- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Terima Kasih kepada Dua Pohon

Erabaru.net. Seorang pemuda, yang saat masih kecil sangat disukai. Saat sekolah, ia adalah seorang siswa yang pintar dan ketua kelas. Saat duduk di kelas dua SMP, ia mengikuti kompetisi Olimpiade nasional dan memenangkan hadiah pertama.

Menjelang usia 17 tahun, dia mendaftar di universitas untuk pendidikannya lebih lanjut. Takdir memberinya cobaan besar saat menerima surat pemberitahuan masuk perguruan tinggi pada liburan musim panas ketika itu : Ketika ia menyeberang jalan, sebuah sedan yang melaju kencang dengan kejam menabraknya hingga membuat cacat sepasang kaki dan tangan kirinya.

[1]
Ilustrasi.

Anehnya, dalam menghadapi malapetaka ini, dia tidak serta merta jatuh terpuruk. Berkat tekat dan kegigihannya yang menakjubkan, akhirnya ia berhasil menyelesaikan semua program studinya.

Belakangan, dia mendirikan perusahaannya sendiri dan menjadi seorang bos perusahaan swasta dengan aset tetap miliaran rupiah. Selain itu juga terpilih sebagai ‚Äúsalah satu dari 10 anak muda yang luar biasa”di kotanya.

Hari itu, saya mewawancarainya dan bertanya kepadanya bagaimana ia mengatasi siksaan yang tak terbayangkan itu dan mencapai hasil yang luar biasa sekarang.

Jawabannya benar-benar di luar dugaan saya. Rasa terima kasih terbesarnya ternyata bukan pada orangtuanya yang telah memberinya perhatian besar, atau teman yang selalu menyemangati dan mendukungnya. Menghadapi pertanyaan saya, ini, dia menjawab dengan spontan, “Saya ingin berterima kasih kepada dua pohon!”

Setelah kecelakaan itu, dia yang memang menonjol sejak kecil dan memiliki harga diri yang kuat, tidak merasa itu adalah akhir dunia.

Ketika melihat kondisi fisiknya yang tidak lengkap, dia merasa sangat tersiksa, dan pernah terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri hidupnya. Dia merasa hidupnya sudah hancur. Tidak ada lagi tujuan dan makna yang berarti dalam hidupnya.

Bahkan ketika sayup-sayup mendengar suara klakson kendaraan dari kejauhan di rumah sakit juga bisa membuatnya tidak tenang, gelisah, dan suasana hatinya sangat tidak stabil.

Untuk menenangkan hati, dan mengalihkan perhatiannya, di mana setelah pulang dari rumah sakit, keluarganya kemudian sengaja membawanya ke rumah tantenya di desa untuk menenangkan diri. Di sana, ia bertemu dua pohon yang menentukan makna hidupnya.

Tantenya tinggal di sebuah desa kecil yang jauh dari kota, di sana suasananya tenang, nyaman, bahkan agak terbelakang.

Dia makan dan tidur setiap hari di halaman kecil rumah tantenya, setiap hari menghabiskan waktu yang dia pikir tidak lagi berharga, dia menjadi malas dan semakin tak bergairah, putus asa. Tanpa terasa setengah tahun pun berlalu.

Setiap pagi, anggota keluarga tantenya berangkat ke tempat masing-masing, ada yang berangkat kerja, ke sawah, dan sekolah, hanya tinggal dia sendirian di rumah.

[2]
Ilustrasi.

Dia merasa bosan menjalaninya hari-harinya yang monoton seperti itu, dia berjalan keluar dengan kursi rodanya.

Begitulah kegiatannya setiap hari, dan seakan-akan memang sudah direncanakan, dia melihat dua batang pohon di sana..

Di tempat yang jaraknya sekitar lima, enam puluh meteran dari rumah tantenya ada dua pohon yang terlihat sangat aneh, dahannya berkelok-kelok seperti rotan, tetapi berdiri tegak dengan kokoh.

Di antara kedua pohon itu, tampak sebuah kawat tebal sepanjang tujuh atau delapan meter saling mengait, dan dua ujung dari kawat itu tertanam dalam di batang pohon.

Tidak, sepertinya langsung melilit pohon! Hidup seperti seutas tali panjang yang terikat erat, bentuknya aneh dengan kedua ujungnya tebal, dan kecil di tengah.

Dia tampak penasaran, tetangga sebelah kemudian mengatakan kepadanya bahwa itu awalnya digunakan untuk menjemur pakaian. Tujuh, delapan tahun yang lalu, ada orang menarik kawat di antara dua pohon beringin kecil itu.

Seiring berjalannya waktu, batang pohon itu semakin lama makin besar, bagian yang terjerat oleh kawat tetap melilitnya, sehingga meninggalkan bekas luka yang dalam, dan kedua pohon kecil itu pun sekarat.

Ketika semua orang berpikir bahwa kedua pohon beringin ini tidak dapat lagi bertahan hidup, siapa sangka, setelah hujan di musim dingin tahun kedua, mereka menumbuhkan tunas baru, dan ketika batangnya semakin besar dari tahun ke tahun, kawat yang melilitnya pun “dilahapnya” sekaligus!

Entah kenapa, hatinya seketika terguncang : Dalam menghadapi kekerasan dan tekanan dari luar, pohon kecil itu tahu untuk melawan, jadi sebagai manusia, apa alasan Anda untuk menerima nasib dengan pasrah dan melepaskan usaha keras dalam menantang hidup!

[3]
Ilustrasi.

Di hadapan dua pohon beringin ini, dia merasa malu, dan pada saat yang sama membangkitkan semangatnya, dia terinspirasi oleh kedua pohon yang pantang menyerah itu.

Segera, dia pun meminta untuk kembali ke kota, mengambil buku pelajaran yang sudah lama ia tinggalkan dan dengan penuh percaya diri memulai hidup barunya.

Saya terdiam cukup lama setelah mendengarnya dengan tenang menceritakan kisahnya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi: