- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Kasus Spionase Komersial Terbesar di Belanda Terungkap Berhubungan dengan Komunis Tiongkok

oleh Chang Chun

Reuters mengutip berita yang disampaikan surat kabar keuangan Belanda ‘Het Financieele Dagblad’ pada hari Kamis 10 April lalu melaporkan bahwa, karyawan Tiongkok berhasil mencuri rahasia membuat chip dari perusahaan raksasa Belanda ASML Holding N.V.

Akibatnya, membuat perusahaan ini mengalami kerugian sampai ratusan juta dolar Amerika Serikat. Kasus ini dikenal sebagai kegiatan spionase terbesar dalam sejarah perusahaan Belanda.

Laporan ini diungkap oleh ‘Het Financieele Dagblad’ pada 11 April berdasarkan investigasi mereka. Akhirnya terbongkar adanya Agen mata-mata Komunis Tiongkok telah mencuri rahasia komersial dari perusahaan raksasa pembuat chip Belanda ASML.

Komentator politik Tian Yuan mengatakan ASML adalah perusahaan yang berspesialisasi dalam pembuatan peralatan litografi, yaitu mesin yang membangun dioda pada wafer semikonduktor. Kemudian mesin ini akan membuat semua sirkuit terintegrasi ini untuk digunakan di komputer. Adalah salah satu alat paling mendasar dari prosesor sentral. ASML sekarang memiliki setidaknya 90 persen pangsa pasar di kelasnya di dunia. Teknologi ini tidak dimiliki komunis Tiongkok”

Laporan itu mengatakan bahwa agen mata-mata Tiongkok itu adalah personel senior di bidang penelitian dan pengembangan perusahaan, mereka ini memiliki akses ke jaringan internal cabang ASML di San Jose di Amerika Serikat. Mereka menggunakan kemudahan itu untuk mencuri kode sumber perangkat, perangkat lunak, strategi penetapan harga perusahaan, dan manual peralatan yang digunakan di internal perusahaan, kemudian meneruskan informasi tersebut ke pesaingnya perusahaan XTAL.

Perusahaan XTAL didirikan di Silicon Valley, AS pada tahun 2014 oleh beberapa mantan karyawan ASML, perusahaan tersebut berinduk pada Dongfang Jingyuan Electron Limited. Setahun kemudian, XTAL berhasil membajak pelanggan utama ASML, termasuk raksasa elektronik Korea Selatan Samsung.

Pada bulan Nopember 2018, ASML menuntut XTAL lewat pengadilan dengan alasan mencuri rahasia perusahaan. Pengadilan kemudian memutuskan bahwa XTAL wajib membayar  sebesar USD. 233 juta sebagai ganti rugi. Sebulan kemudian, XTAL mengajukan permohonan pailit.

Putusan itu sebelumnya tidak menimbulkan banyak perhatian masyarakat, dan ASML juga mengatakan bahwa pihaknya tidak menemukan adanya hubungan XTAL dengan pemerintah Tiongkok.

Namun ‘Het Financieele Dagblad’ menyebutkan bahwa penelitian mereka menunjukkan bahwa perusahaan induk XTAL Tiongkok Dongfang Jingyuan memiliki hubungan dengan Kementerian Sains dan Teknologi Tiongkok. Fakta ini terbongkar bersumber laporan rahasia dari Dongfang Jingyuan.

Ternyata terungkap, di mana Kementerian Sains dan Teknologi Tiongkok telah memberikan dukungan kepada Dongfang terhadap perusahaan XTAL atas proyek yang sedang digarap, proyek itu bertujuan untuk memperkuat posisi teknologi wafer semikonduktor Tiongkok di pasar wafer internasional.

Menurut Tian Yuan, XTAL adalah perusahaan kosong. Karena semua orang tahu bahwa jika Anda mencuri kekayaan intelektual di Amerika Serikat, dan sampai masuk pengadilan, maka perusahaan akhirnya pasti bangkrut. Jadi tujuan dari para karyawan di Amerika Serikat sebenarnya bukan untuk mengoperasikan perusahaan. Tetapi untuk mentransfer kekayaan intelektual ASML ke perusahaan kosong tersebut, kemudian dari XTAL dialihkan lagi ke daratan Tiongkok. Akhirnya, apakah perusahaan XTAL itu dapat bertahan atau tidak, mereka sama sekali tidak peduli.

Zhang Xiaogang seorang seorang pengamat Australia mengatakan mendirikan anak perusahaan sebenarnya adalah metode yang sering digunakan oleh komunis Tiongkok. Sebenarnya, kasus itu sangat mirip dengan kasus Huawei Meng Wanzhou. Mereka juga secara ilegal mengekspor peralatan teknologi Amerika ke Iran dengan memanfaatkan anak perusahaan. Setelah itu anak perusahaan disingkirkan agar di kemudian hari tidak dihubung-hubungkan dengan Huawei.

“Jaringan ASML diserang oleh mata-mata Tiongkok” menjadi contoh peringatan dari Badan Intelijen dan Keamanan Umum Belanda atau Algemene Inlichtingen- en Veiligheidsdienst yang disingkat AIVD dalam laporan tahunan terbarunya. Partai besar pertama di Belanda yang sedang berkuasa VVD mengeluarkan pernyataan untuk pertama kalinya bahwa Belanda tidak boleh bekerja sama dengan Huawei dalam membangun jaringan 5G seluler.

Menurut Tian Yuan, Komunis Tiongkok selain mencuri intelijen ekonomi dan hak kekayaan intelektual untuk melemahkan negara-negara Barat. Nanti setelah perangkat keras dan lunak Huawei menguasai komunikasi Belanda, mungkin akan secara langsung mempengaruhi keamanan nasional Belanda dan menimbulkan bahaya jangka panjang.

Bagaimana pun juga Eropa kini sedang mengkaji kembali hubungannya dengan Tiongkok.

Laporan strategi Tiongkok yang dibuat pemerintah Belanda sudah akan dirilis pada bulan Mei mendatang. Tian Yuan percaya dengan latar belakang situasi seperti ini, perkembangan Huawei di Belanda jelas akan mengalami banyak hambatan. (Sin/asr)