Erabaru.net. Rumah keluarga bermarga Chen di Kabupaten Taoyuan, Kota Changde, Provinsi Hunan, Tiongkok tiba-tiba dilalap api pada 22 April pagi waktu setempat. Dalam kebakaran itu, demi menyelamatkan adiknya yang berusia 5 tahun, sang kakak, Chen Zimo mengalami luka bakar sekitar 55% di sekujur tubuhnya. Setelah upaya penyelamatan selama lima hari, akhirnya ia meninggal di rumah sakit setempat.

Menurut media setempat, Chen tinggal di Jalan Xiangyang, Kota Zhangjiang, Tiongkok, sebuah bangunan tiga lantai, tetapi kebakaran tiba-tiba terjadi pada Senin (22/4) pukul 3 dini hari waktu setempat.

Sang ayah Chen Hao menceritakan bahwa ketika itu dia mendengar suara panggilan putrinya dalam tidurnya, dan dia segera menyadari rumahnya terbakar. Dia kemudian bergegas lari ke lantai bawah untuk melihatnya.

Saat membuka pintu asap tebal seketika memenuhi seisi rumah, dia berlari ke kamar anaknya sambil menahan luka bakar di kaki kanannya. Namun, pemandangan di depan matanya membuatnya terkejut.

Chen Zimo, 12 tahun (kiri) dan adik laki-lakinya, usia 5 tahun (kanan) ( Foto : Xiaoxiang Morning News)

Chen Hao menuturkan, ketika itu dia melihat putranya yang berusia 5 tahun terbungkus selimut, sementara putrinya yang berusia 12 tahun memeluknya dengan erat, melindungi adiknya dari jilatan api.

Setelah kedua kakak beradik itu dibawa ke rumah sakit, kondisi sang adik yang mengalami cedera inhalasi kini sudah dalam keadaan stabil setelah perawatan trakeostomi.

Dia dipindahkan ke bangsal umum dan terus menjalani perawatan di bagian luka bakar dan bedah plastik.

Dokter mengatakan kepadanya bahwa jika bukan karena dilindungi Zimo, kakaknya, cedera bocah berusia 5 tahun itu mungkin tidak hanya 20% dari area yang terbakar, mungkin akan lebih serius.

Namun, sang kakak mengalami luka bakar 55% di area tubuhnya,koma selama lima hari, dan hingga akhirnya meninggal dunia pada Sabtu (27/4).

Sang ayah Chen Hau menangis pilu.(Foto: video screenshot)

Pada hari perkabungan itu, Chen Hau berjalan keluar dari unit perawatan intensif anak dan tak mampu menahan isak tangis sedihnya.

“Saya hanya berharap lembaga medis memberinya harapan terakhir. Mozi (adik laki-laki Zimo) tidak bisa tanpa sang kakak.. Dia adalah malaikat yang paling tegar, tidak pernah mengecewakan saya. Dan saya percaya kali ini juga dia tidak akan membuat saya kecewa. “Namun, takdir berkata lain, putrinya akhirnya meninggal tak mampu melewati masa kristis.

Dalam upacara perkabungan putrinya, sang ibu terus menangis sambil mendekap foto Zimo. Tetangga dan guru serta teman-teman sekolahnya tampak larut dalam kesedihan. Sebagian besar dari mereka tidak mampu berkata sepatah kata pun saking sedihnya. Beberapa orang berkata dengan lirih: “Gadis cilik itu terlalu berani”.

Sang ibu mendekap foto putrinya sambil menangis terisak.
Teman-teman sekolah Zimo juga tidak bisa tidak menangis ketika memberikan penghormatan terlahir untuk Zimo, temannya.
Zimo tewas demi melindngi Mozi, adiknya dengan badan mungilnya, tali persaudaraan yang dalam dari kedua kakak beradik itu membuat banyak orang tersentuh. (Foto / The paper.cn)

Sekarang yang membuat dilema keluarga adalah bagaimana memberitahu Mozi yang belum tahu dengan kabar buruk yang menimpa kakaknya.

Hubungan persaudaraan kedua kakak beradik itu sangat dalam, mereka hampir tak terpisahkan. Pernah ayahnya bertanya pada Mozi siapa yang paling disukainya? Spontan dia menjawab dengan polos ,: “Aku paling suka sama kakak.”(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular