Erabaru.net. Seorang pria di Tiongkok baru-baru ini mendapatkan uangnya dicuri dari rekening banknya setelah teman sekamarnya memindai wajahnya saat ia tidur untuk melakukan pembayaran online dengan fitur pengenal wajah. Insiden itu sekali lagi mengangkat masalah keamanan terkait teknologi berbasis biometrik.

Menurut laporan tanggal 8 April 2019 oleh media Tiongkok, Chengdu Economic Daily, seorang pramusaji bermarga Yuan tinggal sekamar dengan dua temannya di Kota Ningbo, Provinsi Zhejiang. Baru-baru ini, saat memeriksa saldo di rekening banknya, Yuan terkejut menemukan bahwa saldo di rekeningnya hanya tersisa  0,59 yuan (0,09 dolar Amerika Serikat) padahal saldo yang ia memiliki sekitar 12.000 yuan (1.787 dolar Amerika Serikat). Segera ia melaporkan pencurian itu ke polisi setempat.

Setelah penyelidikan awal, polisi mencurigai bahwa dua teman sekamar Yuan, yang bermarga Liu dan Yang, mungkin telah mencuri uang tersebut. Ketika polisi menginterogasi Liu dan Yang, mereka mengaku menggunakan telepon pintar Yuan untuk melakukan pembayaran saat Yuan tidur. Mereka tahu bahwa Yuan secara teratur menggunakan fitur pengenalan wajah untuk melakukan pembayaran online, sehingga mereka memindai wajah Yuan untuk menggunakan uangnya.

Polisi juga menemukan bahwa biasanya fitur pengenal  wajah tidak akan berfungsi ketika mata seseorang tertutup. Namun, karena mutu fungsi pengenal wajah telepon pintar Yuan adalah di bawah standar, maka  memudahkan teman sekamarnya untuk memindai wajahnya saat Yuan tertidur.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi Tiongkok telah dengan giat mengembangkan dan mempopulerkan teknologi fitur pengenal wajah.

Pada tahun 2018, selama liburan Tahun Baru Imlek — di mana banyak orang pulang kampung untuk merayakan Tahun Baru Imlek bersama keluarga — stasiun kereta api Tiongkok mulai meluncurkan sistem pembayaran dengan menggunakan fitur pengenal wajah dalam skala besar, menggantikan sistem tiket dan sistem pemeriksaan identitas yang sudah kuno.

Selain itu, Alipay, layanan pembayaran mobile yang diciptakan oleh raksasa teknologi Alibaba, meluncurkan stasiun “pembayaran dengan fitur pengenal wajah” pertamanya di toko fisik di Shanghai pada bulan Desember 2018. Seorang pelanggan memindai komoditas terlebih dahulu, kemudian menempatkan wajahnya di depan kamera untuk melakukan pembayaran. Dengan segera UnionPay dan WeChat Pay mengikuti model tersebut di stasiun pembayaran mereka masing-masing di toko fisik. Tiga perusahaan ini, penyedia e-wallet terpopuler di Tiongkok, telah mempopulerkan penggunaan fitur pengenal wajah untuk pembayaran.

Namun, sehubungan dengan masalah privasi yang terkait dengan teknologi berbasis biometrik, para pakar industri telah lama menyatakan keprihatinannya.

Tan Jianfeng, ketua Shanghai People Network Security Technology Co., suatu perusahaan keamanan dunia maya Tiongkok, mengatakan kepada People’s Daily yang dikelola pemerintah Tiongkok selama wawancara pada bulan Maret 2017 bahwa, jika kata sandi anda dicuri, anda dapat mengatur ulang, tetapi informasi biometrik tidak dapat diatur ulang. Setelah fitur wajah anda dicuri, anda tidak dapat mengubah ke wajah lain.

Tan Jianfeng juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan fungsi fitur pengenal wajah untuk operasi online. “Di era big data, begitu otentikasi biometrik digunakan, harus ada database untuk penyimpanan fitur biometrik. Semua data akan dikonversi ke kode mesin segera setelah disimpan. Kode mesin apa pun dapat  dihadang,” kata Tan Jianfeng.

Tan Jianfeng sendiri memilih untuk tidak menggunakan sidik jari atau fitur pengenal wajah untuk aktivasi perangkat elektroniknya atau sebagai opsi pembayaran.

Namun, banyak orang Tiongkok lebih suka kenyamanan menggunakan teknologi tersebut.

Fitur pengenal wajah juga secara luas digunakan oleh otoritas Tiongkok melalui kamera keamanan, yang telah mendorong ahli keamanan dan hak asasi manusia untuk meningkatkan kekhawatiran mengenai pengawasan massa oleh otoriter yang melanggar privasi warganegara. (Olivia Li/Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular