Erabaru.net. Pensiunan ahli bedah Tiongkok yang mempertaruhkan nyawanya untuk mengekspos kasus SARS di Tiongkok 16 tahun lalu kembali menjalani tahanan rumah, setelah ia menulis surat kepada pemimpin Tiongkok  Xi Jinping pada awal Maret 2019 untuk menuntut ganti rugi atas tindakan keras rezim Tiongkok  terhadap gerakan demokrasi mahasiswa Lapangan Tiananmen pada tahun 1989.

Tahun ini menandai peringatan 30 tahun pembantaian Lapangan Tiananmen, ketika pasukan Tiongkok menembaki para mahasiswa yang berkumpul di Beijing untuk menyerukan reformasi pemerintah. Karena waktu yang mendesak maka  menyebabkan pihak berwenang meningkatkan penindasan terhadap para pembangkang.

Apple Daily yang berbasis di Hong Kong melaporkan pada tanggal 9 April 2019 bahwa Jiang Yanyong, seorang pensiunan ahli bedah militer yang sebelumnya bekerja di rumah sakit militer yang dikenal sebagai Rumah Sakit 301, menderita kerusakan sistem saraf dan membutuhkan perawatan medis.

Namun, ia menjalani tahanan rumah setelah mempublikasikan suratnya kepada Xi Jinping, yang ditulis selama “Dua Sesi” Beijing, sebuah pertemuan tahunan lembaga legislatif pendukung rezim dan badan penasihat politik Partai Komunis Tiongkok.

Jiang Yanyong, 87 tahun, telah membuat janji dengan empat ahli medis di Rumah Sakit 301 pada pagi hari tanggal 8 April 2019, menurut sebuah tweet pada tanggal 9 April 2019oleh jurnalis independen yang berbasis di Beijing, Gao Yu. Namun, ketika Jiang Yanyong dan istrinya — yang tinggal di sebuah kompleks perumahan di Beijing untuk pensiunan kader militer — berjalan ke pintu depan kompleks perumahan, penjaga keamanan mencegatnya dan mencegahnya keluar kompleks perumahan.

Menurut Gao Yu, kedua saluran telepon keluarga Jiang Yanyong diputuskan oleh otoritas Tiongkok.

Apple Daily mengetahui bahwa Jiang Yanyong sangat marah dengan apa yang terjadi dan berkata kepada seorang teman bahwa, “Saya bukan lagi anggota pasukan busuk ini yang dengan sengaja melanggar konstitusi. Mengapa saya bahkan tidak boleh pergi ke rumah sakit sendiri untuk menemui dokter?”

Jiang Yanyong adalah mantan presiden Rumah Sakit Umum 301. Ia dipaksa untuk pensiun pada tahun 1993, setelah menyuarakan ketidaksetujuannya atas penindasan rezim Tiongkok terhadap protes demokrasi Tiananmen pada tahun 1989.

Jiang Yanyong menjadi terkenal di kalangan komunitas Tionghoa perantauan di tahun 2003, setelah ia mempublikasikan keparahan epidemi  sindrom pernapasan akut yang parah, atau SARS, namun, perannya di Tiongkok sedikit diketahui.

Ketika penyakit SARS mulai menyebar di Tiongkok pada akhir 2002 dan awal 2003, media Tiongkok diperintahkan oleh pihak berwenang untuk berhenti melaporkan epidemi. Pada tanggal 3 April 2003, Menteri Kesehatan Tiongkok Zhang Wenkang mengadakan konferensi pers khusus untuk mengumumkan bahwa Beijing hanya memiliki 12 kasus SARS, dan bahwa penyakit itu “telah dikendalikan secara efektif.”

Zhang Wenkang mendesak orang asing untuk menghadiri pertemuan dan pameran bisnis di Beijing dan selatan provinsi Guangdong, mengatakan bahwa “Beijing adalah tempat yang aman untuk tinggal dan dikunjungi” dan bahwa “kehidupan sehari-hari di Guangdong berjalan normal.”

Keesokan harinya, Jiang Yanyong mengirim email surat yang memuat 800 kata kepada penyiar negara Tiongkok yaitu China Central Television dan Phoenix TV yang berbasis di Hong Kong untuk melaporkan informasi yang dikumpulkannya dari rumah sakit di Beijing. Meskipun tidak satu pun yang membalas atau menerbitkan suratnya, informasi tersebut bocor ke media Barat. Seorang jurnalis majalah Time menghubungi Jiang Yanyong pada tanggal 8 April 2003 dan menerbitkan suratnya hari itu juga.

“Saya benar-benar tidak dapat mempercayai apa yang saya lihat. Semua dokter dan perawat yang melihat berita kemarin sangat marah,” tulis Jiang Yanyong dalam emailnya kepada media Tiongkok. Jiang Yanyong mengatakan bahwa ia mengetahui dari staf medis di dua rumah sakit Beijing bahwa setidaknya ada tujuh orang yang meninggal akibat SARS dan 106 orang menderita SARS.

Setelah surat itu diketahui di seluruh dunia, walikota Beijing dan Menteri Kesehatan Tiongkok dipecat pada 21 April 2003. Pihak berwenang Tiongkok dengan cepat memainkan peran “pahlawan SARS,” secara aktif mengidentifikasi dan mengkarantina penderita SARS, sambil menjauhi Jiang Yanyong dari sorotan media.

Pada bulan Februari 2004, Jiang Yanyong memutuskan untuk mengambil keuntungan dari posisinya untuk menarik perhatian terhadap pelanggaran rezim Tiongkok. Ia menulis surat terbuka kepada pimpinan puncak Partai Komunis Tiongkok, mendesak mereka untuk mengakui bahwa kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok telah melakukan kesalahan dalam penumpasan para demonstran Tiananmen tahun 1989. Sebagai kepala departemen bedah umum di Rumah Sakit 301, ia secara pribadi merawat mahasiswa yang ditembak oleh tentara Tiongkok pada malam 3 Juni 1989.

Jiang Yanyong kemudian mengungkapkan dalam sebuah surat terbuka di tahun 2009 bahwa setelah ia menyusun surat mengenai pembantaian Lapangan Tiananmen, ia diculik dari ruang prakteknya oleh pihak berwenang dan ditahan selama tujuh minggu di wisma tamu tentara, di mana ia dipaksa untuk menjalani apa yang disebut “sesi belajar,” yang sebenarnya adalah sesi cuci otak. Karena tekanan dari komunitas internasional, Jiang Yanyong akhirnya dibebaskan, tetapi tetap menjadi tahanan rumah selama beberapa tahun.

Jiang Yanyong pernah berkata dalam sebuah wawancara media Tiongkok: “Setelah mengalami berbagai gerakan politik dalam 50 tahun terakhir, saya sangat merasa bahwa kita harus berbicara kebenaran dan menyampaikan isi pikiran kita yang sebenarnya. Meskipun sangat, sangat sulit, saya harus tetap mengatakan yang sebenarnya.” (Olivia Li/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular