Erabaru.net. Lin Ying, mantan manajer maskapai penerbangan milik Tiongkok, Air China, mengaku bersalah di pengadilan federal di New York City pada tanggal 17 April karena bertindak sebagai agen rezim Tiongkok ketika ia menyelundupkan barang bawaan di pesawat untuk beberapa perwira militer Tiongkok.

Karena bertindak sebagai agen asing tanpa memberitahu otoritas Amerika Serikat, Lin Ying menghadapi hukuman 10 tahun penjara, demikian menurut siaran pers Departemen Kehakiman Amerika Serikat.

Saat bekerja untuk Air China di bandara New York dan New Jersey, Lin Ying mendesak rekan-rekannya untuk memberikan kesetiaan utama kepada Tiongkok dan membantu para perwira militer Tiongkok.

Lin Ying Mengaku Bersalah

Lin Ying, berusia 48 tahun, yang lahir di Tiongkok, menjadi warganegara Amerika Serikat melalui naturalisasi. Ia memiliki beberapa tempat tinggal di daerah New York.

Lin Ying telah bekerja untuk Air China selama 14 tahun dalam operasinya di Amerika Serikat. Menurut dokumen pengadilan, Lin Ying bekerja sebagai manager loket di bandara Internasional John F. Kennedy dari tahun 2002 hingga 2015, dan kemudian dipromosikan menjadi manajer stasiun di bandara Internasional Newark Liberty hingga April 2016.

Lin Ying mengaku bersalah di pengadilan federal di Brooklyn pada tanggal 17 April karena mengirim barang bawaan dari New York ke Beijing untuk perwira militer yang ditugaskan untuk misi permanen Tiongkok ke PBB. Ia menempatkan barang bawaan itu di penerbangan Air China sebagai “bagasi tanpa pendamping” atau diberi nama penumpang lain yang terbang dengan penerbangan tersebut.

Karena para perwira militer Tiongkok tidak melakukan perjalanan dengan penerbangan itu, maka tindakan Lin Ying melanggar peraturan Administrasi Keamanan Transportasi federal.

“Saya bertindak atas arahan para pejabat dan atasan saya, Air China. Saya tidak memberitahu jaksa agung Amerika Serikat,” kata Lin Ying kepada Hakim Distrik A. Ann Donnelly di pengadilan pada tanggal 17 April.

Pengadilan tidak mengungkapkan apa yang ada di dalam koper yang Lin Ying bantu kirim. Tetapi sebagai imbalan atas pekerjaannya, Lin Ying menerima manfaat dari Misi Tiongkok di PBB dan konsulat Tiongkok di New York City, menurut dokumen pengadilan, termasuk dekorasi interior di dua rumahnya di daerah Queens secara gratis, dan dapat melakukan pembelian bebas pajak dari produk elektronik Apple, jam tangan, rokok, dan minuman.

Pekerjaan interior dilakukan oleh pekerja konstruksi Tiongkok yang menerima visa untuk bekerja hanya pada fasilitas pemerintah Tiongkok di Amerika Serikat.

Lin Ying juga terlibat dalam kasus korupsi besar-besaran PBB, di mana ia pertama kali ditangkap pada bulan Agustus 2015 dan didakwa oleh jaksa Amerika Serikat dengan penataan deposito bank untuk menghindari persyaratan pelaporan transaksi, menurut laporan Reuters.

Kasus ini merupakan penyelidikan terhadap bagaimana taipan real estat Makau Ng Lap Seng menyuap diplomat Amerika Serikat sebagai imbalan atas dukungan untuk rencana konstruksinya. Ng Lap Seng dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman empat tahun penjara pada bulan Mei 2018.

Dalam kasus itu, Lin Ying juga didakwa menghalangi keadilan karena membantu Qin Fei, warganegara Tiongkok dan orang yang diduga rekan Ng Lap Seng, naik pesawat pada tanggal 28 Oktober 2015, ke Tiongkok, setelah Qin Fei dicurigai sebagai agen Tiongkok oleh otoritas Amerika Serikat.

Pada tanggal 17 April, pengadilan membebaskannya dari tuntutan ini dan tuduhan terkait lainnya dalam kasus Ng Lap Seng sebagai bagian dari kesepakatan pembelaannya.

Agen Pemerintah Tiongkok

Lin Ying mendesak karyawan Air China lainnya untuk membantu para perwira militer Tiongkok, menurut siaran pers DOJ, “menginstruksikan karyawan tersebut bahwa karena Air Carrier adalah perusahaan Republik Rakyat Tiongkok, maka kesetiaan utama mereka adalah Republik Rakyat Tiongkok.”

“Kasus ini adalah contoh nyata dari pemerintah Tiongkok menggunakan karyawan perusahaan Tiongkok yang melakukan bisnis di sini untuk terlibat dalam kegiatan ilegal. Secara diam-diam melakukan penawaran militer Tiongkok di tanah Amerika Serikat adalah kejahatan, serta Lin Ying dan militer Tiongkok mengambil keuntungan dari perusahaan komersial untuk menghindari pengawasan pemerintah Amerika Serikat yang sah,” kata Asisten Jaksa Agung John C. Demers dalam siaran pers.

Di pengadilan, Lin Ying setuju untuk kehilangan  170.000 dolar Amerika Serikat sebagai bagian dari permohonan bersalahnya.

Hukuman Lin Ying dijadwalkan pada tanggal 10 September. (Nicole Hao & Cai Rong/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular