Li Muyang

Pada akhir bulan ini, Beijing akan menjadi tuan rumah forum puncak inisiatif One Belt One Road atau OBOR yang kedua. Komunis Tiongkok ingin memanfaatkan kesempatannya sebagai tuan rumah untuk memainkan peran diplomatik luar negeri, memperluas pengaruh globalnya melalui dukungan para pemimpin negara-negara penandatangan inisiatif OBOR. Selain juga mencoba untuk menghilangkan kritikan dari negara-negara Barat.

Namun, bertentangan dengan harapan Amerika Serikat, negara adi kuasa ini dengan jelas menyatakan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Menjelang dibukanya forum diskusi, pihaknya malah meluncurkan serangan terhadap “raja infrastruktur” komunis Tiongkok.

Amerika Serikat sedang memberikan bantuan kepada negara-negara berkembang yang berpartisipasi dalam program OBOR komunis Tiongkok. Dampaknya, membantu mereka mengurangi kerugian.

Wall Street Journal melaporkan pada 10 April lalu bahwa Amerika Serikat dapat menggunakan tindakan ini sebagai strategi untuk menekan niat hegemoni komunis Tiongkok.

Negara pertama yang menerima bantuan AS adalah Myanmar. Dengan bantuan tim ahli dari Amerika Serikat, Myanmar dan Tiongkok telah menegosiasikan kembali ketentuan-ketentuan dalam kontrak. Akhirnya, berhasil memperkecil skup pekerjaan pembangunan sebuah pelabuhan laut dalam dan pembangunan sebuah zona industri.

Sebelumnya, pihak Tiongkok berencana membangun sebuah pelabuhan di Kyaukpyu, Myanmar dengan total investasi sebesar 7,3 miliar dolar Amerika Serikat. Tetapi pemerintah Myanmar pada tahun lalu mengatakan bahwa pelabuhan laut dalam tersebut tidak perlu dibangun sebesar yang direncanakan pihak Tiongkok pun dengan dana pinjaman yang begitu besar.

Setelah dipermasalahkan kemudian kedua belah pihak menandatangani kembali perjanjian dengan investasi proyek kurang dari 6 miliar dolar AS dari rencana sebelumnya, selisihnya hanya 1,3 miliar dolar AS.

Jika tidak dinegosiasikan kembali,  6 miliar dolar AS kemungkinan akan menjadi perangkap utang bagi Myanmar.

Menteri Perdagangan Myanmar, Than Myint mengatakan perjanjian baru memastikan bahwa Myanmar tidak akan jatuh ke dalam perangkap utang. Perjanjian baru ini memungkinkan kedua belah pihak untuk mencapai win-win solution.

Than Myint  mengatakan bahwa jika Myanmar bersedia, proyek pelabuhan itu dapat dikembangkan di lain waktu bila dibutuhkan. Dia mengatakan bahwa negosiasi ulang terdorong atas permintaan pemerintah daerah dan tidak menyebutkan bantuan eksternal.

AS dan Negara Barat Memberikan Bantuan Ahli

Namun, seorang sumber yang menguasai masalah kepada Wall Street Journal mengatakan bahwa pemerintah Myanmar telah meminta bantuan Amerika Serikat dan berharap bantuannya dalam meninjau kontrak untuk memastikan tidak ada jebakan hutang. Sumber tersebut juga mengungkapkan bahwa negara Barat lainnya, termasuk Inggris dan Australia juga memberikan bantuan serupa.

Pejabat Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan bahwa, United States Agency for International Development -USAID- atau Badan Pembangunan Internasional AS memang membantu pemerintah Myanmar untuk meninjau proyek tersebut. Tim yang terdiri dari pakar ekonom, diplomat, dan pengacara Amerika telah dikirim ke Myanmar untuk mengkaji nilai proyek.

Tugas dari tim ini adalah meninjau kontrak, mengingatkan pemerintah Myanmar atas transaksi yang mungkin tidak menguntungkan. Tim ini juga membantu pihak Myanmar untuk mencapai persyaratan yang lebih baik dengan lembaga atau perusahaan Tiongkoka.

Pejabat itu mengatakan bahwa setelah meninjau perjanjian, para ahli teknis akan bertanya : “Apakah struktur ini yang Anda inginkan ? Di mana letak kelayakannya ?” Dan memberikan penilaian apakah transaksi tersebut bermanfaat bagi negara.

Mark Green, Direktur USAID dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa mereka memiliki bagan rencana investasi publik yang merupakan bagian dari rencana pertumbuhan ekonomi Myanmar. Ia menyatakan bahwa sikap konsisten dari USAID adalah membantu negara-negara dalam melakukan survei uji tuntas, menilai potensi investasi dan proyek, kemudian memberikan saran kepada pejabat lokal.

Mark Green mengatakan meminjam uang dari komunis Tiongkok disertai dengan ketentuan-ketentuan yang keras. Amerika Serikat membantu negara-negara berkembang untuk menyadari tentang hal ini, memperluas bantuan internasional dalam semangat Rencana Marshall.

Atas saran dari para ahli Amerika, Myanmar sekali lagi duduk di meja perundingan dengan pihak Tiongkok, dan menghemat sejumlah biaya yang tidak diperlukan.

Membantu negara-negara yang berpartisipasi di OBOR mengevaluasi proyek

Pejabat AS mengatakan bahwa Amerika Serikat akan mereplikasi program serupa dan menggunakan tim-tim semacam itu di tempat lain. Langkah AS ini bertujuan membuat negara-negara yang terlibat dalam proyek OBOR memahami apakah proyek yang sedang berjalan sesuai dengan persyaratan mereka untuk pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di masa depan. Pada saat yang sama meningkatkan transparansi dari konten transaksi.

Kementerian Luar Negeri AS berharap dengan menggunakan metode ini untuk melawan praktik komunis Tiongkok mengekspansi pengaruh lewat melepas kredit dan melakukan investasi.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok melakukan pembelaan dengan mengatakan bahwa 150 negara dan organisasi internasional telah menandatangani dokumen kerja sama dengan Tiongkok. Pihak Tiongkok mengklaim beberapa proyek kerja sama telah selesai dan menghasilkan. Namun, kejadian  di Sri Lanka benar-benar menghancurkan citra OBOR komunis Tiongkok.

Pejabat yang bertanggung jawab atas proyek Relink Asia dari Pusat Studi Strategis dan Internasional tersebut menunjukkan bahwa itu adalah akibat perbuatan komunis Tiongkok sendiri. Ia berpendapat bahwa Amerika Serikat seharusnya mengirim lebih banyak kelompok penasihat ke negara-negara berkembang untuk membantu mereka melindungi kepentingan mereka sendiri.

Hindari jebakan hutang lewat proyek OBOR

Seperti yang kita ketahui, pelabuhan Hambantota, Sri Lanka yang dibangun lewat proyek OBOR komunis Tiongkok memiliki skala yang terlalu besar, sehingga pemerintah Sri Lanka tidak mampu membayar utangnya. Akhirnya pelabuhan strategis ini terpaksa disewakan kepada komunis Tiongkok selama 99 tahun.

Meski begitu, masih belum cukup untuk membayar  hutang. Sri Lanka harus meminjam lebih banyak uang dari komunis Tiongkok. Di bawah lingkaran setan ini, Sri Lanka semakin tergantung pada negara komunis itu.

Bagaimana pun utang harus dibayar. Utang luar negeri Sri Lanka yang harus dibayar pada tahun ini mencapai 6 miliar dolar AS, Jumlah yang harus dibayar pada kuartal tahun ini saja sudah mencapai 2,6 miliar dolar AS. Akan sulit bagi negara kepulauan kecil itu untuk membayar kembali hutangnya yang sebesar 6 miliar dolar AS. Jadi masalahnya akan menjadi semakin rumit dan sulit diatasi.

Ini juga salah satu alasan utama yang diungkap Amerika Serikat mengapa metode pembiayaan proyek OBOR dianggap tidak transparan, jebakan utang, dikelola dengan buruk, dan mengabaikan norma dan standar yang diakui secara internasional. Oleh karena itu, Amerika Serikat tidak tertarik untuk menghadiri forum puncak inisiatif OBOR.

Negara lain yang juga tidak berminat untuk menghadiri forum pucak OBOR di Beijing itu adalah India.

Media India ‘Times of India’ beberapa hari lalu melaporkan, pemerintah India untuk kedua kalinya menolak untuk menghadiri undangan Beijing dengan alasan bahwa, inisiatif tersebut merusak integritas kedaulatan India. Negara itu menuding proyek OBOR merupakan diplomasi hutang dan penerapan neokolonialisme dari komunis Tiongkok.

Lan Shu, seorang komentator politik mengatakan bahwa proyek OBOR tidak akan memberi keuntungan. Dia mengajak berpikir dengan melihat di satu sisi, ketika komunis Tiongkok telah menghambur-hamburkan uang keringat rakyatnya di negara orang, sedangkan rakyatnya sendiri tidak menerima manfaat apapun. Di sisi lain, ambisi komunis Tiongkok untuk ekspansi eksternal sangat jelas.

Lan Shu percaya bahwa forum tidak akan banyak membantu, karena komunitas internasional secara bertahap sudah melihat ambisi hegemonik komunis Tiongkok. Dalam konteks konfrontasi yang menyeluruh antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, Amerika Serikat bisa  makin gencar dalam memberikan perlawanan jika saja komunis Tiongkok tetap keras kepala. (Sin/asr)

Video Rekoemedasi : 

Share

Video Popular