Erabaru.net. Investasi Tiongkok di Eropa dan potensi ancaman keamanan terhadap kawasan tersebut sedang dalam pengawasan menyusul suatu pertemuan baru-baru ini untuk menandai peringatan ke-70 Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yang diadakan di Washington.

Pada pertemuan tersebut, Wakil Presiden Amerika Serikat  Mike Pence mengatakan bahwa kebangkitan Tiongkok adalah “tantangan terbesar yang akan dihadapi NATO dalam dekade mendatang.” Mike Pence menambahkan bahwa ini berarti Amerika Serikat perlu mencurahkan lebih banyak perhatian dan sumber daya untuk mengatasi tantangan tersebut.

Mike Pence juga meminta sekutu Eropa untuk turut berpartisipasi agar waspada terhadap Tiongkok.

“Menentukan bagaimana memenuhi tantangan teknologi 5G Tiongkok, dan memenuhi tantangan pinjaman lunak yang ditawarkan oleh Tiongkok yang berinisiatif terhadap proyek Belt and Road, adalah tantangan yang harus dihadapi sekutu Eropa setiap hari,” kata Mike Pence pada tanggal 3 April 2019.

Mike Pence membuat pernyataan mengenai keterlibatan NATO dalam acara selama dua hari di Washington, ketika para menteri luar negeri negara anggota NATO bersidang untuk memperingati ulang tahun NATO ke-70.

“One Belt, One Road” (OBOR, juga dikenal sebagai Belt and Road) adalah inisiatif investasi yang diumumkan oleh Beijing pada tahun 2013 yang bertujuan untuk membangun rute perdagangan di Asia, Eropa, dan Afrika melalui proyek infrastruktur yang dibiayai oleh Tiongkok.

Pemerintah Amerika Serikat telah mengkritik inisiatif untuk menjerumuskan negara-negara berkembang ke dalam “perangkap utang.” Misalnya, pemerintahan Sri Lanka dan Maladewa tidak dapat melunasi pinjaman mereka kepada Tiongkok, yang mengakibatkan pemerintahan tersebut menyerahkan kendali infrastruktur utama negara tersebut ke Tiongkok. Sementara itu, para pejabat dan pakar Amerika Serikat telah menyatakan keprihatinannya bahwa proyek OBOR dapat digunakan untuk memperkuat pengaruh militer Tiongkok, atau untuk menyebarkan teknologi yang mampu memata-matai kepentingan Barat.

Baru-baru ini, Italia bergabung dengan proyek OBOR, dengan menandatangani sejumlah kesepakatan investasi dengan Tiongkok, meskipun ada kekhawatiran dari para pejabat Eropa dan Amerika Serikat, serta anggota parlemen dalam koalisi yang berkuasa di Italia.

Kekhawatiran Mike Pence terhadap Tiongkok juga digaungkan oleh Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas dalam pidato pada tanggal 4 April 2019, yang mengatakan, “Tiongkok adalah tantangan pada hampir setiap topik, dan kita harus mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai dampak tidak langsung bagi NATO.”

5G dan Huawei

Komentar Mike Pence mengenai teknologi 5G Tiongkok adalah referensi terselubung untuk raksasa teknologi Tiongkok Huawei dan hubungan dekat Huawei dengan Beijing.

Teknologi komunikasi bergerak nirkabel generasi berikutnya dikatakan memiliki kekuatan untuk merevolusi banyak industri karena meningkatnya kecepatan jaringan. Di bawah 5G, hanya perlu 3,6 detik untuk mengunduh film sepanjang dua jam, dibandingkan dengan sekitar enam menit pada jaringan 4G serta 26 jam dengan 3G, menurut Consumer Technology Association, asosiasi perdagangan yang berkantor pusat di Virginia.

Senator Amerika Serikat Chris Murphy (D-Conn.), dalam pidatonya di acara NATO pada tanggal 3 April 2019, juga meningkatkan kekhawatiran terhadap Huawei. “Gagasan bahwa suatu perusahaan yang secara langsung terhubung dan berafiliasi dengan pemerintah Tiongkok dapat menghidupkan dan mematikan data kami adalah sesuatu yang seharusnya menyebabkan kita tidak dapat tidur,” kata Chris Murphy.

Sementara itu, Pusat Pertahanan ​Keunggulan Dunia Maya Kooperatif NATO, sebuah organisasi militer internasional yang berbasis di Estonia dengan misi untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dan berbagi informasi di antara anggota NATO, baru-baru ini mengeluarkan laporan ancaman keamanan terhadap Huawei.

“Ketakutan tetap bahwa mengadopsi teknologi 5G dari Huawei akan mengakibatkan ketergantungan pada peralatan yang dapat dikendalikan oleh dinas intelijen dan militer Tiongkok di masa damai dan krisis,” laporan itu memperingatkan, menambahkan bahwa perusahaan Tiongkok diwajibkan oleh hukum Tiongkok untuk bekerja sama dengan Beijing dalam mendukung kepentingan nasional Tiongkok.

