Erabaru.net. Kisah ini menceritakan sebuah keluarga biasa. Keluarga ini memiliki tiga anak, suami bekerja, anak-anaknya sekolah.

Ketika sang suami pulang dari kerja, dia berkata kepada istrinya: “Kamu benar-benar bahagia, sepanjang hari bersantai ria di rumah tanpa perlu kerja apa-apa, sementara aku setiap hari sibuk di luar, banyak hal-hal yang membuat kesal.”

Sang istri bersabar dengan sikap suaminya yang kerap berkata seperti itu. Ia menghadapinya dengan kesabaran dan kebajikan seorang wanita.

Ketika anak-anaknya pulang dari sekolah, mereka terus berteriak, mau makanlah, mau istirahatlah dan sebagainya, selalu bilang betapa sibuk, dan lelahnya belajar di sekolah, bahkan menyalahkan ibu mereka : “Ibu setiap hari di rumah, mana tahu kesusahan kami di sekolah.”

Ilustrasi.

Saat hari libur, sang istri berkata pada suami dan anak-anaknya, bahwa dia mau pulang sebetar menjenguk orangtuanya , jadi tolong kerjakan dulu pekerjaan sehari-hari di rumah.

Karena sang suami adalah seorang ahli manajemen, dia segera memerintahkan dirinya yang bertanggung jawab memasak untuk tiga kali makan sehari; putri sulungnya yang berusia 17 tahun bagian mencuci sayuran, menyiapkan hidangan makan di atas meja dan urusan dapur lainnya. sedangkan anak kedua kebagian tugas menyirami tanaman di taman, menyapu halaman. Sementara putri bungsu yang berusia 13 tahun, mengingat usianya yang masih kecil,mendapat jatah tugas membersihkan meja dan lingkungan sekitar.

Suatu hari sang suami dan ketiga anak-anaknya itu pun sakit pinggang, mereka berteriak tidak tahan lagi, terlalu banyak pekerjaan di rumah dan sangat melelahkan.

Pada saat itu , tiba-tiba terlintas dalam benak mereka, mereka kerja berempat, sedangkan ibu bekerja sendirian di rumah!

Mereka baru sadar, waktu bilang ibunya terlalu santai, tidak kerja apa-apa di rumah itu ternyata salah besar. Ibu sangat sibuk, ibu adalah sosok orang yang sangat hebat. Mereka baru menyadari bahwa tidaklah mudah menjadi ibu rumah tangga!

Waktu berlalu dengan cepat, ibu mereka akan segera merayakan ulang tahun ke-60 tahun. Anak-anak akan mengadakan pesta ulang tahun untuk ibu mereka yang telah bekerja keras setiap hari di rumah untuk keluarga.

Ilustrasi.

Seluruh keluarga berkumpul dan berdiskusi, hadiah apa yang paling cocok untuk ibu ? Mereka berpikir keras.

Selama puluhan tahun ini setiap orang telah menambahkan pakaian mereka masing-masing, hanya ibu yang selalu bilang tidak perlu.

Ada yang mencetuskan ide mengundang ibu mereka makan di luar, tetapi ada yang bilang bahwa ibu tidak suka makan banyak hidangan.

Mereka terus berembuk, kemudian adik laki-laki mereka berkata, :”Ibu paling suka makan makanan sisa! Pada hari ulang tahun ibu nanti, kita berikan saja makanan sisa untuk ibu.”

Pada hari ulang tahun ke-60 tahun itu, suami dan anak-anaknya tersenyum dan berkata kepadanya: “Ibu selalu bilang paling suka makan makanan sisa, jadi kita terpaksa menyiapkan sisa makanan untuk menyenangkan ibu sebagai bentuk perayaan ulang tahunmu.”

Sambil meneteskan air mata haru dan bahaga, ibu berkata kepada mereka: “Selama puluhan tahun ini, ibu memang suka makan sisa makanan.”

Sepenggal kisah tentang sisa makanan, entah berapa banyak lika-liku dan rahasia hati seorang ibu, tidak ada yang tahu, selain dirinya sendiri. Ibu yang lembut, baik hati, sosok wanita hebat, dan yang disebut ibu rumah tangga inilah yang menghabiskan begitu saja sepanjang hayatnya seperti ini.

Cinta kasih terbesar di dunia itu harus bisa mengerti dengan penderitaan orang lain, tidak mudah untuk melihat kebajikan seperti ini dalam masyarakat. Dalam sebuah keluarga, suami istri, anak-anak, harus selalu lebih peduli, perhatian dan memaklumi satu sama lain.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular