macron mengatakan bahwa masa naif Eropa telah berakhir dan komunis Tiongkok telah memanfaatkan perbedaan yang ada pada Eropa. Ia juga menyambut gembira atas kebangkitan Eropa.

Xi Jinping memberikan hadiah besar dalam kunjungannya ke Prancis, tetapi tidak demikian dengan Italia. Prancis tidak menandatangani penjualan komoditas global yang ada dalam proyek One Belt One Road yang digalang komunis Tiongkok. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular