Erabaru.net. Industri kendaraan listrik Tiongkok telah meledak selama hampir satu dekade, dengan subsidi yang murah hati dari pemerintah Tiongkok dan upaya pemasaran yang disponsori negara. Namun, kini subsidi penelitian dan pengembangan Tiongkok beralih ke kendaraan dengan sel bahan bakar hidrogen, suatu teknologi baru yang menurut industri, lebih bersih dan lebih efisien daripada mobil yang dijalankan dengan baterai litium. Produsen kendaraan listrik saat ini di Tiongkok harus menghadapi kenyataan yang kejam: industri kendaraan listrik akan segera menderita kerugian finansial dengan hilangnya dukungan negara.

Rezim Tiongkok Mengalihkan Subsidi Kepada Kendaraan Listrik dengan Bahan Bakar Hidrogen

Pada tanggal 26 Maret 2019, Kementerian Keuangan, Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan lembaga lainnya di Tiongkok bersama-sama mengumumkan perubahan program subsidi untuk mobil listrik bertenaga baterai litium, memotong subsidi hingga 67 persen.

Subsidi untuk mobil listrik dengan jarak jangkau 400 kilometer (250 mil) ke atas akan dipotong setengahnya, dari 50.000 yuan menjadi 25.000 yuan (3.700 dolar Amerika Serikat) per kendaraan. Dan untuk memenuhi syarat subsidi apa pun, mobil listrik harus memiliki jangkauan setidaknya 250 kilometer, dibandingkan dengan 150 kilometer sebelumnya.

Selain itu, subsidi untuk kendaraan listrik akan dihapus sepenuhnya setelah tahun 2020.

Pemicu: Perjalanan Li Keqiang ke Jepang

Kunjungan Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang ke Jepang tahun lalu secara mendasar mengubah pemikirannya mengenai kendaraan listrik.

Li Keqiang mengunjungi pabrik Toyota Motor Corp. di Hokkaido untuk membuat suku cadang kendaraan listrik pada tanggal 11 Mei 2018, di mana ia melihat kendaraan sel bahan bakar hidrogen yang disebut “MIRAI.” Ia mengetahui bahwa MIRAI hanya membutuhkan tiga hingga empat menit untuk mengisi bahan bakar dan memiliki jangkauan mengemudi 650 kilometer (404 mil).

Menurut beberapa laporan media Tiongkok, sekembalinya Li Keqiang ke Tiongkok, beberapa kementerian dan komisi di Tiongkok dengan cepat membentuk tim gabungan untuk mengembangkan teknologi sel bahan bakar hidrogen, sinyal pertama bahwa pembuat kebijakan Tiongkok akan menjadikan sel bahan bakar hidrogen sebagai proyek penelitian dan pengembangan yang utama.

Baterai litium memiliki beberapa kelemahan jika dibandingkan dengan sel bahan bakar hidrogen, yang menggunakan gas hidrogen sebagai daya.

Baterai litium mengandung logam berat seperti nikel, kobalt, dan mangan. Proses penambangan untuk mengekstraksi litium dapat menyebabkan polusi ke sumber air terdekat. Sementara itu, pemrosesan tembaga, litium, dan logam lainnya menghasilkan limbah beracun, yang jika tidak diolah dan didaur ulang dengan benar, dapat menyebabkan masalah lingkungan yang serius.

Pada tanggal 15 Maret 2019, Dewan Negara setingkat kabinet di Tiongkok mempublikasikan 83 amandemen atas Laporan Pekerjaan Pemerintah tahunan yang disampaikan di hadapan legislatifnya, yang di antaranya adalah ketentuan untuk mempromosikan pembangunan infrastruktur yang terkait dengan teknologi listrik dan sel bahan bakar  hidrogen. Pada saat itu, tidak ada rincian kebijakan tambahan, tetapi itu adalah pertama kalinya bahan bakar hidrogen dimasukkan dalam laporan.

Sebelas hari kemudian, pemerintah Tiongkok mengumumkan kebijakan subsidi kendaraan listrik yang baru yang disebutkan di atas.

Pada tanggal 11 April 2019, surat kabar berbahasa Inggris milik pemerintah Tiongkok, China Daily melaporkan bahwa rencana pengembangan pemerintah pusat untuk teknologi bahan bakar hidrogen telah menetapkan target untuk mendapatkan 5.000 kendaraan berenergi hidrogen di jalan pada tahun 2020, 50.000 kendaraan berenergi hidrogen di jalan pada tahun 2025 dan 1 juta kendaraan berenergi hidrogen di jalan pada tahun 2030.

Pengurangan Subsidi Menyebabkan Penurunan Pendapatan Produsen Mobil yang Tajam

Produsen  kendaraan listrik Tiongkok telah merugi.

Misalnya, BYD, produsen mobil di Tiongkok yang berkelas di pasar domestik. BYD memulai penelitian dan pengembangan kendaraan energi baru sepuluh tahun yang lalu.

Menurut portal berita China Sohu, mengutip informasi dari laporan keuangan BYD, dalam lima tahun terakhir, BYD telah menerima total subsidi kendaraan listrik sebesar 6,93 miliar yuan (1,03 miliar dolar Amerika Serikat) dari rezim Tiongkok.

Tetapi keuntungan BYD menurun. Dalam laporan tahunan BYD 2018 yang dirilis pada tanggal 27 Maret 2019, laba bersih perusahaan yang diatribusikan kepada pemegang saham adalah sebesar 2,78 miliar yuan, turun 31,6 persen dari tahun sebelumnya. BYD menjelaskan bahwa penurunan lebih dari 30 persen terutama disebabkan oleh pengurangan subsidi dan peningkatan biaya penelitian dan pengembangan.

Pada awal Maret 2019, NIO (dikenal sebagai Shanghai Weilai Automobile dalam bahasa Mandarin), yang khusus memproduksi kendaraan otonom listrik dan menjadi perusahaan publik hanya setengah tahun yang lalu, melaporkan pendapatan 4,951 miliar yuan (738 juta dolar Amerika Serikat) pada 2018 sementara kerugian bersih 9,639 miliar yuan (1,44 miliar dolar Amerika Serikat). Selain itu, Shanghai Weilai Automobile juga mengumumkan bahwa mereka akan membatalkan rencana untuk membangun pabrik baru di Shanghai.

Menurut laporan penelitian Morgan Stanley pada  bulan Oktober 2018, NIO telah merugi tahun demi tahun. Kerugian bersih pada 2018 adalah 9,639 miliar (1,44 miliar dolar Amerika Serikat), hampir dua kali lipat dari tahun 2017. Total kerugian dari 2016 hingga 2018 berjumlah 17,233 miliar yuan (2,57 miliar dolar Amerika Serikat).
Rezim Tiongkok yang menghapus subsidi kendaraan listrik dapat menghancurkan industri kendaraan listrik.

Kebangkitan dan Kejatuhan Industri Kendaraan Listrik Tiongkok

Konsep kendaraan energi baru telah lama ada. Perjanjian Paris yang diadopsi pada tahun 2015 telah menyebabkan banyak negara melakukan transformasi ke arah ini.

Rezim Tiongkok menganggapnya sebagai kesempatan untuk “mengungguli para pesaing dengan menyalip mereka di tikungan,” berharap bahwa kendaraan energi baru akan membantu mengubah nasib Tiongkok dari pengikut menjadi pemimpin dalam industri otomotif.

Dalam cetak biru ekonomi sepuluh tahun rezim Tiongkok  “Made in China 2025” yang dirilis pada tahun 2015, kendaraan energi baru adalah di antara sepuluh sektor teknologi tinggi yang ditargetkan Beijing untuk dikembangkan secara agresif sehingga Tiongkok dapat muncul sebagai lokomotif manufaktur teknologi global.

Pada saat yang sama, rezim Tiongkok memberikan banyak insentif — di antaranya: subsidi untuk produsen kendaraan listrik; persyaratan wajib bagi lembaga pemerintah untuk membeli persentase kendaraan listrik tertentu; subsidi untuk konsumen yang membeli kendaraan listrik; dan peningkatan akses khusus untuk kendaraan listrik yang mengangkut banyak penumpang— yang semuanya dengan cepat mendorong pertumbuhan industri kendaraan listrik. Kini Tiongkok adalah pemimpin global dalam membuat dan membeli mobil listrik.

Menurut perkiraan Morgan Stanley, Tiongkok diperkirakan akan menyumbang 59 persen dari penjualan kendaraan listrik global pada tahun 2020. (Olivia Li/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular