Erabaru.net. Kelompok konglomerat Tiongkok HNA Group yang bertikai telah membantah tuduhan penggelapan dan ketidakberesan finansial yang dituduhkan oleh kelompok pemegang saham saingannya di Hong Kong Airlines ketika kedua belah pihak bersaing untuk mengendalikan Hong Kong Airlines yang sedang mengalami kesulitan.

Tuduhan itu dibuat oleh Zhong Guosong dan Frontier Investment Partner yang mengendalikan 61 persen saham Hong Kong Airlines. Pada tanggal 16 April, mereka menyatakan bahwa mereka telah mengambil kendali atas Hong Kong Airlines dan mengangkat Zhong Guosong, mantan direktur Hong Kong Airlines, sebagai ketua setelah rapat luar biasa para pemegang saham.

Pada hari Rabu, melalui juru bicaranya, Zhong Guosong dan Frontier Investment Partner mengatakan bahwa telah dilakukan penyelidikan “penggelapan aset Hong Kong Airlines dan penyelewengan keuangan yang serius oleh pihak HNA Group.”

Dalam pernyataan yang dikirim melalui email ke Reuters pada hari Jumat, HNA Group mengatakan bahwa tuduhan itu adalah “tidak benar.”

“HNA Group berkomitmen untuk standar integritas tertinggi dalam semua kegiatannya dan mengharapkan hal yang sama dari semua perwakilannya,” tambah HNA Group.

Situs web Hong Kong Airlines masih mencantumkan Hou Wei sebagai ketua.

Hou Wei bergabung dengan Hong Kong Airlines pada September tahun lalu setelah lebih dari empat tahun bersama Hainan Airlines yang dikendalikan oleh Hong Kong Airlines, menurut profil LinkedIn milik Hou Wei.

HNA Group memegang sekitar 29 persen Hong Kong Airlines, setelah menjual mayoritas sahamnya dua tahun lalu.

Pertempuran minggu ini datang saat Hong Kong Airlines berjuang untuk bertahan hidup. Awal bulan ini, eksekutif Hong Kong Airlines mengatakan kepada para pemegang saham bahwa perusahaan tersebut membutuhkan setidaknya 2 miliar dolar Hong Kong (254,95 juta dolar Amerika Serikat) untuk menghindari risiko kehilangan izin operasinya — dan menyebabkan kerugian tahun lalu sekitar 3 miliar dolar Hong Kong.

Perwakilan Zhong Guosong dan Frontier Investment Partner pada pertemuan itu, menuntut perincian akun tahun 2018 dan mempertanyakan hubungan dekat antara Hong Kong Airlines dengan afiliasi Hong Kong Airlines, yang termasuk pinjaman dan investasi ekuitas oleh Hong Kong Airlines ke HNA Group, demikian menurut akun Hong Kong Airlines 2017 yang dilihat oleh Reuters.

Pada hari Kamis minggu ini, kedua belah pihak bentrok lagi ketika Zhong Guosong dan Frontier Investment menuduh HNA Group menyerbu kantor pusat Hong Kong Airlines dan mengeluarkan dokumen — klaim yang dibantah oleh juru bicara Hong Kong Airlines.

Kemudian pada hari itu Hong Kong Airlines mengatakan bahwa staf keamanan tambahan yang terlihat di lobi dan serambi kantor Hong Kong Airlines adalah untuk menjaga ketertiban yang telah terganggu oleh perselisihan pemegang saham.

Pada Kamis malam, Biro Transportasi dan Perumahan Hong Kong mengatakan telah bertemu dengan perwakilan dari kedua belah pihak dan sedang memantau situasi.

Biro Transportasi dan Perumahan Hong Kong menambahkan bahwa Departemen Penerbangan Sipil telah meningkatkan pengawasannya terhadap operasi penerbangan Hong Kong Airlines untuk memastikan tidak ada gangguan selama liburan akhir pekan.

HNA Group berjuang lebih dari satu tahun dalam proses melepaskan akuisisi senilai 50 miliar dolar Amerika Serikat yang pada puncaknya menjaring perusahaan di bidang perbankan, manajer dana, hotel, properti dan maskapai penerbangan, di antara aset lainnya.

Tetapi dihadapkan dengan hutang yang melonjak dan pengawasan pemerintah terhadap kesepakatan yang agresif, HNA Group telah mendesak penjualan aset yang mencakup real estat dan hotel, dan diskusi mengenai unit-unit utama di luar negeri seperti Ingram Micro dan “Dream Jet,”perusahaan mewahnya yang bernilai 300 juta dolar Amerika Serikat plus korporasi.

HNA Group dan beberapa konglomerat besar Tiongkok lainnya berada di persimpangan rezim Tiongkok pada bulan Juni 2017 karena rezim Tiongkok berusaha mengekang investasi keuangan berisiko tinggi dan arus keluar modal.

Sumber yang dekat dengan otoritas pusat mengatakan kepada The Epoch Times pada saat itu bahwa penyisiran itu adalah bagian dari upaya kepemimpinan saat ini untuk membersihkan korupsi di industri keuangan Tiongkok.

Pendiri Tomorrow Group, Xiao Jianhua, dan Wu Xiaohui, mantan ketua Anbang, konglomerat asuransi, keduanya diinvestigasi pada tahun 2017. Sejak itu Wu Xiaohui dijatuhi hukuman 18 tahun penjara karena penipuan dan penggelapan. (Jennifer Hughes/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular