Yi Ru

Para ilmuwan Komunis Tiongkok baru-baru ini telah mengumumkan bahwa mereka telah mengembangkan kera yang dimodifikasi secara genetik dengan elemen otak manusia, yang telah menimbulkan kecaman para ahli etika. Para tokoh di kalangan ilmiah menyatakan bahwa perbuatan komunis Tiongkok yang amoral itu akan menimbulkan murka Tuhan.

 Menurut laporan media gabungan, Institut Zoologi Kunming dari Akademi Ilmu Pengetahuan Komunis Tiongkok, bekerja sama dengan beberapa tim peneliti, menanamkan gen pertumbuhan otak manusia MCPH1 ke dalam otak 11 monyet rhesus untuk mempelajari apakah dengan demikian monyet percobaan itu akan memiliki evolusi kecerdasan umat manusia atau tidak.

Pihak peneliti analisis pencitraan otak dengan resonansi magnetik nuklir menunjukkan bahwa monyet transgenik memiliki sel-sel saraf yang mirip dengan manusia dan fenomena keterlambatan kematangan jaringan saraf.

 Huai Haiying, wakil manajer perusahaan bioteknologi Amerika menyatakan kepada The Epoch Times bahwa komunis Tiongkok mengusung panji penelitian ilmu otak adalah demi menciptakan manfaat bagi manusia dan untuk perkembangan kebahagiaan manusia. Tapi dalam kenyataannya di dalam proses melakukan hal-hal itu tidaklah menaati aturan, dan demi mendapat keuntungan menghalalkan segara cara, “Tidak bermoral dan ini adalah pelanggaran hukum alam, yang pada akhirnya akan menuai murka dari Tuhan.”

Huai Haiying mengatakan, di Amerika Serikat, ada seperangkat norma untuk bereksperimen dengan tikus atau monyet sebagai hewan 1 tingkat lebih tinggi.

Menurut Haiying, pengalaman dan hikmah semacam ini yang berulang kali diraba-raba dan ditelusuri dalam masyarakat arus utama atau masyarakat beradab, aturan dan kode yang terbentuk dalam proses memajukan semuanya ditaati, hal-hal yang tidak manusiawi atau mengerikan adalah tidak boleh dilakukan, baik terhadap manusia ataupun terhadap hewan, tetapi aturan dan pelajaran ini tidak dipatuhi oleh komunis Tiongkok.

“Prilaku mereka berlawanan dengan masyarakat normal. Apa yang mereka sebut ilmuwan berani melakukan apapun, ingin bagaimana mengubahnya lantas mengubahnya, sama sekali tidak ada kode etik,” katanya.

 Tidak mematuhi aturan, melakukan pelanggaran standar moral

Dalam menyikapi percobaan ini, para ilmuwan di Amerika Serikat mengkritik bahwa hewan tidak dapat bertahan hidup setelah diubah memiliki kecerdasan manusia, Komunis Tiongkok telah melanggar standar ilmiah dan moral.

Ahli bioetika Universitas Colorado, Jacqueline Glover mengkritik dalam forum diskusi teknis di The Massachusetts Institute of Technology (MIT) bahwa humanisasi hewan akan menimbulkan bahaya. Dalam situasi apa pun, tidak seharusnya menciptakan tubuh hidup yang tidak mampu menikmati nilai kehidupan.

 Huai Haiying menyatakan, orang-orang yang beriman pada mengetahui bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu di alam semesta.

“Gen dan sebagainya diciptakan oleh Tuhan. Didalamnya terkandung hal yang teramat mendalam, orang yang tidak mengerti malah menganggap diri mereka sendiri sebagai Tuhan, tidak bisa dikendalikan, mencampur aduk spesies dengan sembarangan, dan merusak lingkungan, Tuhan tidak mengijinkan, bencana alam dan musibah buatan manusia sangat mudah untuk menghancurkan bumi,” katanya.  

“Peradaban prasejarah telah ada yang menciptakan dan mengubah spesies menjadi setengah manusia dan setengah binatang. Ketika mereka melintasi batas spesies, mereka menghancurkan diri sendiri dan menghancurkan umat manusia,” tambahnya.

 Pada KTT Internasional kedua tentang Pengeditan Genom pada bulan November tahun lalu, ilmuwan Komunis Tiongkok He Jiankui menciptakan bayi perempuan kembar pertama di dunia dengan perubahan permanen pada genom berkat teknologi pengeditan gen. Ia dikritik karena telah menentang standar etika internasional dan perilakunya sangat meresahkan.

Para ilmuwan di bawah ateisme, teori evolusi dan materialisme

Huai Haiying menyatakan, Komunis Tiongkok yang tidak tertib hukum berkaitan dengan materialisme semacam ini yang mereka yakini yang menganggap bahwa ateisme, teori evolusi dan biologi adalah teori mesin. Huai Haiying berkata, “Di Tiongkok, 99% dari yang disebut ilmuwan dan peneliti yang terlibat dalam eksperimen biologi percaya pada teori evolusi dan menggunakan teori evolusi sebagai dasar teoretis. mereka berpikir bahwa manusia berevolusi dari monyet, jadi di mana perbedaan antara gen manusia dan monyet, dimanakah perbedaan kecerdasan mentalnya, ditentukan oleh gen jenis apakah, dapat atau tidak mengubah beberapa gen untuk menciptakan seorang superman. Ini semuanya adalah penelitian dari mereka. “

 Ketika Uni Soviet mengeksplorasi bagaimana kera berkembang menjadi manusia melalui “rencana manusia kera”, para ilmuwan Soviet melakukan eksperimen hibrida manusia dan monyet di Guinea, Afrika.

“Mereka berpikir bahwa tenaga kerja yang dihasilkan akan patuh dan secara fisik kuat. Alhasil, percobaan itu gagal. Anak-anak yang dilahirkan memiliki kekebalan tubuh rendah, dan dapat terserang virus apa saja. Yang sejak awal tidak dapat diduga dan diprediksi ialah, eksperimen itu telah membawa virus. Variannya adalah AIDS masa kini, yang telah membawa kerusakan yang tidak dapat dipulihkan lagi oleh umat manusia,” tandas Huai Haiying.

Selain itu Huai menyatakan, percobaan ini memalukan dan hanya dapat dilakukan di negara komunis. “Hal sejahat ini telah dilakukan di negara komunis mantan Uni Soviet, di negara-negara komunis. Sekarang ini komunis Tiongkok akan melakukannya dengan lebih halus. Secara teori, itu sama saja. Itu sembrono, jika tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan lebih banyak efek samping dan lebih berbahaya.”

 Melibatkan etika, jurnal Barat menolak menerbitkan

Penelitian ini diterbitkan dalam Tinjauan Ilmiah Nasional Publikasi Ilmiah Edisi Bahasa Inggris pada bulan Maret lalu. Para peneliti melaporkan di majalah itu bahwa 6 monyet mati, tetapi ada 5 monyet yang selamat telah “menunjukkan ingatan jangka pendek yang lebih baik dan waktu respons yang lebih pendek.”

Tetapi percobaan ini lebih mencerminkan tentang moralitas dan kegelisahan batin. Media melaporkan bahwa Martin Steiner, seorang ilmuwan komputer dari University of North Carolina, salah satu kolaborator mengatakan kepada Tinjauan Teknis Massachusetts Institute of Technology bahwa ia mempertimbangkan untuk menghapus namanya dari makalah ini. “Makalah ini tidak bakal menemukan penerbit di dunia Barat,” pungkasnya.  (Hui/whs/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular