Erabaru.net. Pada pagi hari tanggal 25 April 1999, saat itu Pan Jun yang masih berusia 22 tahun naik bus dari universitas di Beijing, ia memiliki tiga permohonan untuk diajukan kepada pemerintah pusat Tiongkok: membebaskan 45 praktisi Falun Gong yang telah secara ilegal ditangkap di kota Tianjin; memungkinkan lingkungan untuk secara bebas mempraktikkan disiplin spiritual Falun Gong yang populer; dan mengizinkan penerbitan buku-buku Falun Gong di Tiongkok.

Pan Jun, seorang penduduk asli Beijing yang sedang kuliah di jurusan politik di perguruan tinggi, akan tiba di markas besar kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok di Zhongnanhai sekitar dua jam kemudian, untuk bergabung dengan orangtuanya dan sekitar 10.000 praktisi Falun Gong yang datang dari seluruh Tiongkok untuk menyampaikan permohonan yang sama.

Berdiri dalam kesunyian di sepanjang trotoar menuju markas besar kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok yang membentang lebih dari satu mil, para pemohon membuat demonstrasi skala besar pertama sejak protes pro-demokrasi Lapangan Tiananmen yang berakhir dengan pertumpahan darah satu dekade sebelumnya.

Pan Jun memegang spanduk pada acara konferensi di Flushing, New York City, pada tanggal 20 April  untuk memperingati peringatan 20 tahun aksi damai oleh praktisi Falun Gong di Beijing, Tiongkok. (Stefania Cox / The Epoch Times)

Sekitar jam 9 malam itu, semua praktisi Falun Gong dalam perjalanan pulang setelah Perdana Menteri Zhu Rongji menampung keprihatinan praktisi Falun Gong dan memerintahkan pembebasan para praktisi praktisi Falun Gong yang ditangkap. Kerumunan bubar dengan cara tenang sama seperti saat mereka datang, tidak meninggalkan jejak sampah atau sisa makanan.

Tetapi tiga bulan kemudian, terjadi tindakan keras yang menghancurkan harapan para praktisi Falun Gong untuk resolusi damai.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah disiplin spiritual yang terdiri dari latihan meditasi dan serangkaian ajaran yang berpusat pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Popularitas Falun Gong sangat luar biasa di Tiongkok pada awal 1990-an, di mana sekitar 70 juta hingga 100 juta orang berlatih pada akhir dekade tersebut, menurut perkiraan pemerintah Tiongkok yang dikutip oleh media Barat pada saat itu.

Popularitas Falun Gong yang sangat luar biasa ini dianggap sebagai ancaman oleh pemimpin Partai Komunis Tiongkok saat itu, Jiang Zemin, yang melarang latihan Falun Gong pada bulan Juli 1999. Kantor 610 – sebuah alat ekstra-legal, seperti alat Gestapo – didirikan untuk mengatur penganiayaan terhadap Falun Gong di semua tingkatan negara.

Warganegara seperti Pan Jun segera menemukan dirinya menjadi target penangkapan, penindasan, dan pelecehan oleh rezim Tiongkok yang bertekad memberantas praktik Falun Gong.

Menurut perkiraan oleh peneliti independen Ethan Gutmann, antara setengah juta dan 1 juta praktisi Falun Gong ditahan di berbagai fasilitas penahanan di seluruh Tiongkok pada waktu tertentu.

Hingga saat ini, 4.135 pengikut Falun Gong terbukti telah  meninggal dunia saat berada dalam tahanan polisi atau negara, menurut Minghui.org, situs web yang berbasis di Amerika Serikat yang berfungsi sebagai tempat klarifikasi mengenai penganiayaan. Jumlah aktual kematian kemungkinan akan jauh lebih tinggi, karena amat sangat sulit memperoleh dan membuktikan informasi yang sensitif di Tiongkok.

Dihukum karena Menjadi Manusia Yang Baik

Hanya dalam waktu semalam, nasib praktisi Falun Gong beralih dari warganegara biasa menjadi musuh publik yang difitnah.

“Saya kecewa. Saya telah menjadi patriot sepanjang hidup saya dan percaya bahwa petugas polisi mendukung dan melindungi rakyat,” kata Cao Suqin, berasal dari Provinsi Henan di Tiongkok bagian tengah dan kini tinggal di New York City, dalam sebuah wawancara dengan The Epoch Times.

Cao Suqin, seorang wanita praktisi Falun Gong dari Tiongkok di Flushing, New York, menjelang konferensi Falun Gong pada tanggal 20 April 2019. Cao Suqin, yang kini berusia 53 tahun, dijatuhi hukuman tiga tahun di kamp kerja paksa karena keyakinannya. (Stefania Cox / The Epoch Times)

Cao Suqin, yang saat itu berusia 33 tahun, berhenti dari pekerjaannya pada tahun 1999 setelah pejabat setempat terus-menerus menekan manajernya untuk memecatnya. Tahun berikutnya, 10 hari sebelum liburan Tahun Baru Imlek, ia dipisahkan dari dua anaknya yang berusia 7 tahun dan 9 tahun, dan dijatuhi hukuman tiga tahun di sebuah kamp kerja paksa di Henan, di mana ​​Cao Suqin dipaksa membuat rambut palsu dan harus memenuhi kuota harian yang mengharuskannya bekerja hingga 18 jam sehari.

Bertahun-tahun yang lalu, Cao Suqin tidak sanggup menceritakan pengalamannya di balik jeruji. Dengan berlinang air mata, ia menggambarkan penyiksaan pemukulan yang dideritanya yang dilakukan petugas di kamp kerja paksa tersebut: Para penjaga mengarahkan narapidana lain untuk memberikan semua jenis siksaan kepadanya, termasuk menusuk tangannya berulang kali dengan jarum sampai luka yang membengkak serta  menjepit payudara dan lututnya dengan tang.

Tian Yunhai, dari Provinsi Liaoning, timur laut Tiongkok dan kini juga tinggal di New York City, menggambarkan peristiwa setelah Juli 1999 sebagai sangat nyata.

“Sejak kecil, saya berperilaku baik dan tidak pernah menyakiti orang lain. Jadi penjara dan kejahatan tidak pernah terbayang dalam pikiran saya. Saya tidak pernah mengira bahwa untuk menjadi orang baik, saya akan menghabiskan 10 tahun lebih di balik jeruji besi,” kata Tian Yunhai.

Karena menolak untuk melepaskan keyakinannya, Tian Yunhai, ​​kini berusia 46 tahun, telah menghabiskan lebih dari 13 tahun masa mudanya di dalam dan di luar penjara dan kamp kerja paksa, di mana penyiksaan dan kerja paksa yang sangat melelahkan.

“Begitu anda tiba di sana, semua hak anda, baik itu kebebasan pribadi atau kebebasan berpikir, akan ditiadakan,” kata Tian Yunhai.

“Jadi, satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan adalah menerapkan siksaan fisik untuk memaksa anda tunduk secara mental.”

Pada hari-hari awal di sana, mendengar kresek dari tongkat listrik penjaga akan membuat Tian Yunhai membeku seketika, tetapi sengatan listrik menjadi hal biasa sehingga ia segera beradaptasi dengannya.

Tian Yunhai berkata bahwa suatu kali penjaga memborgolnya ke pemanas dan menanggalkan pakaian luarnya. Ketika ia terhubung ke pipa besi, tubuhnya membentuk sirkuit besar dengan pemanas. Ketika penjaga menyetrumnya, setiap inci tubuhnya kejang akibat arus listrik yang mengalir melalui dagingnya — selama 20 menit.

Praktisi Falun Gong Tian Yunhai di Flushing, Queens, pada tanggal 20 April 2019. (Mimi Nguyen-Ly / The Epoch Times)

Tian Yunhai ingat para penjaga itu tersenyum ketika mereka menyaksikan ia tersentak kesakitan. Mereka akan melanjutkan sesi penyiksaan seandainya keluarga Tian Yunhai tidak tiba untuk menjenguknya di penjara.

“Siksaan batin yang saya alami tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata,” kata Tian Yunhai.

Waspada terhadap pembalasan, Tian Yunhai tidak pernah memberitahu semua penderitaannya kepada keluarganya saat kumpul keluarga yang langka terjadi.

Pan Jun menceritakan dalam sebuah wawancara di New York City, tempat ia kini berada, bahwa dalam minggu-minggu setelah bulan Juli 1999, petugas keamanan berada di depan gedung apartemen keluarganya dan membuntuti orangtuanya ke mana pun mereka pergi, dari tempat kerja hingga ke supermarket.

Pada tahun 2002, Pan Jun dikirim ke pusat pencucian otak, tempat ia ditahan di sel isolasi seluas 75 kaki persegi, yang berisi satu tempat tidur dan satu toilet. Selama setengah tahun, penjaga hanya mengizinkannya tetap di satu posisi — duduk di tepi ranjang. Ia tidak diizinkan berbicara, berbaring, berdiri, atau berjalan. Ia juga tidak boleh mandi sepanjang waktu di sana.

Ketika Pan Jun dibebaskan, bahunya yang dulu lurus, kini menjadi terkulai, kakinya menjadi sangat lemah karena ototnya tidak aktif berkepanjangan, dan ia tidak mampu berbicara untuk sementara waktu.

Pan Jun kemudian dikirim ke hotel yang diubah menjadi fasilitas penahanan di Beijing. Kali ini, ia berhasil melarikan diri, tetapi ditangkap dan dijatuhi hukuman satu setengah tahun di sebuah kamp kerja paksa, juga di Beijing, atas tuduhan kejahatan “menumbangkan negara.” Di sana, ia duduk di kursi plastik selama 10 jam setiap hari untuk mengemasi DVD.

Awal yang Baru

Ketiga mantan tahanan ini kini menetap di Amerika Serikat sejak beberapa bulan yang lalu. Mereka mengatakan bahwa mereka merasa lega karena  tidak lagi hidup dalam ketakutan.

“Rasanya seperti di rumah sendiri. Tidak ada yang  mengganggu saya lagi,” kata Cao Suqin, menambahkan bahwa ia merasa lega menemukan komunitas Falun Gong di sini.

“Rasanya seperti kembali ke tahun 1999, di mana setiap orang dapat belajar, berbagi, dan berlatih Falun Gong bersama. Setiap praktisi merasa seperti saudara perempuan atau saudara laki-laki.”

Pan Jun berkata: “Amerika didirikan atas dasar kebebasan dan demokrasi. Ketika kaum Puritan datang ke sini dari Inggris, mereka juga mencari kebebasan untuk percaya kepada Tuhan.”

Pan Jun menambahkan bahwa dapat berpartisipasi dalam acara publik, seperti nyala lilin yang diadakan di luar konsulat Tiongkok di New York City pada tanggal 20 April untuk memperingati peringatan 20 tahun aksi damai di Zhongnanhai, membuatnya lebih menghargai kehidupan barunya.

“Saya benar-benar dapat melihat betapa kebebasan dihargai di sini,” kata Pan Jun.

Ketiga praktisi Falun Gong ini mengatakan kebebasan baru mereka di Amerika Serikat telah memberdayakan mereka untuk menyebarkan cerita mereka kepada khalayak yang lebih luas.

Tian Yunhai mendarat di New York City sekitar Tahun Baru Imlek. Sementara ia menghargai negara adopsinya, ia masih memikirkan nasib rekan praktisinya di Tiongkok.

Menjelang tahun baru, Tian Yunhai menulis dan mengirimkan kartu ucapan kepada para tahanan Falun Gong di berbagai fasilitas penahanan di Tiongkok untuk mendoakan mereka dalam keadaan baik.

“Andaikan kartu tersebut tidak lulus sensor  inspeksi keamanan untuk diserahkan kepada  praktisi Falun Gong, hal tersebut akan membuat para penjaga teringat pada praktisi yang dulu mereka tahan – mereka diawasi di luar negeri,” kata Tian Yunhai. (Eva Fu/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular