Lin Lan -NTD

Forum KTT One Belt, One Road  atau OBOR yang ke-2, digelar 25 -27  April di Beijing. Menghadapi banjir kritikan, Beijing untuk pertama kalinya mengubah pandangannya dan mengundang sektor asing dan swasta untuk berpartisipasi.

Forum KTT OBOR kedua ini, tidak dihadiri sejumlah besar mitra dagang penting Tiongkok seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Kanada, dan India.

Sebagian besar negara Uni Eropa juga hanya mengirim pejabat menteri untuk hadir. Ini mencerminkan keraguan dan keprihatinan masyarakat internasional tentang  OBOR ala Tiongkok.

Selama sekitar lima tahun terakhir, OBOR yang dipimpin oleh Komunis Tiongkok telah berusaha untuk mempromosikan “lompatan besar ke depan” dari infrastruktur global melalui penerbitan pinjaman murah. Namun, banyak proyek konstruksi dituduh “tidak terlalu penting” dan “harganya terlalu tinggi.” Setidaknya 13 negara berkembang, seperti Sri Lanka, telah dibebani dengan utang besar dan harus menyerahkan sebagian dari kedaulatan mereka, seperti pelabuhan strategis negara itu ke komunis Tiongkok.

Kerap dikecam dari berbagai pihak, Beijing mengubah pernyataannya pada Jumat lalu. Beijing untuk pertama kalinya menyatakan bahwa Komunis Tiongkok tidak akan mengimplementasikan OBOR sendirian. Tapi mengundang sektor asing dan swasta untuk lebih banyak berpartisipasi dalam proyek tersebut.

Pengamat Tang Jingyuan  efek opini publik dari proposal ini jauh lebih besar daripada maknanya secara aktual. Banyak negara di sepanjang jalur sutra sedang dalam masa kekacauan politik dan ekonomi, sehingga risiko investasi sangat tinggi. Menurut dia, Komunis Tiongkok menganggap OBOR sebagai proyek politik untuk ekspansi geopolitik. Karena itu, meski tidak balik modal, tapi akan terus berinvestasi. Meski demikian, pemerintah Barat dan perusahaan swasta belum tentu akan ikut berpartisipasi.

Selain itu, untuk kali pertamanya Beijing mengumumkan bahwa Inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan akan dilaksanakan sesuai dengan aturan dan standar internasional yang diterima secara umum dalam semua aspek konstruksi, penawaran, dan proyek terkait lainnya.

Namun, menurut survei sebelumnya yang dilakukan oleh “Lembaga Penelitian Pasar Berkembang Universitas Normal Beijing”, banyak negara di sepanjang Inisiatif Belt and Road memiliki kinerja yang relatif buruk dalam jangka panjang terkait “aturan hukum” dan “kontrol korupsi.”

Para ahli percaya bahwa jika struktur sosial ini tidak berubah, maka proposal Beijing di atas hanya omong kosong belaka.

Inisiatif Sabuk dan Jalan dianggap sebagai alat bagi komunis Tiongkok untuk memperluas pengaruh politik dan ekonominya. Sejauh ini, telah menarik 123 negara bergabung, melintasi beberapa benua di Asia, Afrika, dan Eropa.

Namun, pakar Tiongkok, Shi Jiandao mengatakan bahwa karena neraca pembayaran internasional komunis Tiongkok, telah mengalami defisit sejak awal tahun lalu, sehingga tidak ada uang lagi untuk diinvestasikan dalam proyek-proyek ini, maka OBOR pada akhirnya akan lenyap. (Jon/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular