Munich – Seorang wanita Jerman yang bergabung dengan kelompok teroris ISIS diadili dengan dakwaan membiarkan seorang gadis Yazidi yang dia dan suaminya rawat sebagai ‘budak’ mati kehausan. Kasus ini dilaporkan merupakan yang pertama di dunia untuk kejahatan internasional yang dilakukan oleh anggota ISIS terhadap kelompok minoritas.

Jennifer W, muncul di pengadilan Munich pada 9 April 2019 ketika menghadiri pengumuman persidangannya perdana yang dijadwalkan pada 30 September 2019. Wanita berusia 27 tahun itu menghadapi ancaman hukuman penjara seumur hidup, jika dia dinyatakan bersalah. Dia menghadapi dakwaan berlapis atas kasus pembunuhan, pembunuhan sebagai kejahatan perang, mendapatkan keanggotaan dalam teroris organisasi, dan pelanggaran lain dari Undang-Undang Kontrol Senjata Perang Jerman, menurut AFP.

Dia diduga mengakui kematian anak itu kepada agen FBI yang menyamar dalam mobil yang disadap, menurut media Jerman Der Spiegel.

Pada 2015, Jennifer dan suaminya, Taha Sabah Noori Al-J, diduga membeli anak perempuan berusia 5 tahun itu dan ibunya, yang merupakan penggugat dalam persidangan, sebagai ‘budak’ rumah tangga. Mereka membelinya ketika pasangan itu tinggal di kota Mosul yang ketika itu diduduki ISIS, kantor berita Irak melaporkan.

Jaksa mengatakan setelah gadis itu jatuh sakit dan mengompol, suaminya diduga merantai gadis itu di luar rumah. Tempat dimana korban akhirnya meregang nyawa karena dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh pada musim panas.

“Jaksa federal menuduh terdakwa tidak melakukan intervensi meskipun seharusnya dapat melakukan sesuatu yang mungkin dapat menghindari kematian gadis berusia lima tahun ini,” kata juru bicara pengadilan Munich Florian Glitzky.

Pada Januari 2016, setelah kematian gadis itu, Jennifer pergi ke Kedutaan Besar Jerman di Ankara untuk memperbarui dokumen identitasnya. Setelah meninggalkan kantor misi diplomatik, dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman beberapa hari kemudian. Tetapi karena kurangnya bukti, dia diizinkan untuk kembali ke rumahnya di Jerman dan dia dengan cepat berusaha untuk kembali ke wilayah ISIS, menurut laporan kantor berita.

“Proses awal dimulai pada 2018 ketika terdakwa mencoba untuk kembali melakukan perjalanan ke wilayah yang disebut Negara Islam (ISIS) di Suriah, bersama dengan putrinya yang berusia dua tahun. Itulah peristiwa yang menjadi awal dimulainya kembali investigasi sejak awal, yang kemudian mengarah pada informasi tentang kejahatan terdakwa,” Jaksa Penuntut Umum Senior, Claudia Gorf mengatakan kepada wartawan pada 9 April 2019.

Menurut Der Spiegel, Jennifer ditangkap lagi setelah seorang informan polisi yang menyamar dalam mobil yang menawarkan untuk membawanya kembali ke ‘kekhalifahan’ ISIS. Pihak berwenang, yang mengikuti di belakang, mendengarkan percakapan di mana Dia diduga mengaku, yang kemudian menangkapnya di perhentian jalan raya dalam perjalanan ke Turki.

Pengacara hak asasi manusia Lebanon-Inggris, Amal Clooney mewakili ibu dari anak perempuan berusia 5 tahun yang diduga dibiarkan meninggal oleh seorang wanita Jerman dan suaminya yang bergabung dengan ISIS. (Foto : Damien Meyer/AFP/ Getty Images/The Epoch Times)

Pengacara hak asasi manusia yang berpusat di London, Amal Clooney, istri aktor Hollywood George Clooney, juga terlibat dalam kasus ini. Dia berpartisipasi dalam kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang kejahatan ISIS terhadap kelompok minoritas Yazidi. Pengacara itu kini berada pada tim yang mewakili ibu gadis muda itu.

“Saya berharap ini akan menjadi yang pertama dari banyak persidangan yang akhirnya akan membawa ISIS ke pengadilan sesuai dengan hukum internasional,” katanya dalam sebuah pernyataan, yang dikutip dari AFP.

Jennifer dilaporkan meninggalkan sekolah pada tahun 2013 ketika Dia duduk di kelas delapan dan masuk Islam. Kemudian pada pertengahan 2014, dia melakukan perjalanan dari rumahnya melalui Turki ke Suriah dan kemudian Irak di mana dia bergabung dengan ISIS.

Dia direkrut pada pertengahan 2015 untuk menjadi bagian dari ‘anti-vice squad’ atau polisi moral di mana dia berpatroli di taman kota di Fallujah dan Mosul yang diduduki ISIS dengan senapan serbu AK-47, pistol, dan rompi bahan peledak. Perannya adalah untuk memastikan bahwa aturan berpakaian ISIS yang ketat, perilaku publik, dan larangan alkohol dan tembakau diberlakukan. (JANITA KAN dan Reuters/The Epoch Times/waa)

Share

Video Popular