Laporan itu menunjukkan bahwa setiap risiko keamanan yang ditimbulkan akibat menggunakan produk Huawei di infrastruktur kritis negara anggota NATO dapat terbawa ke aliansi NATO secara keseluruhan, karena aliansi NATO dapat menggunakan infrastruktur sipil negara tuan rumah.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg, berhari-hari sebelum ia menjadi kepala NATO pertama yang berpidato dalam pertemuan gabungan Kongres Amerika Serikat pada tanggal 3 April 2019, menegaskan bahwa risiko terbawanya dampak kepada aliansi NATO merupakan masalah penting dalam sebuah wawancara dengan majalah mingguan Jerman, Der Spiegel.

“Beberapa negara anggota NATO, termasuk Amerika Serikat, sangat prihatin Huawei mengatur jaringan anggota NATO, dan telah menyatakan pandangan mereka sesuai dengan hal tersebut dalam NATO. Kami menangani masalah ini dengan sangat serius,” kata Jens Stoltenberg.

Laut Hitam

Inisiatif baru di wilayah Laut Hitam juga diumumkan oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk NATO Kay Bailey Hutchison selama briefing berita pada  tanggal 1 April 2019 dan 2 April 2019.

“Kita harus memastikan bahwa semua negara NATO yang berada di Laut Hitam dan di sekitar Laut Hitam juga berada di bawah payung keamanan kita,” kata Kay Bailey Hutchison. Ia menjelaskan bahwa inisiatif tersebut kemungkinan akan mencakup pengawasan udara negara-negara NATO dan kapal-kapal menuju Laut Hitam untuk melindungi kepentingan Ukraina.

Kay Bailey Hutchison menambahkan bahwa NATO juga menilai kehadiran Tiongkok di kawasan itu, terutama karena aset Tiongkok telah membeli hak atas pelabuhan di seluruh dunia.

Sementara inisiatif ini lebih ditujukan untuk mengatasi “campur tangan Rusia,” menurut Kay Bailey Hutchison, pejabat Amerika Serikat yang sebelumnya telah memperingatkan kegiatan Tiongkok di wilayah tersebut.

“Pengaruh Tiongkok berkembang pesat di wilayah Laut Hitam. Beijing menggunakan diplomasi buku utang untuk menciptakan ketergantungan, yang mungkin tampak diabaikan pada hari ini tetapi pada akhirnya nanti akan menjadi pengaruh yang sangat nyata terhadap pemerintah dan masyarakat Eropa Tengah,” kata A. Wess Mitchell, asisten sekretaris negara Amerika Serikat untuk urusan Eropa dan Eurasia, ketika mengunjungi Rumania pada bulan Juni tahun lalu.

A. Wess Mitchell menambahkan: “Inisiatif 16+1 dan Belt/Road bertujuan untuk menciptakan alternatif bagi pengaruh Barat. Melalui uangnya, Tiongkok menawarkan semacam hipotek kepada negara-negara untuk masa depan mereka.”

Beijing meluncurkan platform 16+1 pada tahun 2012 untuk meningkatkan investasi ekonomi di 11 negara anggota Eropa dan lima negara Balkan.

Dalam laporan bulan Desember 2018, Lembaga Penelitian Kebijakan Luar Negeri, sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Philadelphia, memperingatkan bahwa tujuan utama Beijing di wilayah Laut Hitam adalah untuk menempatkan negara-negara dalam “poros pro-Beijing” – sebuah agenda politik yang lebih dari sekadar hanya membangun jalan dan jembatan.

Di antara temuan utama dalam laporan itu adalah bahwa Beijing telah menyelenggarakan lebih dari 200 konferensi, konferensi tingkat tinggi, dan pertemuan resmi lainnya sejak tahun 2012 untuk peserta dari negara-negara di Eropa Tengah dan Timur di bawah platform 16+1, untuk “mengidentifikasi dan menata suara-suara pro-Tiongkok dalam komunitas politik, bisnis, dan jurnalis.”

Minat Beijing di Laut Hitam termasuk pertanian, teknologi informasi, luar angkasa, dan infrastruktur pelabuhan.

Misalnya, di Rumania, yang merupakan anggota NATO, Kelompok Umum Tenaga Nuklir Tiongkok yang dikelola negara Tiongkok telah melakukan pembicaraan untuk membangun dua reaktor di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Cernavoda. Beijing juga sedang bernegosiasi untuk membangun koridor perdagangan yang menghubungkan Tiongkok dengan Pelabuhan Constanta, Rumania. (Frank Fang/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

 

Share

Video Popular