oleh Wu Ying

Sejak wabah flu babi Afrika menyerang Tiongkok tahun lalu, tak satu pun provinsi yang selamat dari serangan wabah ini. Bahkan telah menyebar sampai ke negeri tetangga Kamboja, Vietnam dan Mongolia. Cara pihak berwenang Komunis Tiongkok menangani penyebaran virus, tidak berbeda ketika mereka menangani penyakit SARS beberapa tahun silam.

Jika dunia membiarkan komunis Tiongkok menangani penyebaran virus flu babi Afrika dengan tindakan yang tidak bertanggung jawab, dikhawatirkan penyebaran penyakit ini akan semakin serius.

Kolumnis Bloomberg, Adam Minter pada 24 April lalu menerbitkan artikel berjudul  ‘Setiap Orang Harus Khawatir dengan Meluasnya Pandemi Flu Babi di Tiongkok’. Dalam tulisannya menyebut bahwa flu babi Afrika di Tiongkok adalah “cerita yang akrab di telinga tetapi tidak dipahami, epidemi mematikan tanpa penyembuhan ini telah menyebar ke seluruh daratan Tiongkok. Para pejabat di semua tingkatan pemerintah Tiongkok tidak mengakui seriusnya wabah ini. Sebaliknya, mereka memblokir laporan media dan melaporkan angka tingkat infeksi dan kematian yang lebih rendah dari angka sebenarnya untuk mempertahankan posisi mereka dan demi promosi jabatan.

Situasi seperti ini mengingatkan pada saat penyakit mematikan SARS merajalela di wilayah selatan daratan Tiongkok antara tahun 2002 dan 2003 silam. Dikarenakan otoritas Komunis Tiongkok menutup-nutupinya, SARS dengan cepat menyebar ke negara lain. Bahkan ketika itu, mengancam dunia sampai ke industri penerbangan, perjalanan, perdagangan, dan yang lebih serius membahayakan kesehatan dan kehidupan orang banyak.

The New York Times baru-baru ini melaporkan bahwa menurut perkiraan resmi dari komunis Tiongkok bahwa epidemi flu babi Afrika di wilayahnya telah mencapai tingkat bencana, lebih dari 1 juta ekor babi telah dimusnahkan. Namun, banyak petani dan analis ternak Tiongkok mengatakan bahwa virus penyakit yang sangat menular ini telah menyebar ke lebih banyak babi lokal. Jumlah babi yang mati sudah jauh melebihi data resmi.

Financial Times Inggris melaporkan bahwa epidemi flu babi Afrika di Tiongkok mungkin telah menyebabkan 130 juta ekor babi dimusnahkan. Angka tersebut baru sekitar sepertiga dari total jumlah babi. Analis Rabobank Belanda memperkirakan bahwa produksi babi Tiongkok akan berkurang 150 juta hingga 200 juta ekor tahun ini karena dampak flu babi.

Adam Minter dalam artikelnya menyebutkan, setelah mengalami pelajaran yang menyakitkan dari menyebarnya penyakit SARS, pihak berwenang Tiongkok sekali lagi mengulangi kesalahan yang sama dan membiarkan epidemi mematikan berkembang sampai tingkat yang tidak terkendali.

Meskipun untungnya virus flu babi Afrika hanya membahayakan nyawa babi dan tidak mempengaruhi manusia, tetapi situasi ini menyoroti, bahwa komunis Tiongkok belum sepenuhnya mengubah kebiasaan masa lalu. Bahkan belum memperkuat kemampuannya untuk mengatasi penyakit mematikan. Untuk menjaga muka, masih menggunakan cara menyembunyikan informasi dan membiarkan virus penyakit menyebar.

Dalam keadaan seperti itu, sulit untuk membayangkan dampak apa yang akan diderita oleh manusia tak berdosa di dunia jika ada wabah penyakit yang mengancam kesehatan dan jiwa manusia yang berjangkit di daratan Tiongkok.

Adam Minter dalam artikelnya menyebutkan bahwa tugas utama rezim Beijing adalah menjaga stabilitas sosial dan berupaya sekuat tenaga untuk menyembunyikan setiap insiden yang mungkin mengancam kekuasaan rezim. Sebagai contoh, pada tahun 1976, komunis Tiongkok memblokir laporan gempa bumi dahsyat di Tangshan yang menewaskan setengah juta warga. Pasalnya, rezim khawatir dengan ketidakpuasan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam merespons kejadian yang berjalan lambat.

Setelah Reformasi Ekonomi ala Deng Xiaoping, pemerintah Komunis Tiongkok masih mempertahankan praktik lama yang menyembunyikan fakta bencana alam maupun petaka buatan manusia. Selain itu, sikap pejabat pemerintah di semua tingkatan komunis Tiongkok sulit diubah,  mereka hanya mengutamakan kepentingan sendiri.

Pejabat lokal ingin mempromosikan pertumbuhan ekonomi daerah yang dapat menunjang dipromosikannya jabatan mereka. Terhadap munculnya epidemi baru yang mungkin berpengaruh terhadap kepentingan, mereka berusaha untuk menjauhi, bukan dijadikan tugas utama.

Epidemi flu babi Afrika memang tidak langsung membahayakan jiwa manusia seperti halnya SARS, akan tetapi negara-negara di seluruh dunia harus memperhatikan cara komunis Tiongkok menanggulangi masalah tersebut.

Tiongkok yang geografisnya terletak di rute migrasi burung, memiliki industri peternakan yang cukup besar. Sistem kesehatan masyarakatnya yang tidak efektif telah menciptakan kondisi terbaik untuk memicu munculnya epidemi yang membahayakan jutaan nyawa manusia. Bagaimana memastikan Beijing menanggapi potensi krisis epidemi ini dengan cara yang bertanggung jawab adalah prioritas utama bagi semua negara di dunia. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular