Erabaru.net. Layanan logistik e-commerce raksasa Tiongkok JD.com mencatat kerugian lebih dari 2,3 miliar yuan (342 juta dolar Amerika Serikat) pada tahun 2018, yang mencatat kerugian tahun ke-12 secara berturut-turut, demikian kata pendiri dan CEO perusahaan Richard Liu kepada staf dalam email pada tanggal 15 April 2019.

Dalam surat internal yang diperoleh oleh 21st Century Business Herald, media pemerintah Tiongkok, Richard Liu mengatakan bahwa JD Logistics akan ditutup dalam waktu dua tahun jika praktik bisnisnya tidak mengalami perubahan.

“Alasan utama [untuk kerugian ini] adalah kurangnya pesanan dari klien eksternal, dan tingginya biaya operasional,” tulis Richard Liu.

Pengumuman internal datang hanya beberapa hari setelah JD.com mengkonfirmasi akan menghapus gaji tetap dasar kurir, sehingga pendapatan bulanan kurir hanya berasal dari komisi dari pengiriman yang mereka lakukan, serta mengurangi kontribusi untuk dana perumahan karyawan menjadi 7 persen dari 12 persen.

Kesengsaraan JD.com

Dalam surat itu, Richard Liu mengatakan bahwa angka kerugian JD Logistics akan naik menjadi 2,8 miliar yuan (417 juta dolar Amerika Serikat) jika pesanan dari cabang ritel JD.com dikeluarkan dari perhitungan.

“Kami hanya memiliki dua solusi di depan kami: Salah satunya adalah meningkatkan pesanan eksternal yang dapat menghasilkan lebih banyak pendapatan; solusi yang lain adalah memangkas biaya internal termasuk dengan mengurangi manfaat semua orang,” tulis Richard Liu.

Sementara JD Logistik mulai menerima pesanan dari pelanggan eksternal pada akhir 2016, pesanan dari platform ritel perusahaan, JD Mall, masih merupakan sebagian besar dari bisnis JD Logistik, majalah bisnis Tiongkok Caixin melaporkan.

Beberapa hari sebelum komunikasi internal, seorang karyawan JD.com membocorkan email lain dari CEO, di mana Richard Liu bersumpah untuk memecat tiga jenis karyawan: mereka yang “tidak mampu bekerja sekeras seorang pejuang,” mereka tidak mampu atau yang memiliki kinerja buruk, dan mereka yang memiliki rasio harga-kinerja rendah.

Menanggapi kebocoran tersebut, JD.com mengatakan komentar itu diambil di luar konteks dan mengacaukan makna isi email secara keseluruhan.

Pada tanggal 11 April 2019, JD.com mengkonfirmasi seorang karyawan JD Logistics melakukan bunuh diri di asrama perusahaan Beijing pada malam 10 April 2019. Perusahaan itu mengatakan karyawan tersebut menderita depresi berat.

Tetapi beberapa media Tiongkok, mengutip karyawan JD.com yang tidak dikenal, melaporkan bahwa seorang karyawan pria bunuh diri pada hari yang sama ketika JD Logistics memecatnya.

Phoenix Television yang berbasis di Hong Kong melaporkan pada tanggal 11 April 2019 bahwa pria tersebut telah mendaftar untuk program internal di mana perusahaan meminjamkan uang kepada karyawan untuk membeli apartemen. Outlet melaporkan bahwa ketika pria itu dipecat, JD.com memintanya untuk membayar seluruh jumlah pinjaman, yang berjumlah beberapa juta yuan (1 juta yuan adalah sekitar 149.000 dolar Amerika Serikat).

Menurut Phoenix Television, karyawan itu tidak dapat menemukan cara untuk mengembalikan  uang tersebut, lalu bunuh diri. Menanggapi laporan tersebut, JD.com mengatakan perlu lebih banyak waktu untuk memverifikasi klaim tersebut.

Pada tanggal 9 April 2019, The Information, mengutip investor anonim yang memberikan pengarahan mengenai masalah ini, melaporkan bahwa JD.com sedang mencari cara untuk memangkas 8 persen tenaga kerjanya pada akhir April 2019. Laporan tersebut kemudian ditolak oleh JD.com.

Menurut laporan tahunan 2018-nya, JD.com memiliki lebih dari 178.000 karyawan penuh-waktu pada tanggal 31 Desember 2018. Lebih dari setengah karyawan tersebut bekerja di JD Logistics, artinya sebagian besar karyawan JD.com adalah kurir.

Sebelumnya pada bulan Februari 2019, majalah pemerintah Tiongkok Entrepreneur melaporkan bahwa JD.com memastikan akan memberhentikan 10 persen karyawan mulai dari jabatan wakil presiden atau manajer tingkat yang lebih tinggi, total berjumlah 80 hingga 100 karyawan.

Sejak itu, Zhang Chen, kepala teknologi JD.com; Rain Long, kepala petugas hukum JD.com; dan Lan Ye, kepala urusan publik JD.com, telah mengundurkan diri. Mereka semua mengutip alasan pribadi atau keluarga untuk meninggalkan perusahaan.

‘Penghindar Tanggung Jawab’

Pada 12 April 2019, Richard Liu menulis di WeChat, media sosial mirip Facebook di Tiongkok, bahwa “penghindar tanggung jawab” di JD.com “bukanlah saudara-saudaranya.”

Dalam posting itu, Richard Liu mengatakan ia tidur tidak lebih dari dua jam setiap hari ketika ia pertama kali mendirikan JD.com, dan masih mengerjakan jadwal “8116 + 8” —yang artinya 8 pagi hingga 11 malam, dari Senin hingga Sabtu, 8 jam pada hari Minggu — dengan istirahat dua hari dalam sebulan, dan satu liburan panjang setiap tahun.

Richard Liu berkata bahwa ia tidak memaksa semua karyawan untuk mengerjakan jadwal “995” atau “996”, yang berarti bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam selama lima atau enam hari setiap  minggu. Tetapi ia mencatat bahwa ” penghindar tanggung jawab” harus dipecat.

Komentar Richard Liu datang di tengah kampanye online yang diluncurkan oleh pekerja teknologi Tiongkok memprotes jam kerja yang panjang dan budaya perusahaan yang terlalu kompetitif, yang menurut para ahli berdampak negatif terhadap kesehatan. (Nicole Hao/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular