Erabaru.net. Kata pengantar : Menikahlah denganku, kata-kata sederhana yang pernah berkali-kali dikatakan oleh penulis tentang betapa indah dan tulusnya cinta itu.

Pertama kali aku memintanya menikah denganku adalah di saat kami baru berusia enam tahun.

(Foto: Unsplash)

“Aku sebagai suami,” kataku. “Kamu yang menjadi istriku.”

“Tidak.” Dia hanya menjawabnya singkat.

“Boleh,” kataku.

“Tidak boleh,” sahutnya lagi, lalu lari. Beberapa menit kemudian, aku juga berlari keluar, bosan bermain sendiri di rumah.

Ketika aku melamarnya menikah untuk kedua kalinya, usia kami sudah 14 tahun. Saat sekolah akan mengadakan drama tahunan di sekolah, aku menjadi pasangannya, aku menunggu dia keluar dari ruang ganti.

Aku memakai jas hitam lengkap dengan dasinya. Ketika dia keluar dari ruang ganti, dia mengenakan rok merah muda lutut panjang, aku menarik napas dalam-dalam. Dia terlihat seperti bidadari yang baru turun dari khayangan. Sambil menunggu instruksi dari guru, aku terus memandangnya, tapi tak tahu apa yang harus dikatakan.

Dia menatapku dan sambil tersenyum dia berkata,: “Apa sih yang kamu lihat?”

“Menikahlah denganku?” kataku tiba-tiba.

Dia tersenyum, lalu tertawa lepas. Aku tidak peduli, aku bisa melihat kilauan cahaya di matanya yang bening. Dia masih saja tertawa ketika menarikku ke atas panggung.

Dan saat untuk ketiga kalinya memintanya untuk menikah denganku, pada saat itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-16 tahun.

Kami piknik dengan beberapa teman. Aku dan dia masing-masing duduk sendirian di bawah pohon, sedangkan teman-teman lainnya sedang sibuk membahas tentang acara berikutnya.

Dia tersenyum sekilas ketika mendengarkan teman-teman lainnya sedang mengobrol di kejauhan.

Aku memetik sekuntum bunga aster yang berada di sampingku dan memberikan kepadanya sambil berkata,: “Maukah kamu menjadi istriku?”

Dia melihat bunga aster di tangaku, tampak mukanya merona merah, lalu tertawa lagi. Dia mengambil bunga itu dan bergabung dengan beberapa teman lainnya. Aku pun menyusul bergabung dengan mereka yang sedang asyik ngobrol.

Dan untuk keempat kalinya adalah saat kami berusia 18 tahun. Kami duduk di kantin kampus, sambil menikmati jus jeruk kesukaannya, dia bilang betapa indahnya puisi yang dia baca baru-baru ini.

Setelah ngobrol beberapa menit, dia berhenti bicara dan bertanya,: “Ada apa? Kenapa kamu tidak bicara?”

Aku menatap matanya, dan berkata : “Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu selama sisa hidupku. Maukah kamu menikah denganku?”

Reaksinya sama seperti dulu, selalu tertawa dan berkata, :“Belum tiba waktunya kamu menikah.” Kemudian dia berbicara tentang puisi lain.

Kelima kalinya aku memintanya menikah, itu adalah hari kelulusan kami. Saat itu, kami berusia 21 tahun.

Aku berlutut sambil membawa setangkai bunga mawar dan berkata kepadanya, : “Sekarang, katakan kepadaku, bersediakah menerimaku sebagai suamimu?”

Dia tetap saja tersenyum seperti sebelumnya : “Kamu selalu terburu-buru. Kamu masih harus melanjutkan studi S2 kan?” Aku berdiri kemudian berjalan keluar dari aula kelulusan bersamanya.

Empat tahun kemudian, aku menyelesaikan studi S2 dan bekerja di perusahaan multinasional.

Kami duduk di sebuah toko es krim, kali ini dia yang memecahkan kesunyian. “Selama 4 tahun ini kamu tidak melamarku lagi,” katanya. “Apa yang terjadi? Apa kamu berubah pikiran?” Tanyanya bertubi-tubi sambil tersenyum ceria.

(Foto: Unsplash)

“Menurutmu apa yang terjadi?” kataku balik bertanya dingin.

“Aku pikir kamu takut aku akan menolakmu lagi.”

“Sejauh ini, kamu tidak benar-benar menolakku sekali pun. Kamu tidak pernah berkata ‘tidak’ kepadaku.”

“Aku serius ketika aku berumur enam tahun kala itu,” sahutnya.

“Dia masih ingat,” pikirku. Dia tertawa sambil mengingat masa kecil.

Aku mengambil sesendok es krim untuk dicicipinya dan berkata,: “Baiklah, kamu pernah sekali menolakku.”

“Lalu?” Tanyanya sambil menikmati es krimnya.

“Tidak ada lalu lagi,” sahutku singkat.

Dia memalingkan matanya dan diam, tidak tertawa lagi.

“Kenapa?” Tanyaku. “Apa menurutmu aku berubah pikiran?”

Dia mengerutkan kening dan berkata,: “Aku tidak tahu.”

Dia terlihat lebih cantik ketika dia mengangkat alisnya.

Aku memandangnya sebentar dan berkata,: “Kenapa hari ini kamu tidak membiarkanku melamarmu ?”

“Aku?” Dia bertanya dengan terkejut.

“Kenapa?” tanyaku. “Apa yang terjadi?”

Dia tersipu. “Tidak apa-apa,” katanya.

“Kamu menolakku lagi kali ini?” Tanyaku.

“Tidak, tidak!” sahutnya cepat.

“Kalau begitu kamu ingin mengatakan ‘ya’?”

(Foto: Unsplash)

Dia menyadari apa yang ingin saya lakukan, menjulurkan lidahnya ke arahku, dan duduk kembali menikmati es krimnya.

“Hei!” Aku menarik tangannya. “Menikahlah denganku.”

Dia mengendus dan menjawab: “Apa kamu serius?”

“Saat usia 6 tahun aku sudah serius,” kataku.

Dia diam, hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular