Erabaru.net. Yulian (samaran) adalah seorang janda yang menjual tahu sebagai mata pencaharian hampir sepanjang hidupnya. Dia adalah seorang wanita pekerja keras yang selalu bangun antara jam 4 atau 5 pagi setiap hari, dan membawa tahu ke pasar saat fajar belum menyingsing.

Pada suatu pagi musim dingin, ketika dalam perjalanan pulang seusai menjual tahunya di pasar. Ia melihat seorang gadis cilik berusia delapan tahunan berlari tanpa alas kaki dan menangis di hadapan Yulian sambil berteriak : “lapar, lapar, saya lapar nek.”

Ilustrasi.

Melihat gadis cilik yang kedinginan tanpa alas kaki , pakaian tipis dan usang, juga bibirnya yang tampak pecah-pecah karena pengaruh hawa dingin, Yulian kemudian bertanya dengan lembut :” Orangtuamu di mana nak?” Sambil melepas mantelnya dan dibalutkan ke badan gadis cilik itu.

“Saya yatim piatu, nek, tidak punya keluarga,” kata gadis itu lalu tiba-tiba menangis sedih.

“Ah!” Yulian menghela nafas dan menghibur gadis itu. “Ayo kita pulang, nenek akan membuatkan makanan enak untukmu, mau ?” kata Yulian. Mata gadis seketika berseri-seri mendengar kata Yulian.

Sesampainya di rumah, Yulian mencari pakaian yang layak untuk gadis itu, dan membuatkan semangkuk bubur untuknya.

Yulian akhirnya tahu gadis cilik itu bernama Amei (samaran). Ibunya pergi dari rumah, sementara ayahnya sudah tiada, sekarang ia hidup sebatang kara. Untung Yulian bersedia menampungnya, dan Yulian sendiri juga sangat senang dengan adanya Amei, jadi dia tidak kesepian lagi.

Ilustrasi.

Yulian juga menyekolahkan Amei. Begitu ada waktu, Amei akan membantu menjual tahu sebelum dan sesudah sekolah. Meskipun dari penjualan tahu tidak banyak, tapi mereka tetap tersenyum bahagia.

Beberapa tahun kemudian, Amei yang dulunya kumal, kini tumbuh menjadi sesosok gadis remaja yang cantik. Setelah lulus sarjana, Amei bekerja dan tinggal di kota. Sementara itu, Yulian yang kini sudah memasuki usia senja tetap tinggal di desa dan hidup sendiri seperti semula.

Ilustrasi.

Tak lama kemudian, Amei berkenalan dengan seorang pria dari keluarga berada, dan menjalin hubungan serius. Dan dalam waktu relatif singkat, mereka pun menikah tiga bulan kemudian. Pada saat pernikahan, Yulian datang ke kota untuk menghadiri pernikahan Amei.

Di resepsi pernikahan, banyak kerabat dan teman mempelai pria yang berpakaian necis, suasana pernikahan sangat meriah. Sementara itu, Yulian yang berpakaian sederhana, tampak ragu untuk berbicara dengan orang lain, ia duduk di salah satu sudut dengan tenang, Amei yang melihatnya pun merasa sedih.

Setelah mengantar Yulian yang datang dengan tangan kosong, dalam hati Amei bersumpah setelah sukses nanti akan membawa Yulian tinggal bersamanya di kota.

Tak lama setelah menikah, Amei pun hamil, dan menunggu waktu kelahiran anaknya. Amei sesekali menelepon Yulian dan menanyakan kondisinya, dan selalu dijawab baik-baik saja oleh Yulian, tidak perlu khawatir.

Sebenarnya pernah terlintas dalam benak Amei untuk pulang ke kampung merayakan Tahun Baru, tapi karena perjalanan yang terlalu jauh dari kota tempat tinggalnya sekarang, lagipula saat liburan, jalanan di mana-mana pasti macet. Apalagi sekarang Amei sudah punya anak yang masih kecil, tidak tahan dengan perjalanan jarak jauh, akhirnya Amei pun batal pulang.

Tanpa terasa, sudah bertahun-tahun Amei tidak pulang ke kampung menjenguk Yulian, wanita yang dipanggilnya nenek sejak kecil.

Kini anak Amei sudah berusia empat tahun. Pagi itu, Amei menelepon nenek Yulian, ia dengan gembira menceritakan pada nenek Yulian gaji tahunannya sekarang hampir mendekati satu miliar.

Ia mengatakan tidak lama lagi akan membeli sebuah rumah untuk nenek Yulian, dan mengajaknya pindah ke kota, melihat-lihat cucu yang belum pernah dilihatnya sejak lahir.

Sementara di ujung telepon sana, Yulian tampak sangat gembira mendengarnya, terutama mendengar tentang cucunya.

Namun,karena sibuk dengan hal-hal di rumah. Amei tampaknya telah lupa dengan janjinya pada nenek Yulian. Dalam sekejap mata, putra Amei sudah duduk di sekolah dasar.

Hari itu, Amei menjemput putranya pulang dari sekolah. Ibu dan anak itu berjalan sambil bercanda dan tertawa.

Saat itu, mereka berjalan melewati seorang pekerja kebersihan, seorang wanita tua, mengenakan pakaian pekerja kebersihan, dan mengenakan masker, hanya terlihat sepasang matanya yang menjorok ke dalam, dan sibuk membersihkan sampah dengan kepala tertunduk..

Ilustrasi.

Entah kenapa, perasaan Amei bergetar dan seketika berdiri di tempat, ia mengerutkan kening sambil menatap punggung wanita itu. Ia berpikir wanita itu sangat mirip dengan Yulian. Tidak mungkin, nenek Yulian kan menjual tahu di kampung? katanya dalam hati

Apa penglihatanku yang kabur? Amei mengucek matanya, dan menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut, lalu menggandeng tangan putranya dan pulang.

Pada saat yang sama, wanita dengan kepala tertunduk itu mengangkat kepalanya sambil menatap dengan mata berkaca-kaca bayangan Amei dan putranya yang berlalu, dan secara diam-diam mengusap air matanya.

Hingga suatu hari, Amei kembali bertemu wanita itu lagi, dan dengan terkejut Amei berseru : “Nek, nenek Yulian ya ? Kok nenek ada di sini ?” Dan wanita tua itu memang Yulian.

Yulian tak bisa lagi menghindar karena Amei mengenali dirinya, dan dengan nada canda Yulian berkata: “Kenapa, memangnya orang tua tidak boleh ke sini, apa hanya kalian anak-anak muda yang boleh ke kota besar ini ya?”

“Sekarang orang-orang membuat tahu dengan mesin, lebih efisien, dan harga murah, jadi lebih baik nenek bekerja di luar daripada menjual tahu,”kata Yulian sambil tersenyum.

Amei sebenarnya tahu, Yulian pindah ke kota bukan untuk bekerja, karena rindu padanya dan cucunya.

Dan dengan perasaan campur aduk, Amei ikut Yulian ke tempat tinggalnya. Sederetan rumah yang sederhana, kecil sempit dan berantakan, hanya sepetak tempat untuk bersandar, Amei meneteskan air mata sedih melihat kondisi itu, lalu menarik tangan nenek Yulian dan berkata, :”Nek, ayo ikut Amei, tinggal di rumah Amei saja sambil melihat cucu kesayangan nenek.”

Melihat ekspresi malu Amei, Yulian menghibur dan berkata: “Tidak apa-apa, di sini juga cukup nyaman, upah bulanan juga tinggi. Oh, ya, atasan juga sangat memperhatikan pekerja kebersihan, memperbaiki mess pekerja. Fasilitasnya juga lengkap, benar-benar seperti orang kota sekarang.”

Ilustrasi.

Malamnya di rumah Amei, sekeluarga akhirnya berkumpul, mereka tersemyum dan tertawa meski tak terucap di bibir.

Amei berkata dengan perasaan bergejolak,: “Maaf nek, sudah bertahun-tahun, aku tak pernah pulang menjenguk nenek. O ya nek, ada satu rumah di dekat tempat tinggal Amei, lingkungannya nyaman, dan penduduknya juga ramah, Amei akan membelinya untuk nenek.”

Yulian hanya tersenyum dan berkata: “Tidak apa-apa nak, anak muda bekerja keras di luar, itu tidak mudah. Sebagai orangtua nenek bisa memahaminya. Jangan menghabiskan uang untuk membeli rumah. Kamu juga butuh uang yang tidak sedikit untuk biaya sekolah anak-anak nanti. Jangan khawatir, nenek akan segera memiliki rumah dinas. Nenek juga sudah cukup puas bisa melihat cucu setiap ada kesempatan ke rumahmu.”

Sampai di sini, Amei pun tak kuasa menahan air matanya, ia menangis terisak sambil memeluk Yulian, seorang wanita tua yang dulu menampung dan menyekolahkannya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular