- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Ratusan Perusahaan Manufaktur AS di Tiongkok Mempertimbangkan untuk Pindah ke India

oleh Wu Ying

Forum Kemitraan Strategis AS-India atau The US-India Strategic Partnership Forum yang disingkat USISPF menyebutkan bahwa ratusan perusahaan manufaktur Amerika Serikat di daratan Tiongkok sedang mempertimbangkan untuk mengalihkan usahanya ke India.

USISPF adalah organisasi nirlaba yang misinya adalah memperkuat kemitraan strategis bilateral AS-India.

Ketua lembaga ini, Mukesh Aghi kepada media lokal India ‘My Nation’ mengatakan sekitar 200  perusahaan AS yang akan hengkang dari Tiongkok. Rencananya akan dilakukan usai pemilu di  India.

Sejak 11 April, India telah mengadakan pemilihan ulang Dewan Rakyat (House of Commons). Sebanyak 900 juta pemilih terdaftar di negara itu akan dibagi ke dalam 91 daerah pemilihan melalui 7 tahapan pemungutan suara untuk memilih anggota kongres baru. Pemungutan suara akan berlangsung hingga 19 Mei dan akan dihitung pada 23 Mei mendatang.

Menteri Perkeretaapian dan Energi India, Piyush Goyal memposting pesan di Twitter yang isinya memuji rencana Make in India yang digagaskan oleh Perdana Menteri Narendra Modi. Ia mengatakan India akan Menjadi pabrik dunia, menciptakan banyak lapangan kerja bagi kaum muda.

“Sekarang, terdapat hampir 200 perusahaan AS berencana untuk memindahkan basis manufaktur mereka dari daratan Tiongkok menuju India,” tulis Goyal.

Ketua USISPF, Mukesh Aghi percaya bahwa penting untuk menarik investor asing datang berinvestasi di India, dan menyarankan kepada pemerintah India agar meningkatkan transparansi dan memberikan lebih banyak konsultasi bagi investor asing. Ia menunjukkan bahwa dalam 12 hingga 18 bulan terakhir, banyak perusahaan AS bermaksud untuk berinvestasi di India setelah mempertimbangkan situasi di negara tersebut, termasuk e-commerce lokal dan pelokalan data.

Mengenai bagaimana pemerintah India setelah pemilihan umum dalam hal menarik investasi, Saran Aghi adalah bahwa New Delhi perlu mempercepat reformasi, meningkatkan transparansi dan mengambil lebih banyak tindakan.

“Kita perlu memahami cara menarik bisnis asing, yang berarti bahwa semua masalah harus diatasi, termasuk pembebasan lahan, bea cukai, dan bagaimana menjadi bagian dari rantai pasokan global,” katanya.

“Ada kebutuhan untuk melaksanakan reformasi lebih lanjut, yang saya pikir ini juga merupakan bagian dari proses untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja,” imbuhnya.

Aghi mengatakan bahwa mantan Asisten Perwakilan Dagang AS Mark Linscott sedang bekerja sama dengan USISPF untuk memberikan saran tentang langkah-langkah apa yang perlu diambil India untuk memperkuat ekspor.

Pihak India memperkirakan bahwa jika negara itu mengkhawatirkan barang-barang murah dari daratan Tiongkok, maka India perlu melakukan kerjasama melalui perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Amerika Serikat untuk mempertahankan hambatan terhadap barang-barang Tiongkok yang memasuki pasar India, lebih jauh membuka pasar bagi barang dan jasa AS serta membiarkan lebih banyak lagi komoditas India masuk pasar AS. Di sisi lain, setelah perjanjian FTA antara AS-India. Masalah sistem preferensi umum (Generalized System of Preferences. GSP) akan otomatis teratasi.

Pemerintah federal AS mengumumkan pada awal bulan Maret bahwa karena kegagalan India dalam memberikan peluang akses pasar yang adil dan masuk akal bagi AS, rencana itu akan mengakhiri preferensi tarif yang dinikmati India di bawah GSP AS.

Mukesh Aghi mengatakan bahwa anggota USISPF telah menginvestasikan lebih dari USD. 50 miliar di India selama 4 tahun terakhir. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :