Erabaru.net. Ada dua orang sahabat laki-laki, satunya sangat kaya bernama Jacky, dan satunya sangat miskin bernama Romi, hubungan persahabatan mereka sangat baik sehingga seperti keluarga.

Suatu hari saat sedang mengobrol, Jacky bertanya pada Romi,: “Apa kamu bersedia berkorban untukku ?”

Dengan tenang Romi menjawab,: “Bersedia.”

Jacky berkata lagi,: “Berikan tunanganmu itu untukku.”

Kemudian, Romi memberikan tunangannya kepada Jacky dan mereka pun menikah.

Belakangan, pekerjaan Romi tidak berjalan dengan lancar dan diberhentikan. Dia teringat dengan Jacky, sahabatnya yang sudah seperti keluarganya sendiri. Dia berpikir Jacky akan memberinya pekerjaan di perusahaannya, lalu dia pun pergi menemuinya. Tapi tak disangka, apa yang dipikirkan Romi ternyata tidak seperti yang dia harapkan. Sekretaris Jacky keluar menemui Romi dan berkata : “Jacky tidak berada di tempat.”

Romi pun kecewa medengarnya, dia berpikir, : “Sahabat saya yang paling baik bersikap seperti itu padaku, jadi saya juga tidak perlu menganggapnya sahabat.”

Kemudian Romi memutuskan hubungan persahabatan dengan Jacky.

Di tengah perjalanan, dia melihat seorang kakek berbaring di tanah seperti orang yang sekarat, dia menghampiri kakek itu dan membawanya ke rumah sakit, dan kakek itu selamat setelah diselamatkan dokter rumah sakit.

Ilustrasi.

Sebagai tanda ucapan terima kasih, kakek itu memberikan setengah dari hartanya untuk Romi, dan seketika itu Romi pun menjadi orang kaya.

Belakangan dia membeli sebuah rumah besar di sebelah rumah tempat tinggal Jacky. Waktu terus berlalu dari hari ke hari.

Suatu hari ketika Romi sedang duduk santai di rumah, seorang nenek mengetuk pintu rumahnya, nenek itu meminta sejumlah uang pada Romi.

Romi merasa iba melihat nenek itu, lalu berkata kepadanya,: “Nenek mau tinggal di rumah saya sebagai pengurus rumah tangga?” Nenek sangat senang mendengarnya dan sejak itu tinggal di rumah Romi.

Hubungan mereka perlahan-lahan menjadi hubungan ibu-anak. Romi sangat menghormati nenek itu. Suatu hari, si nenek bertanya kepada Romi : “Apa kamu sudah punya calon (istri)?” “Tidak.” Sahut Romi. Nenek berkata lagi, :”Nenek kenal seorang gadis, gimana kalau nenek kenalkan untukmu.”

Karena tak ingin membuat kecewa nenek, Romi pun mengangguk setuju.

Setelah cukup lama menjalin hubungan, Romi dan gadis itu pun saling menyukai, kemudian memutuskan untuk menikah.

Romi mengundang semua orang yang dikenalnya, dan meskipun dia sudah tidak menganggap Jacky sebaai saudaranya, tapi Romi tetap mengundang Jacky.

Dalam resepsi pernikahan itu Romi melihat Jacky duduk di salah satu sudut dan sedang memperhatikanya ketika dia sedang berdansa dengan mempelai wanita.

Saat itu, Romi tak tahan, lalu mengambil mikropon dan berkata,: “Dulu, saya punya seorang sahabat. Dia minta teman wanita saya untuk dinikahi saya berikan, tetapi ketika saya dalam kesulitan dan iningin menemuinya, dia tidak mau menemui saya dan menitipkan pesan kepada sekretarisnya bahwa dia tidak ada di tempat. Jadi sejak itu, dia bukan sahabat saya lagi …”

Ilustrasi.

Kemudian, Jacky juga tak tahan untuk tidak bicara, dia mengambil mikrofon dan berkata: “Dulu saya punya seorang sahabat. Wanita atau tunangannya yang mau dia nikahi ketika itu adalah seorang PSK, tetapi dia tidak tahu. Lalu wanita itu saya nikahi karena saya tidak ingin nama baik sahabat saya itu hancur karenanya.”

Kemudian, dia ke kantor saya dan meminta saya memberinya pekerjaan, tetapi saya tidak ingin saudara saya itu menjadi bawahan atau anak buah saya, kemudian saya menyuruh sekretaris mengatakan kepadanya bahwa saya tidak ada di tempat.

“Belakangan demi dirinya, saya meminta ayah saya untuk bersandiwara, meminta ayah saya berperan seperti pengemis yang sekarat di pinggir jalan. Saya tahu betul dengan sifatnya, dia pasti tak tega dan akan menolongnya.

“Kemudian, saya memberinya setengah dari harta saya atas nama ayah saya. Kemudian lagi, saya meminta tolong ibu saya untuk berperan sebagai pengemis tua, dan menjadi pengurus rumah tangganya, selanjutnya saya mengenalkan adik perempuan saya lewat ibu saya. Dan pada hari yang berbahagia ini, mempelai wanita yang menikah dengannya adalah adik perempuan saya.”

Sampai di sini, saya hanya ingin menambahkan bahwa sahabat dalam arti yang sebenarnya itu tidak membedakan miskin atau kaya, hina atau mulia.

Sahabat yang kemudian dianggap seperti saudara kandung itu tidaklah mudah, jadi hargai sahabat dalam hidup Anda, jangan curiga apalagi berprasangka buruk, dan jangan menerka-nerka dan jangan sampai salah paham.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular