Erabaru.net. Saat Wang Xue masih kecil, ayah kandungnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Sejak saat itu, ibunya menjadi orangtua tunggal dan sendirian membesarkan dirinya. Pada saat itu, Wang Xue pernah berpikir bahwa dia akan tinggal bersama ibunya seumur hidup dan tidak terpikir tentang seorang ayah lagi.

Satu hal yang tidak terpikirkan olehnya, dua tahun kemudian, suatu hari ibunya tiba-tiba bertanya padanya bagaimana kalau ia mencarikan seorang ayah baru untuknya ?

Pada saat itu, Wang Xue masih belum pahami apa maksud ibunya tentang ayah baru, sampai ibunya membawa pulang seorang pria, dia baru tahu ternyata ibunya mau menikah lagi.

Pada saat itu, Wang Xue sangat ketakutan karena dia pernah mendengar cerita dari teman sekolah dan tetangganya tentang sosok ayah dan ibu tiri yang suka memukul anak-anaknya. Dalam hatinya, ayah atau ibu tiri adalah sosok orang yang jahat.

Saat itu, dia merasa sangat takut, meskipun ketika pria itu pertama kali bertemu dengannya membelikan permen lollipop dan juga tersenyum ramah padanya. Tapi dia tetap saja takut padanya, bahkan dia tidak berani menyapa.

Dia tidak pernah bersikap ramah sedikit pun pada ayah tirinya, dia selalu mencari masalah. Karena sikapnya ini, ibunya sering menegurnya. Tapi ayah tirinya selalu tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa, namanya juga anak-anak, itu sangat normal, dia masih belun memhamai saya, katanya seakan membela Wang Xue.

Apa yang dikatakan ayah tirinya itu memang tidak salah. Wang Xue bersikap seperti itu karena ia masih merasa asing dan menduga-duga berdasarkan pikirannya.

Saat itu, ayah tirinya bangun jam 5 pagi, ia membuatkan sarapan dan menyiapkan buku pelajaran untuk Wang Xue yang akan berangkat ke sekolah jam 6 pagi. Ini adalah hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Wang Xue sejak pertama sekolah.

Rutinitas seperti itu dilakukan ayah tirinya selama bertahun-tahun. Sikap Wang Xue yang selalu dingin terhadap ayah tirinya itu mulai meleleh oleh tindakannya. Dan panggilan paman sejak awal berjumpa juga mulai berubah menjadi panggilan ayah.

Beberapa tahun kemudian, ibunya melahirkan seorang anak laki-laki. Sejak ibunya melahirkan adik laki-lakinya, Wang Xue merasa ibunya seakan tidak begitu peduli lagi padanya seperti dulu.

Dulu, ketika Wang Xue minta uang untuk membeli barang keperluan sekolah, ibunya selalu memberi tanpa banyak tanya. Tapi sekarang, ibunya selalu menolak, dan mengatakan bahwa tidak ada gunanya juga sekolah tinggi-tinggi bagi anak perempuan, lebih baik uang itu untuk keperluan adiknya kelak, kata ibunya.

Wang Xue terdiam, tidak tahu apa yang harus dikatakan setelah mendengar kata-kata ibunya. Dia berlari kembali ke kamar dan menangis. Ayah tiri mengetuk pintunya dan menyuruhnya membuka pintu untuk mengobrol dengannya.

Zhang Xue membuka pintu, ayah tirinya berkata kepadanya: “Sudahlah jangan menangis lagi, ayah akan memberimu uang, dan tetap harus sekolah. ayah akan mendukungmu, Wang Xue kembali menangis mendengar janji ayahnya itu.”

Berkat dukungan ayah tirinya, Wang Xue akhirnya menyelesaikan kuliahnya, kemudian menikah.

Pada hari pernikahan itu, ayah tirinya menggenggam tangan Wang Xue dan berkata kepada calon suaminya: “Saya hanya punya seorang putri, saya harap kamu tidak mengecewakannya, jika tidak, rasakan akibatnya nanti…”

Meskipun kata-kata yang disertai ancaman ini mengejutkan calon suami Wang Xue, namun, dalam hati Wang Xue justru terasa hangat.

Ibunya juga berpesan pada putrinya : “Setelah menikah, jalanilah hidupmu dengan baik, pulanglah kalau rindu sama keluarga.”

Meskipun ibunya tidak menginginkannya sekolah terlalu tinggi, tetapi Wang Xue tahu kasih sayang ibunya tak pernah berubah.

Dalam resepsi pernikahan itu, ayah tirinya memberi Wang Xue selembar kartu ATM, dan mengatakan bahwa ada saldo sekitar Rp 200 juta sebagai hadiah perkawinannya.

“Setelah punya keluarga baru, jalanilah hidup dengan baik dan pulanglah jika rindu pada keluarga di rumah, “ pesan ayah tirinya.

Wang Xue tahu, beberapa tahun belakangan ini, ayah tirinya telah mencurahkan kasih sayang melebihi putri kandungnya sendiri. Setelah menikah, Wang Xue dan suaminya berdiskusi untuk membeli rumah dengan uang pemberian dari ayah tiri Wang Xue.

Wang Xue hampir pingsan ketika melihat saldonya, karena ternyata uang pemberian ayah tirinya itu sebesar Rp 600 juta, bukannya Rp 200 juta seperti yang dikatakan ayah tirinya.

Berpikir ayah tirinya keliru memberinya kartu yang salah, Wang Xue lantas menanyakan hal itu pada ayah tirinya.

“Yang Rp 200 juta itu pemberian dari ibumu, dan yang Rp 400 juta dari saya pribadi. Ayah hanya punya seorang putri, jadi terimalah, tapi jangan bilang pada siapa pun, karena ibumu sendiri juga tidak tahu,” kata ayah tirinya.

Meskipun ayah kandungnya telah tiada sejak ia masih kecil, namun Tuhan tidak serta merta menyiksa batinnya, justru memberinya seseorang ayah yang jauh lebih baik daripada ayah kandung, dan memberinya sebuah keluarga yang bahagia.

Jangan disesatkan oleh drama TV dan kisah-kisah palsu di TV atau film. Asal tahu saja, tidak semua ayah tiri atau ibu tiri itu adalah sosok orang yang kejam. Mereka juga manusia biasa, yang memiliki perasaan, mereka hanyalah sekelompok orang yang pernah mengalami nasib yang malang. Diharapkan setiap insan untuk saling menghormati dan memahami satu sama lain.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular