oleh Lin Yan

Kasus seorang diplomat Amerika Serikat yang membocorkan rahasia kepada mata-mata komunis Tiongkok telah menarik perhatian masyarakat.

Menurut edaran Kementerian Kehakiman AS pada Rabu, 24 April lalu. Kedua pihak mencapai kesepakatan atas pengakuan kesalahan dan penggugat mengakui konspirasi untuk menipu Amerika Serikat. Pengadilan federal akan mengumumkan putusan atas kasus tersebut pada 9 Juli mendatang.

Terdakwa kasus penjualan informasi rahasia ini adalah Candace Marie Claiborne, mantan pejabat senior Kementerian Luar Negeri AS yang berusia 63 tahun. Dia  mengakui kesalahan di pengadilan federal Distrik Columbia, Ia mengakui kesalahannya berupa melakukan konspirasi untuk menipu negara, termasuk mengakui telah berbohong kepada penyidik yang berlatar belakang penegak hukum.

Upaya yang dilakukannya adalah menyembunyikan hubungan antara dirinya dengan mata-mata komunis Tiongkok, melakukan pelanggaran melalui menerima hadiah dari agen komunis Tiongkok dengan menukarkan informasi/ dokumen internal Kemenlu AS.

Candace Marie Claiborne ditangkap pada 28 Maret 2017 lalu. Kasus ini disorot oleh media sebagai kasus besar setelah kasus Edward Snowden yang melibatkan ancaman terhadap keamanan nasional negeri paman Sam itu.

Setelah dua tahun persidangan, hingga 24 April 2019 Kemenlu AS baru mengeluarkan edaran yang menyatakan bahwa hakim dijadwalkan mengumumkan putusan akhir pada 9 Juli 2019. Claiborne kini menghadapi tuntutan hukuman penjara selama 5 tahun.

“Claiborne menggunakan informasi non-publik milik pemerintah AS untuk memperoleh imbalan berupa uang tunai dan hadiah lain dari agen asing. Padahal ia tahu bahwa agen asing tersebut melayani dinas intelijen komunis Tiongkok, tetapi ia menyembunyikan hubungannya dengan agen melalui berbohong,” kata John Demers, Asisten Jaksa Agung Keamanan Nasional Kementerian Kehakiman AS.

“Pengakuannya adalah langkah dalam keadilan kami untuk kejahatan yang memalukan itu”, tambah Demers.

Jaksa penuntut Distrik Columbia yang menangani kasus ini, Jessie Liu mengatakan bahwa ketika Candace Marie Claiborne menerima hadiah dan uang dari agen asing, ia telah merusak kepercayaan publik, lalu ia berbohong terhadap penyelidik yang berlatar belakang Kemenlu.

“Amerika Serikat akan terus menuntut perilaku (pejabat) yang menyalahgunakan kepercayaan, agar setiap pejabat bertanggung jawab terhadap tindakan mereka”, kata Jessie Liu.

Menurut catatan pengakuan bersalah, Claiborne yang direkrut sebagai pejabat yang bertanggung jawab terhadap kerahasiaan di Kemenlu AS  pada tahun 1999. Dia pernah mendapat tugas untuk bekerja di luar negeri, termasuk kota Baghdad di Irak, Khartoum di Sudan, Beijing dan Shanghai Tiongkok.

Ketika ia bertugas di Tiongkok, dua orang agen dari dinas intelijen Tiongkok memanfaatkan kesempatan mendaftarkan sekolah anaknya untuk menjalin hubungan persahabatan dengannya.

Hingga sebelum Dialog Ekonomi Strategis yang diadakan pada bulan Mei 2011, waktu itu Wakil Presiden AS Joe Biden dan Wakil Perdana Menteri Wang Qishan direncanakan bertemu di forum tersebut, dan agen mata-mata komunis Tiongkok ingin segera menguasai misi yang dibawa delegasi Amerika Serikat, lalu mulai menggali informasi dari mulut Claiborne, termasuk respon pemerintah AS terhadap nilai tukar RMB yang mana akan digunakan dalam dialog ekonomi strategis AS – Tiongkok.

Sebagai imbalan atas kesediaan memberikan informasi non-publik AS, Claiborne menerima lebih dari 2.000 dolar AS dari agen mata-mata komunis Tiongkok yang dikirim dari Hongkong.

Setiap kali sebelum dan sesudah agen mata-mata memperoleh info yang dibutuhkan dari Claiborne, kebutuhan ekonomi untuk diri dan keluarganya akan dipenuhi oleh agen. Seperti menyediakan beberapa perjalanan dalam atau luar negeri, membeli iPhone, komputer dan sebagainya. Termasuk membayar semua pengeluaran keluarga Claiborne yang bersekolah di Shanghai.

Menurut data penuntutan dari Kementerian Kehakiman AS, selama periode 2011-2016, Claiborne menerima uang tunai, produk elektronik, hiburan perjalanan, apartemen dan biaya sekolah fashion anggota keluarga dari agen mata-mata komunis Tiongkok mencapai puluhan ribu dolar AS. Hanya untuk item terakhir saja biayanya sudah mencapai hampir 60.000 dolar AS.

Sebagai pejabat senior Kemenlu AS, Claiborne sangat menyadari tata tertib yang berlaku. Seluruh staf kedutaan atau konsulat AS perlu melaporkan jika mereka menerima dari pemerintah asing hadiah senilai USD. 350. Baik itu hadiah berwujud maupun tidak berwujud. Namun, Claiborne tidak pernah melaporkan hubungan kontak maupun hadiah yang diterima kepada pemerintah AS.

Ia takut perilaku melanggar aturannya terungkap lalu memperingatkan keluarganya bahwa dirinya segera akan pensiun. Namun sekarang “lehernya sudah terjerat tali” sehingga ia tidak dapat lagi membebaskan diri dari hubungan yang dikendalikan oleh agen mata-mata komunis Tiongkok.

Untuk tujuan ini, Claiborne secara aktif menyembunyikan hubungannya dengan mata-mata komunis Tiongkok agar tidak diketahui pemerintah AS, terutama dalam menghadapi penyelidikan reguler oleh penyelidik yang berlatar belakang Kementerian Luar Negeri dan FBI, ia memilih untuk berbohong, bahkan meminta mata-mata komunis Tiongkok untuk membersihkan jejak hubungan dengan dirinya, termasuk informasi komunikasi yang pernah dilakukan lewat email, Skype dan WeChat.

Sampai ia terjebak oleh agen rahasia FBI yang menyamar, Claiborne baru sadar bahwa tindakannya telah diketahui dan semuanya berakhir. Setelah ditangkap, Claiborne hampir tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Atau anda menonton yang ini : 

Share

Video Popular